KOMPAS
Kamis, 22 November 2007

     

      "Dunia Rata" ala Indonesia 


      Henry Subiakto 

      Siapa sangka India, yang dulu dikenal sebagai negara yang mayoritas 
rakyatnya miskin dengan kondisi kota-kotanya yang kumuh serta diwarnai konflik 
sosial politik tinggi, kini membuat kagum banyak orang. 

      Bahkan muncul kekhawatiran di AS karena perkembangan penguasaan 
information and communication technology (ICT) luar biasa. Minimal itulah kesan 
dari buku The World Is Flat (2006) karya Thomas L Friedman, kolumnis Foreign 
Affairs The New York Times. 

      Menurut penyabet penghargaan Pulitzer 2002 kategori komentator itu, kini 
dunia sudah bersifat datar, yaitu mengglobal dan ber-platform jaringan internet 
sehingga berbagi aneka bentuk pengetahuan dan pekerjaan sudah tak terkendala 
oleh waktu, jarak, wilayah, dan bahasa. Dunia datar menyuguhkan aras palagan 
permainan (level playing field) yang kompetitif untuk negara industri dan 
negara berkembang (emerging market countries). 

      Dunia datar bersumbu pada kemajuan dan pemanfaatan ICT. Siapa pun, dari 
mana pun, dengan ICT dapat menjadi "pemain" utama di pasar kerja. Adanya 
internet, alur kerja memanfaatkan mesin, kemudahan kirim-unduh data, 
outsourcing, relokasi tempat produksi, hingga kemudahan mencari informasi 
melalui mesin pencari, dan tautan digitalisasi bergerak virtual mempribadi 
dicatat Friedman sebagai kekuatan pendatar dunia. 

      Semua perkembangan ini telah memunculkan fenomena luar biasa, saat semua 
kekuatan pendatar berkonvergensi dan berproses dengan sokongan model bisnis 
baru yang inovatif berbasis ICT membuat semua orang memiliki kesempatan yang 
sama menjual kemampuannya di pasar global. 

      Friedman menunjukkan kehebatan India. Betapa perusahaan di kawasan 
Bhavya, Bangalore, mampu menyediakan tenaga kerja untuk juru ketik, operator 
call center, akuntan, hingga pemrogram komputer di negara maju. Orang India 
bekerja untuk AS, tetapi tetap tinggal di India. Mereka bekerja sebagai bagian 
integral rantai bisnis perusahaan global, seperti Dell, American On Line (AOL), 
dan Microsoft. 

      Bersaing melalui ICT 

      Kini orang AS harus bersaing kerja dengan yang tinggal di AS dan insan 
brilian sejagat. Artinya, di sana ada pekerjaan yang mulai terancam tergusur 
oleh orang dari belahan dunia lain melalui mekanisme outsource, otomatisasi, 
atau digitalisasi. Profesi, seperti ahli bedah, radiologi, dokter gigi, 
ortodontis, pengacara, farmakolog, dan guru, termasuk kategori yang rentan 
tergusur tanpa bisa dicegah meski dengan larangan masuknya pekerja migran. 

      Dengan mengandalkan kualitas hasil kerja dan daya saing harga, serta 
memaksimalkan ICT, warga India mengambil alih pekerjaan warga AS. Misalnya, 
melalui webcam, guru India dengan harga jauh lebih murah dapat memberi les 
secara virtual kepada siswa yang tinggal di AS. 

      Tugas dokter radiologi di John Hopkins Hospital AS pada malam hari atau 
pada akhir pekan sudah di-outsource ke dokter-dokter India. Melalui 
teleradiology memungkinkan para dokter India mendapat gambar dari rumah sakit 
ke rumah mereka (bisa juga ke Vail atau Cape Cod). Gambar itu langsung dapat 
diinterpretasi sehingga tersedia layanan media secara prima 24 jam. Untung, 
ketika di AS malam, di India siang sehingga tidak ada ongkos lembur. 

      Para akuntan India di Bengalore, dengan kemampuan sama, bisa mengambil 
alih auditing dari akuntan AS di Washington atau New York. Kualitas hasilnya 
hampir sama, tetapi lebih murah. 

      Itu contoh bagaimana orang India dengan kemajuan ICT-nya mampu "merebut" 
pekerjaan profesi-profesi tertentu tanpa harus hadir secara fisik. 

      Ala Indonesia 

      Bagaimana dengan Indonesia? Kita memang masih tertinggal, baik dari sisi 
infrastruktur maupun SDM. Namun, tidak berarti kita diam saja. Setidaknya, 
upaya ke arah itu sudah ada. Salah satunya dilakukan Depkominfo dengan 
memperluas akses jaringan informasi dan komunikasi, dewasa ini tengah dibangun 
infrastruktur yang disebut Palapa Ring. Suatu jaringan serat fiber optik 
high-speed packet access (HSPA), yang dibangun sepanjang 11.000 km, 
diperkirakan selesai akhir 2008. 

      Palapa Ring merupakan jaringan penopang utama yang menghubungkan 
pulau-pulau dan kota-kota di Indonesia timur. Semacam jalan tol untuk lalu 
lintas informasi digital, yang dibangun atas dana partisipasi swasta murni dari 
para operator telepon. Palapa Ring akan terkoneksi dengan jaringan yang sudah 
ada di Indonesia bagian barat. Untuk jaringan ICT masuk ke desa, juga dibangun 
universal service obligation (USO) yang diperkirakan rampung tahun 2009. 

      Melalui infrastruktur itu diharapkan akan terjadi pertukaran informasi 
yang lebih masif dan mampu menumbuhkan berbagai aktivitas positif. 
Infrastruktur ICT dimaksudkan untuk mendorong warga Indonesia berpeluang lebih 
baik untuk memperoleh kualitas pendidikan (e-education). Misalnya, guru pintar 
yang enggan mengajar di daerah terpencil, dengan jaringan internet dilengkapi 
webcam, dapat berbagi ilmu ke masyarakat di sekolah pelosok kendati ia tetap 
berada di kota. 

      ICT juga dikembangkan untuk e-health, yaitu puskesmas-puskesmas 
dikoneksikan dengan rumah sakit, tenaga medis, atau dokter andal. Nantinya 
pasien dan tenaga medis dapat berkonsultasi jarak jauh dengan memanfaatkan 
perangkat teknologi komunikasi berbasis visual (3G), atau bahkan menggunakan 
teleradiology. 

      Dalam ekonomi, warga desa diharapkan dapat melakukan transaksi uang tanpa 
bertemu fisik atau melalui ATM yang jarang di daerah terpencil. Cukup dengan 
telepon seluler, siapa pun bisa bertransaksi melalui jaringan (e-money) yang 
dikemas seperti kode angka voucher pulsa dan bila menerima angka, dapat 
menukarkan dalam bentuk uang tunai melalui (misalnya) kantor pos di desa 
mereka. 

      Ini merupakan perkembangan ICT yang revolusioner. Diharapkan melalui 
Palapa Ring dan USO, keberadaan ICT di berbagai pelosok Indonesia akan menjadi 
determinan perubahan sosial, yang ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan. 

      Memang semua ini masih cita-cita, sekaligus optimisme. Untuk mewujudkan 
mimpi "dunia datar" ala Indonesia diperlukan keseriusan dan sinergi semua 
komponen. Kalau India bisa, orang Indonesia tentu juga bisa. Yang penting ada 
semangat, optimisme, dan berpikiran positif terhadap perubahan. Kita tak perlu 
gentar menghadapi dunia yang datar. 

      Henry Subiakto Dosen Program Pascasarjana Komunikasi Universitas 
Airlangga 


           
             
           
     

<<spacer.gif>>

Kirim email ke