Refleksi: Apakah ada partai politik "wong cilik" dalam percaturan politik di 
NKRI?  Pengertian "wong cilik" atau berpura-pura "pro wong cilik" ini umumnya 
dilakukan sebelum pemilu, sesudah pemilu hanya ada "wong gde". Jadi lain di 
bibir lain di hati.

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/11/22/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Ketika Partai "Wong Cilik" Menyapa Rakyat


"Informasi, Nawangwulan kena macet dikit tadi, tapi sekarang sudah lancar, 
ganti". Begitu salah satu komunikasi di antara para pengawal Ketua Umum DPP 
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dalam perjalanan "Silaturahmi 
Mbak Mega Bersama Rakyat" atau "Mbak Mega Menyapa Rakyat" di 19 kota di Pulau 
Jawa, selama lima hari. Perjalanan darat yang dimulai dari Jakarta, Minggu 
(18/11) menyusuri Pantura Jabar, Jateng dan Jatim selama tiga hari pertama. 

Nawangwulan adalah nama sandi di antara para pengawal untuk Megawati 
Soekarnoputri. Sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disebut Kresna. 

Nah, Nawangwulan kali ini tengah menyapa rakyat di Pulau Jawa. Melalui jalan 
darat, si Nawangwulan ternyata memiliki stamina tangguh saat usia menjelang 61 
tahun. 

Perjalanan memang melelahkan. Mungkin yang membuat lelah terobati adalah 
sambutan konstituen PDI-P yang luar biasa. Fanatisme pendukung PDI-P dan 
Megawati tidak bisa dinafikan. Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pandangan Wetan, 
Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. 

Semula Megawati dan rombongan berencana membatalkan kunjungan ke TPI tersebut 
mengingat waktu sudah sore dan jika harus berhenti akan membuat jalur Pantura 
macet total. Megawati dijadwalkan tiba pukul 14.45, tetapi mundur hingga pukul 
16.15. Sempat diputuskan untuk menyapa massa tanpa harus berhenti. Rupanya 
niatan itu membuat massa tidak terima. Mereka pun menghadang bus yang 
ditumpangi Megawati, bahkan membuat bus benar-benar tidak bergerak dengan 
terlentang di depan bus. 

Mega pun turun dan kemudian berpidato di TPI, selama sekitar 15 menit. Seperti 
biasa, sebelumnya Mega mendengarkan keluhan dan uneg-uneg konstituennya. 

Tidak seperti halnya perjalanan darat VIP presiden, wapres atau menteri, 
perjalanan ini boleh dibilang alamiah dan manusiawi. Maksudnya, ketika anggota 
rombongan ada yang "kebelet" pipis, rangkaian berhenti di stasiun pompa BBM 
terdekat. Walau bus yang ditumpangi Megawati terdapat toilet. Rupanya disadari 
betul, bus kedua yang berpenumpang wartawan, pengawal dan staf DPP PDI-P tidak 
bertoilet. 


Makan 

Soal istirahat makan siang, jangan dibayangkan akan berhenti di restoran mahal 
apalagi mewah. Hampir semuanya restoran biasa, namun dikenal enak dan 
terjangkau. Di Pantura Jabar, Megawati dan rombongan makan siang di Restoran 
Nikki, di Jatisari, Karawang, yang sehari-hari dikenal sebagai restoran sopir 
truk. Mega dan rombongan inti pun tidak ditempatkan terpisah atau eksklusif, 
tetapi berbaur dengan yang lain. 

Yang kadang-kadang membuat risih adalah, banyak masyarakat sekitar "menonton" 
Megawati bersantap. Bayangkan saja, anda makan ditonton orang banyak. Di Blora, 
apalagi, Megawati dijadwalkan makan siang di sekitar Alun-alun. Yang terbayang 
adalah restoran Gajah yang dikenal sebagai restoran besar di kota Sate dan 
Lontong Tahu itu. 

Rupanya, Mega makan di Koplakan, yakni warung di terminal lama yang dikenal 
sebagai tempat jajanan rakyat. 

Megawati sendiri menikmati betul perjalanannya kali ini. Menurut Tjahjo Kumolo, 
Ketua Fraksi PDI-P di DPR, hampir semua rumah makan yang disinggahi Megawati 
adalah rumah makan yang sejak dulu jadi langganan. "Ketika masih bernama PDI 
dan kami dimusuhi rezim yang berkuasa, sampai sekarang, Bu Mega ingin 
bernostalgia juga," kata Tjahjo. 

Megawati tidak mau perjalanannya ini direkayasa. Tidak mengherankan di hampir 
setiap pertemuan suasana spontan benar-benar terasa. Sejumlah persoalan berat 
yang "terbaca", yakni harga BBM yang tinggi dan kelangkaan minyak tanah, 
sementara gas elpiji sulit di dapat dan lebih mahal. Kedua, beras impor yang 
lebih murah jelang panen. Ditambah lagi harga pupuk dan obat-obatan yang terus 
naik. Ketiga, kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat. [SP/YW Nugroho] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 22/11/07 

Kirim email ke