RIAU POS
27 Nopember 2007 Pukul 09:08
Darah dan Deman
Darah itu mengumpul dalam hidungnya. Hidungnya mengeluarkan darah, bukan
hanya dalam hidung, dari mulutnya pun muncrat darah. Tapi darah itu lebih
banyak dalam lambung dan ususnya sehingga beraknya berubah jadi hitam legam.
Anak yang berusia 5 tahun, putih dan gemuk, putih serta bersih itu terkulai
layu, nadinya cepat dan halus tekanan darahnya tak terukur. Dari kulitnya
tampak bintik-bintik merah.
Kami berusaha memasang infuse tapi tak berhasil, terpaksa dilakukan Vena
Sectie, membedah dan mencari pembuluh darah balik di kaki, setelah itu didapat
dan cairan diguyur, anak itu keadaannya semakin gawat, sampai nafasnya
berhenti. Saya berusaha melakukan pernafasan buatan, mouth to mouth. Tak saya
rasakan, darah yang menumpul di mulut anak itu juga pindah ke mulut saya,
terasa anyir, namun anak itu juga tak mau bernafas. Semua keluarga berkumpul,
mengharapkan keselamatan anak yang gagah dan sangat disayang. Namun semua usaha
yang dikerahkan tak membuahkan hasil, di senja itu sebuah nyawa telah pergi
keketiadaannya. Ratap dan lolongan tangis membahana, air mata sayapun menitik
menyaksikan semua. Ah, lagi-lagi korban demam berdarah jatuh.
Mungkin hari ini korban anak orang, suatu kali mungkin anak kita,
kemenakan, saudara, dan berulang terus selama kita tak mau menyatakan perang
dengan nyamuk Aedes Agypti penyebab demam berdarah ini. Ada demam dan ada
darah, tapi di senja itu demamnya sudah tak ada yang ada hanyalah darah, darah
yang akhirnya menyebabkan kematian anak tercinta.
Suatu petang berebut senja saya menerima pasien ini tahun 1973, ketika
itu saya menjalani co-schap, praktik sebagai mahasiswa fakultas kedokteran.
Saat itu wabah demam berdarah menjangkiti Kota Padang dan saya bertugas di
bangsal anak yang banyak penderita demam berdarah.
34 tahun yang lalu demam berdarah itu sepertinya tak mau beranjak, selalu
datang tiap tahun, setiap musim hujan. Hujan yang jernih itu menetes berkumpul
dalam bejana, kaleng, plastik dan ban bekas. Wadah yang kehitaman dan air
jernih mengundang nyamuk aides untuk bersarang dan berkembang biak. Dia kawin
dan bertelur, telur berubah jadi jentik-jentik dan jentik berubah jadi nyamuk
dewasa yang mencari mangsanya.
Perhatikanlah dalam kaleng dan ban bekas yang airnya tergenang, lima hari
kemudian akan kita saksikan jentik nyamuk, dan jentik-jentik yang menyebabkan
demam berdarah.
Nyamuk elit ini, parlente dengan kaki dan badan yang berbelang putih
hitam seperti zebra, hanya memilih air jernih dan bersih. Dia pakai jam kerja,
berangkat dan terbang sekitar pukul 08.00 WIB sampai 11.00 WIB. Kemudian dia
tidur untuk bangun nanti pukul 16.00 sampai 18.00 WIB sore seperti dokter pergi
praktik saja. Di luar jam-jam itu tak kita temukan sang nyamuk.
Nyamuk yang jarak terbangnya hanya 40 meter itu tak kan jauh
beranjaknya. Jadi apabila seseorang digigit nyamuk, maka nyamuk yang
menggigitnya itu tidak nyamuk yang jauh, tapi adalah nyamuk yang berada di
sekeliling rumahnya, artinya itu adalah nyamuk kita sendiri. Jangan cari
kambing hitam, jangan salahkan orang lain itu bukan nyamuk siapa-siapa tapi
adalah nyamuk kita sendiri, karena kelalaian kitalah dia ada tumbuh dan
berkembang biak.
Ini negeri tropis. Segala makhluk nyaman tinggal di sini. Virus demam
berdarah plus nyamuk pembawanya. Ketombe pun tak ingin ketinggalan. Semua ingin
menikmati kehangatan dan kelembaban yang mewah di negeri ini. Dalam kehangatan
dan kelembaban demikian, semua hidup subur dan tenteram hingga tak ingin pindah
ke lain tempat.
Potret buram nampak jelas di bangsal-bangsal rumah sakit di berbagai kota
yang saat ini tengah dipenuhi oleh para pasien korban demam berdarah. Semua
bukan salah siapa tapi salah kita sendiri. Selama kita tak peduli dengan
lingkungan, selama kita membiarkan air tergenang, selama kita tidak menimbun,
menutup dan menguras wadah-wadah yang menampung air, kita akan rasakan
akibatnya.
Dengan enteng seseorang mencampakkan kantong asoy, membuang kaleng dan
tak peduli membiarkan ban bekas, semua itu akan menyebarkan demam berdarah.
Virus yang dibawa oleh nyamuk bertempur dengan antibody yang ada dalam tubuh
selama tiga hari. Sebetulnya proses apa yang terjadi di dalam tubuh setelah
terjadi pertempuran?
Mengapa pertempuran dengan virus dengue menyebabkan turunnya trombosit
dan bukannya menaikkan jumlah sel darah putih seperti pada infeksi lainnya?
Mengapa menurunnya jumlah trombosit menyebabkan plasma darah mengalir keluar?
Apa sebenarnya penyebab kematian korban demam berdarah. Untuk itu sebagai
pengetahuan kita bersama. Inilah pertanyaan dari pasien kepada saya.
Seperti diketahui, sampai saat ini penurunan jumlah trombosit pada DBD
diduga melalui beberapa mekanisme. Antara lain karena terjadinya gangguan pada
mekanisme pembuatannya atau melalui penghancuran trombosit itu sendiri karena
virusnya memang ganas. Jumlah leukosit memang tidak meningkat, bahkan cenderung
turun atau normal, karena penurunan leukosit biasanya hanya pada infeksi
bakteri.
Penurunan jumlah trombosit tidak menyebabkan plasma mengalir keluar,
tetapi menyebabkan mudah terjadinya perdarahan dan darah tidak membeku dengan
baik.
Kebocoran plasma yang terjadi pada infeksi virus dengue terjadi akibat
reaksi imunologis dan menyebabkan gangguan sistem yang berakibat dinding
pembuluh darah menjadi bocor. Maka, terjadilah perembesan cairan darah
(plasma).
Kebocoran ini bukan ke seluruh tubuh terutama ke daerah di badan kita
yang longgar dan berongga, seperti selaput paru dan rongga perut. Akibat lain
adalah pembuluh darah menjadi kosong dan cairan darah menjadi lebih kental. Ini
ditandai dengan nilai hematokrit yang meningkat, yang dapat mengakibatkan
terjadinya shock dan fatal.
Akibat shock tentu dapat mengganggu fungsi jantung dan suplai darah ke
otak, dan berakibat kematian. Apalagi bila terjadi perdarahan yang banyak,
tentu keadaan penderita menjadi sangat gawat. Bila shock dapat diatasi dengan
perawatan yang baik, dan transfusi darah untuk menggantikan darah yang hilang
juga dilakukan dengan baik, kemungkinan penyembuhan masih sangat terbuka.
Makanya pencegahan dan penangan segera penderita demam berdarah adalah
sangat perlu. Ada yang berharap pada pengasapan atau foging, yang sebaiknya
dilalukan pada jam-jam nyamuk dewasa terbang. Namun pengasapan tak dapat
membunuh jentik-jentik yang akan tetap tumbuh dan kembang menjadi nyamuk
dewasa. Pengasapan juga tak mungkin membunuh telur yang ada di dalam air.
Agaknya dengan mengeluarkan biaya Rp10.000, untuk 1 Kg anak ikan nila
dapat membasami jentik-jentik. Lepaskam ikan-ikan ini di tempat air tergenang
ternasuk kolam atau bak mandi.
Kita berusaha dan berdaya upaya, karena hari-hari mendatang musim hujan
berakhir, awal musim panas adalah nyamuk itu itu berpesta pora.***
Prof dr HK Suheimi, Guru Besar Fakultas Kedokteran Unand