TEMPO

Nasionalisme Gosong Kaum Muda Papa
Rabu, 21 November 2007 

Sahabat saya, Yuddy Chrisnandi, menulis artikel membuncah dengan judul 
"Rekonstruksi Nasionalisme Kaum Muda" (Koran Tempo, 16 November 2007). Saya 
terperangah dengan serangan Yuddy: "... kaum muda... ditengarai mengalami 
krisis nasionalisme. Terjadi pergeseran orientasi nilai kaum muda. Kaum muda 
sudah kurang menghayati nilai-nilai kepahlawanan." Ukuran yang dipakai adalah 
peringatan 10 November. Begitu pula perulangan pesan tentang kedaulatan harkat 
dan martabat bangsa Indonesia ketika berhadapan dengan bangsa lain.

Bagi saya, nasionalisme seperti itu sudah gosong. Ia hangus oleh ulah kaum tua 
sendiri yang di satu sisi bicara tentang nasionalisme, tapi di sisi lain 
melakukan korupsi dan menindas hak-hak asasi manusia Indonesia. Nasionalisme 
sudah kehilangan harkat dan martabat, ketika hutan-hutan hancur, pedagang kaki 
lima digebuki, lalu anak-anak miskin penuh luka berjejal-jejal di jalanan 
memunguti sampah. Sejak awal 1970-an, nasionalisme menjadi ada dan tiada ketika 
semakin banyak penguasaan kaum kapitalis atas hajat hidup orang banyak di 
Indonesia.

Berharap kaum muda untuk mengingat Hari Pahlawan, sama saja dengan bermimpi 
bahwa anak-anak muda kini mampu menggerakkan revolusi. Tidak ada pahlawan tanpa 
revolusi. Yang sekarang menonjol adalah jalan pintas untuk mendapatkan apa pun, 
kalau perlu dengan menundukkan diri dan nyali, sembari memanjangkan ujung 
lidah. Berfoya-foya dengan kekuasaan menjadi pemandangan paling telanjang atas 
situasi hari ini. Dan itu dilakukan oleh para tetua dan kolaboratornya di 
kalangan anak-anak muda juga. Hidup jelas tidak harus dijalani dengan cara 
susah payah.

Maka, hanya menunjuk anak-anak muda sebagai sumber kekisruhan krisis 
nasionalisme, sama saja dengan mengatakan ada buah tanpa pohon. Buah yang busuk 
justru berasal dari pohon yang berulat. Terkikisnya nasionalisme kaum muda 
adalah limbah dari keringnya nasionalisme kalangan tua. Pragmatisme dan 
oportunisme kaum tua justru menjadi belatung yang merusak sendi-sendi idealisme 
kaum muda. Dalam zaman yang serba uang ini, anak-anak muda hanya hadir sebagai 
akibat, tapi bukan penyebab.

Dalam diskusi yang digelar oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia, di hadapan 37 
uskup, saya ditanya soal bagaimana anak-anak muda sekarang. Saya menjawab, 
"Kami masih sanggup memperbaiki negeri ini." Yang saya sampaikan adalah 
perubahan satu generasi, bukan menempel-nempelkan anak-anak usia muda dalam 
generasi yang sudah rusak. Untuk memperbaiki negeri ini, dibutuhkan waktu 20 
tahun lagi. Kalau diukur dari 1998, perubahan baru akan datang pada 2018.

Bagaimana melakukan perubahan itu? Tentu dengan menyebarkan sebanyak mungkin 
anak muda di pelbagai sektor, baik politik, ekonomi, birokrasi, dunia usaha, 
tentara, polisi, maupun jaksa. Anak-anak muda seperti itulah yang telah 
mengubah Jerman, 20 tahun setelah gerakan mahasiswa 1968 (dikenal sebagai 
68er-Bewegung). Jerman tidak langsung berubah sepuluh tahun setelah itu, tapi 
perlahan membaik kemudian. Sistem politik dan pemerintah yang telanjur 
dikangkangi oleh kepentingan rezim otoriter hanya bisa dihegemoni setelah 
semakin banyak orang masuk ke dalamnya.

Sekarang, bagaimana Anda bisa melakukan perubahan kalau satu orang direktorat 
jenderal di satu departemen begitu alergi dengan anak-anak muda? Begitu juga 
dengan internal masing-masing partai politik, ketika lebih banyak orang tua 
yang menempatkan keluarganya menjadi bagian dari pelanjut tradisi keluarga atas 
nama jasa pendirian partai politik itu. Akibatnya, anak-anak mudalah yang ingin 
berkiprah mendapatkan diri sebagai kelompok yang miskin papa, kalau tidak 
diberikan imbalan atau perlindungan dari keluarga-keluarga yang menguasai 
partai politik itu.

Maka sebuah manifesto juga tidaklah cukup, kalau tidak disertai dengan 
inventarisasi nama-nama anak muda yang nanti menggerakkan manifesto itu. Dan 
anak-anak muda seperti itu jelas tidak ada di Jakarta, satu pun, dari kelompok 
mana pun, entah merasa independen entah dependen dengan kelompok lain. 
Anak-anak muda yang menggerakkan manifesto itu barangkali bertempat tinggal di 
daerah-daerah terpencil, atau sedang menekuni pekerjaan sebagai pencuci piring 
di warung-warung makan di sebuah kota kecil negara lain, atau menjadi kelasi 
sebuah kapal angkutan barang.

Nasionalisme abad ini tidak bisa ditarik mundur ke bentangan abad lalu. 
Nasionalisme juga bukan lagi produk zaman ini. Ia hanya mewakili kepurbaan. 
Makna kepahlawanan juga makin digugat ketika cacat historis kian tersingkap, 
sebagaimana tuduhan atas Tuanku Imam Bonjol. Tantangan-tantangan keindonesiaan 
tidak terletak pada masa lalu, tapi menghunjam dari masa depan, dengan 
kecepatan kinetik.

Tapi tantangan itu selalu datang dari satu sumber, yakni ilmu pengetahuan, 
dengan teknologi sebagai variasi. Maka, ketika anak-anak muda lebih banyak 
berbicara tentang kekuasaan ketimbang mendiskusikan ilmu pengetahuan adalah 
bagian dari proses destruksi dari idealisme anak-anak muda sendiri. Sebab, 
bicara tentang kekuasaan hari ini tidak berbeda jauh dengan kontes menyanyi dan 
menari, yakni bergantung pada perolehan SMS yang Anda terima. Kekuasaan hari 
ini adalah kekuasaan yang menjauh dari ilmu pengetahuan sehingga menjadi sangat 
anti-intelektual.

Dengan ilmu pengetahuan, nasionalisme jelas akan terkapar jatuh. Doktrin 
sejarah Indonesia yang mengatakan bahwa pembebasan atas kolonialisme datang 
dari nasionalisme adalah omong kosong. Tidak ada itu bambu runcing bisa menang 
menghadapi meriam. Perlawanan atas nasionalisme pertama dan utama sekali datang 
dari penguasaan atas ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuanlah yang meruntuhkan 
kolonialisme, sebagaimana juga meruntuhkan kehendak hegemonis Orde Baru.

Kaum inteligensia tentu mendapatkan tempat, baik didikan Barat maupun bukan. 
Dari sini sebetulnya diskusi tentang nasionalisme baru dan Indonesia baru harus 
dimulai, yakni seberapa rakus bangsa ini terhadap ilmu pengetahuan, bukan 
seberapa megah sebuah gedung harus dibangun. Lagi-lagi persoalan menjadi 
klasik: seberapa besar sebuah perpustakaan dibuat di daerah-daerah ketimbang 
tempat hiburan, sarana belanja, atau gedung parlemennya. Kekuasaan yang 
terkejam sekalipun akan mudah dihadapi apabila semua warga negara memiliki ilmu 
pengetahuan yang cukup dan memadai. Ketakutan terbesar saya bukanlah kepada 
anak-anak muda yang miskin harta, tapi lebih kepada anak-anak muda yang papa 
ilmu pengetahuan. Saya kira Yuddy juga setuju.

Indra J. Piliang
ANALIS POLITIK DAN PERUBAHAN SOSIAL CENTER FOR STRATEGIC AND INTERNATIONAL 
STUDIES, JAKART

Kirim email ke