Didalam perhitungan kebutuhan bahan cereal - UN memakai perhitungan 
100kg/pers/year
  Jikalau Indonesia dapat produksi beras sebanyak ini maka tidak perlu import 
lagi  Didalam perhitungan yg dipakai 100 kg adalah rata2 untuk penduduk suatu 
negara antara 0-65  Jikalau penduduk susunannya berlainan perhitungan juga 
berlainan [berkurang sedikit.]
  Andreas

Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            refleksi: Wapres J Kalla [Jawa Pos 21/11/2007] menyatakan bahwa 
tahun 2008, Indonesia tidak akan mengimpor beras. Apakah pernyataannya itu 
adalah sepuhan lidah untuk memenangkan pemilu yang akan datang?
   
   RIAU POS
   
            Pertanian Kita dalam Kemelut 
   
   
                   22 Nopember 2007 Pukul 10:53 
    SEBAGAI negara agraris Indonesia haruslah menonjolkan pertanian sebagai 
sektor yang 
menyumbangkan pendapatan domestik bruto yang melebihi dari sektor lain. Namun 
kenyataan setelah 60 tahun lebih Indonesia merdeka sektor ini masih belum 
signifikan menjadi andalan untuk penghasilkan devisa, bahkan kadang-kadang 
masih menjadi beban negara. Indonesia pernah tercatat dalam sejarah negara yang 
bangkit dari pengimpor beras terbesar di dunia menjadi negara swasembada di era 
Soeharto, yang berhasil mencukupi pangan dalam negeri.   
Namun keberhasilan itu bak gelombang tsunami saja, begitu dahsyat pada awalnya 
sehingga menjadi perhatian dunia international bahwa Indonesia telah berhasil 
mengatasi kelaparan dalam waktu yang singkat, namun dalam waktu yang, relatif 
singkat pula, keberhasilan itu ditelan lautan dan hilang tanpa kemampuan untuk 
muncul kedua kalinya, hari ini tinggal catatan sejarah prestasi yang pernah 
diraih.

Kasus Riau
Di daerah Riau usaha perkebunan terutama dua puluh terakhir ini menunjukkan 
perkembangan yang luar biasa pada luas areal kebun. Pengolahan bahan bakunya 
ada peningkatan berarti dengan dibukanya pabrik-pabrik baru pengolahan tandan 
buah segar (TBS) menjadi CPO. Namun pada sisi lain, akibat intensifnya 
pembukaan kebun menjadi masalah pada lingkungan karena luasnya hutan yang 
dikonversi menjadi lahan perkebunan yang monokultur. 

Kita memang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berisiko, satu sisi bila 
hutan dikonversi menjadi lahan perkebunan akan timbul masalah lingkungan 
seperti hilangnya fungsi buffer dan meningkatnya polusi, kekeringan dan banjir 
di musim hujan serta menimbulkan masalah hukum seperti illegal logging dan 
lain-lain. 

Yang lebih parah lagi hilangnya kekayaan fauna dan flora yang memiliki nilai 
genetik resources dan kekayaan alam. Namun sebaliknya hutan saja tanpa 
dikonversi juga tidak dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat karena terbatas 
dalam pengelolaannya yang dapat menghasilkan devisa negara. Malangnya negara 
kita sudahlah hutannya habis, lingkungan tercemar, masyarakatnya semakin 
sengsara. Yang beruntung adalah pengusaha nakal dan pejabat koruptor. 
Pembangunan pertanian dan kehutanan yang terpadu dan berkelanjutan agaknya 
perlu lagi kita adopsi.

Kemunduran pada sektor pertanian telah berdampak hampir diseluruh sendi 
kehidupan masyarakat Indonesia. Budaya kita memandang pertanian itu selalu 
berada posisi lemah. Buktinya kita tidak rela bila harga produksi pertanian 
naik seperti harga beras dan bahan-bahan pangan lainnya. Masyarakat kita selalu 
menangggapi dengan sinis dan kadang-kadang dijadikan parameter menurunnya 
tingkat kemakmuran rakyat, karena biaya hidup bertambah sedangkan pendapatan 
cenderung tetap.    

Kalaulah harga produksi pertanian tidak pernah meningkat, kapan petani kita 
akan bangkit dan mandiri, karena produksinya tidak bisa mencukupi kebutuhan dan 
tidak menguntungkan. Sehingga hanyak petani yang frustasi dan beralih profesi 
ke sektor lain, seperti sektor jasa. 

Hal ini diindikasikan salah satunya oleh berkurangnya jumlah luas lahan tanaman 
pangan setiap tahun, dan luasnya lahan yang menjadi lahan tidur serta besarnya 
angka pengalihan profesi petani menjadi penjual jasa dan sektor lainnya. Lebih 
parah lagi tingginya angka urbanisasi yang umumnya petani pindah dari desa ke 
kota. 

Kalaulah sektor riI seperti pertanian ini tidak lagi diminati oleh masyarakat, 
maka dalam era globalisasi ini kesempatan yang terbuka oleh pertanian dalam 
negeri sudah pasti diisi oleh negara lain. 

Wajar saja impor beras kita dari tahun ke tahun terus meningkat dan produksi 
pertanian di negara Asia maupun negara maju terus mengalir ke Indonesia seperti 
aliran sungai saat banjir. Pasar buah-buahan yang dulunya lebih 90 persen diisi 
oleh buah-buahan tropika asal dalam negeri sekarang pasar buah-buahan tropika 
itu telah dibanjiri oleh buah-buahan impor dari negara tetangga yang sama-sama 
beriklim tropis, seperti Thailand dan Cina.

Globalisasi Mungkin Bencana
Bila kondisi seperti ini terlambat diantisipasi maka, produksi pertanian 
Indonesia bisa saja hanya akan mengisi herbarium pada  museum pertanian di mana 
isinya adalah tanaman yang pernah diproduksi di Indonesia, tetapi saat ini 
telah punah. Pasar dalam negeri yang, cukup besar menjanjikan kesejahteraan 
petani bila pasar itu dimenej dengan baik dengan birokrasi yang bersih. Kita 
tidaklah terlalu bersikukuh untuk mengisi peluang ekspor, karena pasar dalam 
negeri kita saja lebih banyak dimanfaatkan oleh negara tetangga dan negara maju 
dari Barat sana.

Keperluan beras kta saat ini sebahagian diisi oleh negera tetangga Asia 
buah-buahan apa lagi, sedangkan buah-buahan produksi dalam negeri hanya laku 
dan dikonsumsi oleh kelas bawah. Kelas menengah ke atas lebih tertarik membeli 
buah di Mal dan pasar swalayan yang harganya retatif lebih mahal dan pasarnya 
lebih menjanjikan. Kita ikut “menzalimi” petani kita sendiri, pemerintah 
seakan-akan tidak peduli dengan kondisi ini. Wajar saja sebagian ahli pertanian 
kita menilai globalisasi ini bukanlah kesempatan untuk maju dan bersaing, 
tetapi adalah awal bencana yang akan merenggut banyak mangsa dikemudian hari. 
Penguasa lebih tertarik mendiskusikan masalah politik dan tidak bergairah untuk 
membicarakan serta mengantisipasi peningkatan yang akan  menggairahkan sektor 
pertanian. 

Terlepas dari masalah suka atau tidak suka, Soeharto tidak pernah memperoleh 
gelar sarjana pertanian, tetapi nalurinya sangat peka untuk membantu petani. 
Agaknya kita masih perlu kita belajar pada beliau. Pertanian pernah jaya saat 
beliau memimpin negara agraris ini, dan setelah itu pudar bagaikan 1ampu 
kehabisan minyak setelah orde reformasi yang kita agung-agungkan ini muncul dan 
mengisi kehidupan kita di alam demokrasi dan politik negara yang kita anggap 
telah berkembang.

Saat ini demokrasi Indonesia dinilai Amerika Serikat telah maju dibandingan 
negara Asia lainnya, tetapi sayangnya demokrasi itu bagi petani tidak berarti 
apa-apa bila mereka tetap termarginalkan. Bila suatu negara mendahulukan 
demokrasi berarti perekonomian akan tertekan dan terlambat bangun, namun  bila 
perekonomian yang mendapat perhatian lebih dari negara, maka hak demokrasi 
sedikit tersendat, tetapi kemakmuran akan dirasakan oleh banyak orang. 
Sebaliknya bila hak demokrasi yang kita tonjolkan kita harus rela mengorbankan 
kesejahteraan kita. Sayangnya saat ini yang berkesempatan untuk memperbaiki 
kehidupan hanya dinikmati oleh segelintir elit saja. Bila kemajuan perekonomian 
yang dicapai pastilah kemakmuran dirasakan banyak orang yang umumnya kelas 
menengah ke bawah.

 Lalu langkah apa yang dilakukan? Menurut saya pilihlah langkah yang membantu 
dan dapat dinikimati oleh banyak orang. Dunia pertanian memang luas dan tanpa 
ada batas wilayah yang jelas dan bahkan samar-samar dan lebih kabur lagi bila 
dihubungkan dengan dunia politik yang sekarang sedang berjalan di Indonesia. ***

Prof Dr Ir Hasan Basri Jumin 
MSi MSc, Rektor Universitas 
Islam Riau (UIR). 

   
  

                         

Kirim email ke