http://www.suarapembaruan.com/News/2007/11/22/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Senyum Manis Pertamina yang Menyakitkan
 

Oleh Mohammad Latief S 



Senyum itu adalah sesuatu yang simpatik dan universal. Semua suku, bangsa, 
agama menganggap senyuman adalah sesuatu yang baik, bahkan dianggap sebagai 
bentuk dari ibadah. Dengan pendekatan senyum ini, maka kita (Pertamina) ingin 
menjadi perusahaan yang ramah, tidak arogan, dan menebarkan nilai-nilai 
kebaikan bagi masyarakat kita. 


Kalimat itu tertulis dalam pengantar redaksi Corporate Website PT Pertamina, 
Edisi 32/Tahun XLIII, 5 November 2007. Pernyataan itu sebagai penjelasan 
sekaligus argumen di balik kampanye senyum yang dilancarkan Pertamina menjelang 
ulang tahunnya yang ke-50. Salah satu perusahaan terbesar di republik ini ingin 
mengimplementasikan kampanye senyum secara besar-besaran. Kalimat "sudahkah 
anda tersenyum hari ini?" tertulis di berbagai sudut gedung Pertamina pusat. 
Sebuah giant banner di lobi gedung itu menampilkan Direktur Utama Pertamina Ari 
H Soemarno dan artis Dian Sastrowardoyo sedang menebar senyum, menjadi penguat 
keseriusan kampanye senyum Pertamina. 

Kampanye senyum juga dipasang di televisi. Dengan cara ini Pertamina ingin 
mengepung masyarakat dengan senyumannya. "Mari berbagi senyum untuk mengawali 
perubahan," demikian ajakan Ari H Soemarno dalam iklan itu. Pertanyaannya, 
apakah "senyum manis" Pertamina itu berbalas "senyum tulus" masyarakat? 
Pasalnya, budaya bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia, juga mengenal 
senyum sinis, senyum pahit, dan senyum yang menyakitkan, yang merupakan sisi 
lain dari senyum ramah dan menebarkan nilai-nilai kebaikan. 

Perlu juga dipertanyakan, apakah konsep kampanye senyum Pertamina itu berakar 
dari kajian mendalam mengenai prinsip-prinsip komunikasi, baik dari kandungan 
maupun strategi implementasinya? Apakah tebaran senyum itu sanggup mengubah 
citra Pertamina yang terlanjur negatif dalam ingatan kolektif masyarakat 
Indonesia? 

Senyum adalah bahasa tubuh, sebuah isyarat, seperti halnya sebuah kata atau 
pesan dalam proses komunikasi. Kesan komunikan (penerima pesan) tidak selalu 
sama dengan keinginan si komunikator (pemberi pesan), selain pesan kata-apalagi 
isyarat-bisa bermakna ganda, masih ada faktor determinan lain yang menentukan 
proses pembentukan kesan, yakni strata sosial dan situasi yang melingkungi 
peristiwa komunikasi. Misalnya, dalam sebuah resepsi pernikahan, menebarkan 
senyum manis kepada mempelai adalah tepat. Namun senyum yang sama ditebarkan 
pada saat mengunjungi orang sakit atau mereka yang terkena musibah dan 
kesusahan sangat tidak patut. Sekarang Pertamina sedang menebar senyum, berbagi 
senyum kepada masyarakat Indonesia. Apakah pesan senyum ini akan memberikan 
kesan manis bagi komunikan (masyarakat Indonesia), sangat tergantung pada 
situasi yang melingkupi proses pemberian pesan senyum dan kondisi kejiwaan 
masyarakat Indonesia. 


Ingatan Kolektif 

Dua tahun lalu, pertengahan Desember 2005, bertepatan dengan ulang tahunnya 
yang ke-48, Pertamina meluncurkan logo baru yang memakan biaya Rp 2,5 miliar. 
Terdokumentasi dengan baik dalam pemberitaan media massa, pengeluaran sebesar 
itu dianggap pemborosan uang negara, tindakan konsumtif, ketika banyak rakyat 
Indonesia yang hidup dalam kemiskinan. 

Tadinya, sangat mungkin, Pertamina ingin memberi kesan-lewat pesan di balik 
perubahan logo-bahwa salah satu perusahaan terbesar milik negara ini telah 
berubah, menjadi perusahaan yang lebih baik dibandingkan masa lalunya. Pesan 
perubahan logo ternyata tidak sampai. Yang menjadi ingatan dan kesan kolektif 
hingga sekarang adalah Pertamina yang boros, bukan Pertamina yang telah 
berubah. 

Itu belum seberapa. Dua setengah bulan sebelum peluncuran logo baru, Oktober 
2005, terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) rata-rata 30 persen. 
Presiden mengaku kenaikan harga, akibat dikuranginya subsidi pemerintah itu, 
sebagai keputusan pahit. Masyarakat miskin merasakannya lebih pahit lagi. Ini 
diperlihatkan dengan maraknya demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. 

Alat pembenaran yang digunakan pemerintah saat itu antara lain: Pertama, 
pemerintah harus melepaskan beban subsidi BBM demi menyehatkan APBN. Kedua, 
harga minyak di pasaran dunia mengalami kenaikan. Ketiga, ada dana kompensasi 
dari penarikan subsidi yang akan diberikan langsung kepada masyarakat miskin. 

Masih di tahun yang sama, Maret 2005, harga BBM mengalami kenaikan rata-rata 29 
persen, juga disebabkan oleh penarikan subsidi pemerintah. Argumentasi yang 
dikemukakan relatif sama. Argumentasi itu tidak sepenuhnya tepat. Harga minyak 
dunia naik sebenarnya meningkatkan pendapatan negara dari sektor migas hingga 
40 persen saat itu. Tidak benar juga subsidi BBM memberati APBN. Di luar 
belanja rutin (gaji pegawai, pembelian barang dan belanja pembangunan), 
pengeluaran terbesar pemerintah ditempati oleh pembayaran utang negara. Belanja 
pembangunan berturut-turut selama tiga tahun (2004-2006) adalah Rp 71,9 
triliun, Rp 49,6 triliun, dan Rp 45,0 triliun. Sementara pada tahun yang sama, 
untuk membayar utang Rp 108,7 triliun, Rp 93,9 triliun, dan Rp 118,5 triliun. 
Soal penyaluran dana kompensasi menjadi bahan kecurigaan masyarakat karena 
keterlibatan birokrasi pemerintah dalam penyalurannya. 

Ada satu fakta yang belum banyak terungkap di seputar kenaikan BBM yang terjadi 
dua kali selama tahun 2005. Fakta ini bisa jadi akan menambah kekecewaan dan 
sakit hati masyarakat. Fakta bahwa argumentasi itu hanyalah selimut yang 
menutupi kepentingan World Trade Organization (WTO), yang mengharuskan 
Pertamina melakukan penyesuaian harga agar "pemain asing" di sektor perdagangan 
sejenis (BBM) bisa masuk dengan harga yang kompetitif. 

Buktinya, lihatlah SPBU tumbuh bak jamur di musim hujan, terutama di Jakarta 
dan sekitarnya. Semua ini berkat UU No 22/2001 yang mencabut monopoli Pertamina 
atas bisnis migas di tingkat konsumen. Itu sebabnya, bisnis pompa bensin yang 
dulu digenggam erat Pertamina harus dibagi dengan pemain asing. 

Pompa bensin milik Shell dan Petronas kini tidak asing lagi di mata masyarakat. 
Mereka bisa bersaing di pasar domestik setelah subsidi pemerintah dicabut dan 
harga BBM yang disalurkan Pertamina mengalami kenaikan. Efek lanjutan kini 
terbuka. Status kepemilikan SPBU Pertamina sangat rentan berpindah tangan. 
Pasalnya, saham Pertamina di SPBU itu hanya 15 persen, 85 persen lagi dimiliki 
swasta. Apa yang akan terjadi jika swasta itu lebih tertarik membangun 
franchise penyaluran BBM dengan pemain asing? Habislah Pertamina. Bagaimana 
mungkin bisa menjadi back bond perekonomian Indonesia? Apalagi jika disebutkan 
fakta, setelah tiga tahun merambah pasar Jakarta dan sekitarnya, SPBU asing 
sudah menggenggam 30 persen pasar bahan bakar khusus. 

Bertubi-tubinya kekecewaan masyarakat Indonesia akhirnya dilengkapi dengan 
gagalnya Pertamina melakukan konversi minyak tanah ke gas. Bukan target 
konversi sampai 6 juta kompor gas yang diingini masyarakat, melainkan 
terpenuhinya kebutuhan BBM untuk rumah tangga. 

Pertamina terlalu terburu-buru mengurangi suplai minyak tanah, sementara 
ketersediaan kompor gas belum memadai. Sampai September 2007, realisasi 
konversi baru 1 juta tabung dari target 6 juta tabung gas. Muncul pemandangan 
yang memilukan. Antrian warga untuk mendapatkan minyak tanah sangat mengiris 
hati. Ini mengingatkan kita pada resesi tahun 1960-an di Indonesia. 

Dalam situasi yang penuh kekecewaan itu, menjelang ulang tahunnya yang ke-50, 
Pertamina malah menebar senyum ke mana-mana. Jangan terlalu berharap akan 
mendapatkan balasan senyum yang tulus dari masyarakat. Hati masyarakat sudah 
terlalu kecewa. Kalaupun dipaksa harus tersenyum, yang akan tersungging adalah 
senyum sinis yang terasa pahit. Terlebih lagi kalau masyarakat mengetahui bahwa 
penyelenggaran malam HUT 50 Pertamina, yang konon menghabiskan biaya Rp15 
miliar untuk semalam saja. Akan semakin terpatri saja persepsi masyarakat akan 
Pertamina sebagai perusahaan unggulan Indonesia yang boros menghamburkan uang 
negara atas nama proyek. 


Penulis adalah Wartawan Senior, Tinggal di Jakarta 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 21/11/07 

<<22ilustr.gif>>

Kirim email ke