http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/11/24/b20.htm


Banyak Masyarakat di Bawah Garis Kemiskinan---
Bali Banyak Miliki Aset, Apa Artinya? 

BALI sangat banyak memiliki aset berupa lahan yang luasnya berhektar-hektar 
bahkan mencapai jutaan meter persegi, sebagian di antaranya belum 
bersertifikat. Tidak semua lahan tersebut terkelola dengan baik sehingga tidak 
bisa menghasilkan kontribusi yang baik pula untuk rakyat. Kini dipertanyakan 
pula seberapa besar sesungguhnya kontribusi aset-aset yang dimiliki Bali, yang 
telah disetorkan untuk Bali dan nantinya bisa dinikmati oleh masyarakat Bali. 
Hasilnya menginternasional namun apa artinya bagi masyarakat Bali karena masih 
banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, padahal diharapkan kontribusinya 
dapat dirasakan masyarakat.

Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global 96,5 
FM, Jumat (23/11) kemarin. Berikut rangkumannya.

----------------------------------------

Yoga di Bangli bertanya, yang membuat tidak jelas tersebut siapa? Semestinya 
yang perlu ditindaklanjuti, pertama yang membuat perjanjian bagaimana 
kejelasannya, tentunya perjanjian dibuat tidak serta merta. Seolah-olah 
menjelang akhir jabatan dan menjelang pilkada ada ribut-ribut selama 4 tahun ke 
belakang apa yang mereka kerjakan? Semestinya legislatif melihat kontraknya 
seperti apa dan harus ditindak lanjuti.

Sudira di Gianyar merasa bingung dan sedih melihat pejabat tidak ada yang 
bertaring di Senayan, misalnya ada 4 anggota DPD dari Bali ke mana saja mereka? 
Mari kita lihat BTDC kontribusinya tidak jelas untuk Bali, Bandara Ngurah Rai, 
Bali tidak dapat apa-apa hanya dapat ongkos parkir saja. Menjelang Pemilu 2009 
baru anggota DPRD Bali hanya bisa ngetarang tetapi tidak bisa memperjuangkan. 
Padahal kontribusi tersebut sangat berguna untuk saudara-saudara kita yang 
berada di bawah garis kemiskinan seperti di Karangasem, juga Nusa Penida dan 
daerah lainnya di Bali.

Gede Biasa di Denpasar terkejut karena Wakil Bali suaranya tidak pernah 
kedengaran. Aset-aset yang berpenghasilan seperti BTDC dan Bandara Ngurah Rai 
penghasilannya mendunia dan bertaraf internasional ini salah satunya yang 
diperlukan masyarakat Bali. Hasilnya menginternasional namun apa artinya bagi 
masyarakat Bali karena masih banyak yang ada di bawah garis kemiskinan, padahal 
diharapkan kontribusinya dapat dirasakan masyarakat.

Menurut Dewa Winaya di Tabanan pemerintah harus membuat perjanjian dengan 
investor dengan perbandingan 60% untuk Bali dan 40% untuk investor. Kalau mau 
silakan tapi kalau tidak mau jangan menjadi investor di Bali serta harus 
memenuhi Tri Hita Karana serta kepada pemerintah diharapkan jangan lengah.

Nang Tualen di Tabanan menilai bahwa ini jelas kelengahan ''kita'', pemerintah 
dan rakyat. Kepada pihak yang diberikan kesempatan mengelola aset ini baik 
eksekutif maupun legislatif agar mempertanggung jawabkan agar rakyat Bali tidak 
dirugikan.

Agung Adnyana di Sanur memaparkan terkait kontribusi, apakah hanya uang? 
Kontribusi tersebut adalah sesuatu yang positif untuk Bali yakni man, money, 
dan material. Man di sini tenaga kerja yang terserap harus terbesar dari Bali 
yakni 70% tenaga lokal Bali dan 30% dari luar. Juga tataran manajemen tingkat 
atas, menengah, bawah kontribusinya juga untuk orang kita, tentunya melalui 
pelatihan. Money dalam hal ini juga harus jelas. Sementara untuk material yakni 
sarana dan prasarana wilayahnya tidak bisa lepas dari desa pakraman. Artinya 
agar masuk kontribusi sistem manajemen pemerintahan harus digarap terlebih dulu.

Adnyana di Pedungan sebagai masyarakat mempertanyakan kenapa baru sekarang, 
selama ini kemana? Diharapkan kepada instansi terkait agar mengsertifikatkan 
lahan pemerintah yang belum atas nama Pemprop Bali agar nantinya tidak menjadi 
milik orang lain. Sementara untuk kontribusi agar jangan terlambat, kepada 
anggota DPRD Bali agar memperjuangkan dan menindak lanjuti sehingga 
menguntungkan bagi Bali.

Sangging di Kemenuh mengharapkan mudah-mudahan apa yang dikatakan anggota DPRD 
Bali tersebut bisa diperjelas seperti BTDC, Airport Ngurah Rai dan juga tanah 
pemprop agar disertifikatkan. Namun ada yang lucu, lahan pemprop di Jembrana 
yang berisi pohon kopi, cengkeh ditebangi, katanya oleh Pemprop Bali dan 
investor akan ditanami pohon karet tapi sampai sekarang bagaimana? DPR agar 
mengontrol ke Jembrana jangan sampai lahan tersebut digadaikan atau dijual.

Jero Wijaya di Bangli meyakini apa yang dikatakan oleh anggota DPRD Bali itu 
adalah bahasa yang politik. Berteriak saat melihat tapi tidak bisa berbuat 
apa-apa. * panca

Kirim email ke