Refleksi: Aneh bin ajaib negeri kongkalikong NKRI. Mau diminta utang Luar 
Negeri dikurangi, tetapi sendiri tidak mau berusaha dengan segala tenaga untuk 
diperoleh kembali harta kekayaan rakyat yang dilarikan dan disimpan oleh para 
koruptor diberbagai sudut dunia.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0711/27/sh03.html

Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim
Indonesia Sebaiknya Usulkan Pengurangan Utang LN



Jakarta - Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Chalid Muhammad mengatakan 
pemerintah sebaiknya tidak mengharapkan apapun termasuk debt swap yang 
ditawarkan negara-negara maju dalam Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim atau 
United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang akan 
digelar di Bali, 3-14 Desember 2007 mendatang. "Itu bukan solusi, tapi sekadar 
mencuci dosa saja," ujarnya yang dihubungi SH, Selasa (27/11) pagi.

Menurut Chalid, permasalahan yang saat ini perlu diatasi adalah meminta 
komitmen negara-negara Utara untuk berkomitmen mengurang emisi karbonnya. "Ini 
pertarungan besar. Kalau kita masih mengharapkan debt swap atau yang lain-lain 
ya tidak akan bisa menang," katanya. Negara-negara utara sempat menawarkan 
penghapusan utang (debt swap) pada Indonesia sebagai imbalan untuk memperbaiki 
kondisi hutan yang diharapkan dapat mengurangi dampak emisi karbon. 
"Memperbaiki hutan adalah kewajiban kita, tapi kita janganlah jadi bangsa 
pengemis," katanya yang juga menyayangkan hingga saat ini pemerintah belum 
menjelaskan posisinya dalam pertemuan di Bali mendatang.


Sementara itu, Direktur Eksekutif Greenomics Elfian Effendi meminta delegasi 
Pemerintah Indonesia supaya membawa agenda penghapusan utang luar negeri di 
dalam sidang tersebut. "Greenomics meminta agar delegasi RI meminta penghapusan 
utang luar negeri Indonesia kepada negara-negara maju, karena saat ini 
pembiayaan utang luar negeri sudah sangat membebani," ujarnya. Menurut Elfian, 
utang luar negeri telah menciptakan tekanan yang cukup serius terhadap neraca 
ekonomi negara. "Pada tahun 2008, misalnya, cicilan utang luar negeri kita 
adalah Rp 151,2 triliun sedangkan pendapatan negara dari hasil eksploitasi 
bahan-bahan sumber daya alam hanya sekitar Rp119 triliun. "Itu artinya, kalau 
pun alam Indonesia dieksploitasi habis-habisan sepanjang tahun, tetap tidak 
akan bisa membayar cicilan utang luar negeri.," kata Elfian.

Tidak Berani 
Koordinator Koalisi Anti Utang (KAU) Kusfiardi ketika dihubungi di Jakarta, 
Selasa (27/11) pagi, mengatakan pemerintah tak akan berani mengajukan 
pengurangan atau penghapusan utang, terkait momentum sidang PBB membahas 
perubahan iklim yang diselanggarakan di Bali tersebut. Delegasi Indonesia 
dipastikan tak memiliki tujuan yang jelas dan hanya ikut-ikutan sehingga 
momentum tersebut akan terlewatkan begitu saja.


"Baik Presiden, Wapres, atau tim ekonomi tidak memiliki kemauan politik untuk 
meringankan beban utang yang telah didesain oleh Orde Baru," kata Kusfiardi. 
Tim ekonomi, terutama Menko Perekonomian dan Menkeu, akan selalu berlindung 
pada argumen pengurangan atau penghapusan utang menurunkan peringkat (rating) 
investasi Indonesia sendiri. "Pemahaman-pemahaman semu dan menyesatkan inilah 
yang disuarakan berulang-ulang seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya saat 
upacara bendera," katanya.


Ia menjelaskan negara-negara seperti Meksiko dan Argentina pernah memperoleh 
pengurangan atau pemotongan utang secara signifikan, tetapi setelah beberapa 
tahun justru rating investasi mereka meningkat. Kedua pemerintah itu memiliki 
argumentasi yang rasional karena utang-utang telah dilakukan oleh rezim 
otoriter sebelumnya dan utang-utang itu telah diselewengkan. Indonesia memiliki 
argumentasi yang berlipat ganda dalam penghapusan atau pemotongan utang.


Utang-utang luar negeri Indonesia dilakukan rezim otoriter, dana-dananya 
dikorupsi, kekayaan alam dikuras oleh perusahaan nasional dan multinasional, 
sehingga sudah sepantasnya Indonesia berhak memperoleh pemotongan utang sampai 
100 persen. Menurutnya, sejak Orde Baru Indonesia berutang luar negeri sebesar 
US$ 79 miliar, untuk membayar biaya komitmen dan utang-utang yang tak terpakai 
dari zaman Orde Baru sampai sekarang hampir mencapai US$ 30 miliar. Sisa 
pembayaran US$ 49 miliar harusnya dikurangi seperti proyek-proyek bantuan yang 
rusak dan tidak bisa digunakan lagi, proyek yang merusak lingkungan dan 
proyek-proyek yang menghacurkan potensi lokal. 


Pengamat ekonomi CSIS Pande Radja Silalahi mengatakan sidang PBB di Bali, 
Desember nanti, merupakan waktu yang paling tepat bagi pemerintah Indonesia 
menagih komitmen negara-negara donor untuk memikul tanggung jawab terhadap 
kerusakan lingkungan di Indonesia.
"Dunia sudah bersepakat hutan Indonesia adalah paru-paru dunia yang perlu 
disehatkan dan pemerintah Indonesia jelas tidak mampu bekerja sendirian. Dunia 
khususnya negara maju harus turut serta dalam agenda ini," kata Pande. Di Bali, 
tegas dia, pemerintah Indonesia harus berani menagih komitmen mereka.


Caranya, Pande menerangkan bisa dengan memberi uang tunai untuk menanam kembali 
hutan yang telah rusak tetapi bisa juga dalam bentuk konversi utang dengan 
berbagai pembangunan (debt swap). "Pilihan terakhir saya kira yang paling mudah 
meski bisa menjadi pisau bermata dua bagi pemerintah. Di satu sisi, posisi 
utang Indonesia bertambah baik, di sisi lain anggaran belanja berkurang," 
katanya.
(novan dwi putranto/
sigit wibowo/
danang j murdono/ant

Kirim email ke