SUARA MERDEKA
Jumat, 23 Nopember 2007

Jual Diri
  a.. Oleh Sri Mulyadi 
HARI ini Sarimi (33 tahun) dan keluarga makan nasi aking. Harga beras mereka 
rasakan mahal. Sementara suaminya Saroni (35 tahun) tak lagi bekerja. Selama 
ini nasi aking hanya dimakan bebek. Saroni tak sendirian, walau semua tak makan 
nasi aking. 49% penduduk Indonesia dalam kondisi miskin (data Bank Dunia 2006).

Kalimat tersebut merupakan iklan di sebuah media cetak nasional. Di bawah 
kalimat tersebut tertulis: Saya, Wiranto, mengajak Anda bergabung dalam gerakan 
moral. Bersatu sejahterakan rakyat. Ciptakan 10 juta lapangan kerja. Tingkatkan 
pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Tumbuhkan ekonomi melalui 
pemerintahan yang kuat dan tegas.

Siapa pun yang membaca tentu bebas mencerna dan menginterprestasikan kalimat 
tersebut. Komentar di internet pun bermunculan. Ada yang mengatakan, 
mengiklankan diri sendiri sekarang ini bukan hal yang tabu. Apalagi hajatan 
Pilpres 2009 tak lama lagi. Memperkenalkan diri pada publik dan menciptakan 
citra adalah hal yang mutlak dilakukan.

Ada juga yang komentar: Terlalu banyak calon bingung milihnya, mana yang gak 
bakalan buat terlalu makan ati. Aku juga bingung karena terlalu banyak pilihan 
(tapi nggak ada yang layak pilih). Kayanya ... aku golput aja deh ..., tapi 
liat aja entar ... siapa tahu Tuhan tiba2 kasih kita calon alternatif buat 
bangsa ini.

Meskipun Wiranto tidak secara tegas mencantumkan jati dirinya, tetapi nampaknya 
pembaca sudah mengetahui arah iklan tersebut. Yakni, posisi dia dalam 
kapasitasnya sebagai calon presiden pada 2009. Iklan tersebut dalam kaitan 
menarik simpati kontituen.

* * * 

Wiranto memang tak sendirian. Dalam Pilkada di Kalbar 15 November lalu, empat 
kandidat juga ''menjual'' isu kemiskinan. Di daerah lain pun, fenomena menjual 
diri dan kemiskinan dengan sasaran konsumen orang miskin, juga terjadi. 
Terutama berkaitan maraknya pemilihan kepala daerah, dan men-jelang pemilihan 
presiden di tahun 2009. 

Tokoh (baik yang mengaku maupun memang ditokohkan) di tingkat kota/kabupaten, 
provinsi, maupun pusat, berlomba unjuk muka menjual diri. Mereka berpacu saling 
menonjolkan diri. Menebar citra dan anggapan bahwa dirinyalah yang serba ter. 
Termampu, tercocok, terbaik, terlayak, dan ter-ter yang lain yang berkonotasi 
positif. Istilah lainnya rumangsa bisa (merasa bisa).

Segala cara ditempuh. Mulai menebar janji sampai mengobral uang. Etis dan tidak 
etis bukan dianggap masalah. Yang penting jualannya laku, feedback atau respon 
dari konsumen, dalam hal ini rakyat, positif untuk dirinya. Jika ada sebagian 
orang yang mencemooh, juga dianggap angin lalu. Baginya yang terpenting pada 
akhirnya dia ''dibeli''.

Pada saat menjual diri dalam kaitan meraih simpati, dagangan yang akhir-akhir 
ini juga dianggap layak dijual adalah kemiskinan. Hampir semua calon kepala 
daerah maupun kepala negara, hari-harinya diisi kegiatan mengobjekkan orang 
miskin. 

Kemiskinan bukannya disikapi sebagai persoalan bersolusi tebar bukti dan 
tindakan nyata, tetapi masih diwacanakan disertai obral janji. Jika terpilih 
saya akan... kalau mendapat kepercayaan saya akan..., seandainya saya dipercaya 
mengemban amanat maka..., dan kata-kata lain yang berujung akan. Sementara 
jumlah orang miskin sendiri tak kunjung berkurang.

Lebih celaka lagi, di tingkat elite justru sibuk berkutat mempermasalahkan 
jumlah dan metoda penghitungan. Tahun 2006 jumlahnya 37 persen atau 49 persen, 
dasar yang dipakai untuk menentukan apa. Dibanding tahun sebelumnya naik apa 
turun, dan seterusnya.

Ujung-ujungnya terjadi debat kusir, mereka lupa bahwa angka punya makna. Lewat 
akurasi data, akan ditemukan terapi yang semestinya. Sebaliknya, jika terjadi 
rekayasa, muaranya kemiskinan tak sekedar dijadikan barang ''dagangan'', namun 
menjurus dibuat ''objekan'' penguasa.

Kejadian di Negeri ini kadang memang unik. Termasuk soal korelasi antara 
menjual diri dengan kemiskinan. Umumnya orang yang menjual diri adalah wanita 
miskin (baik harta maupun pemahaman terhadap ajaran agama) atau mereka yang 
terpojok persoalan ekonomi. 

Hanya saja, logika tersebut kini justru berbalik. Saat ini bertebaran orang 
kaya yang menjual diri agar dibeli oleh kaum miskin, dan menjual kemiskinan 
untuk meningkatkan kekayaan dan harga diri. Bahkan ada yang tega merancang 
suatu kondisi dan angka kemiskinan untuk tujuan politik dan kepentingan pribadi 
serta kelompok.

Akankah emosi rakyat kecil tersentuh oleh jualan mereka dan akhirnya ikhlas 
memberikan hak suara? Jawabnya tentu rakyat sendiri yang tahu. Namun biasanya, 
pada saat orang terbawa emosi, kiat teliti sebelum membeli, terabaikan.(11)

-- Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang

Kirim email ke