Refleksi: Keliru dikatakan Golkar tidak kembangkan demokrasi. Bukankah Pak 
Harto dan konco-konco menjadi kaya raya dan kepada rakyat dibebankan hutang 
luarnegeri tujuh turunan adalah berkat demokrasi Golkar. Lantas mau demokrasi 
yang macam mana lagi? 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0711/23/sh08.html

Konvensi Ditiadakan
Golkar Tak Serius Kembangkan Demokrasi 



Jakarta - Partai Golkar dipandang tidak serius mempersiapkan mekanisme 
penentuan calon presiden menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. Dengan 
tenggat waktu 1,5 tahun menjelang pemilu, sulit bagi Partai Golkar untuk 
memperbaiki mekanisme konvensi yang diterapkan dalam Pemilu 2004 lalu. Mengenai 
hasil konvensi yang tak maksimal dalam Pemilu 2004 seharusnya tidak serta-merta 
ditinggalkan, tetapi dilakukan perbaikan supaya tidak rumit dan tidak 
menghabiskan banyak energi. Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Eep 
Saefullah Fatah kepada SH, Jumat (23/11) pagi, mengatakan hal itu. "Kalau 
konvensi tidak dipersiapkan terlalu mepet waktunya, tidak terlalu 
besar-besaran, tetapi secara bertahap menjaring dari daerah ke daerah, tentu 
hasilnya akan lain. Konvensi itu umumnya di banyak tempat dipakai dan hasilnya 
baik," kata Eep. 


Menurut Eep, seharusnya sejak pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Partai 
Golkar di Denpasar, Bali, tahun 2004, persoalan konvensi dimasukkan dalam 
perubahan AD/ART sehingga tidak menjadi perdebatan seperti saat ini. Namun 
hingga pelaksanaan Rapimnas III Partai Golkar, tak ada upaya mencari jalan 
keluar atas pelaksanaan konvensi yang umum dilakukan pada partai politik 
modern. 
"Ini menunjukkan Partai Golkar tidak serius mengembangkan mekanisme demokrasi. 
Namun ini menjadi kesalahan kolektif yang tak bisa ditumpahkan kepada Jusuf 
Kalla seorang diri," katanya. 

Tak Sesuai AD/ART
Saat membuka rapat pimpinan nasional (Rapimnas), Kamis (22/11) malam, Ketua 
Umum Partai Golkar Jusuf Kalla mengatakan konvensi merupakan masa lalu yang 
sesuai dengan cara Partai Golkar memilih calon presiden waktu itu. Namun, 
setiap saat Partai Golkar harus membuka diri, sebab yang dibutuhkan adalah 
proses demokrasi yang baik dan menghasilkan sesuatu yang baik pula. "Kita cari 
yang paling demokratis, yang tidak terlalu melelahkan dan menguras energi. 
Puncak kerja kita adalah pemilu itu sendiri. Saya ingin agar Anda semua tidak 
terlalu sibuk dengan saat konvensi, tetapi pada saat dibutuhkan justru sudah 
kehabisan energi," kata Kalla. 


Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan agar mekanisme penentuan calon 
presiden Partai Golkar dilakukan sesuai dengan AD/ART. Namun sebaiknya 
masalah-masalah penentuan calon presiden tidak menguras banyak pikiran dan 
tenaga sebab yang dibutuhkan saat ini adalah bekerja untuk kesejahteraan 
bangsa. 


"Bagi saya yang penting adalah berbuat untuk rakyat. Bukan berpidato yang 
megah, bukan lambang yang besar atau baliho di mana-mana," kata Kalla.  
Penekanan pada efisiensi dan efektif, kata Eep Saefullaf Fatah, memang menjadi 
gaya khas kepemimpinan Jusuf Kalla. Gagasan itu pun saat ini banyak didukung 
oleh sejumlah petinggi Partai Golkar yang ada dalam struktur partai. 


Tetapi hal itu bisa kontraproduktif jika keinginannya adalah mengembangkan 
demokrasi di internal partai. Saat ini internal Partai Golkar memiliki 
keinginan untuk mencari calon presiden dengan menggunakan mekanisme survei. 
Namun, pengamat politik LIPI Syamsuddin Haris berpendapat mekanisme survei 
tidak sejalan dengan tujuan partai untuk melahirkan calon pemimpin nasional. 
(inno jema

Kirim email ke