Refleksi: Kalau begini halnya apakah hari depan gemilang bagi NKRI? 

------
KOMPAS 
Selasa, 18 Desember 2007 


Pembangunan Manusia Indonesia
Guru dan Enam Bungkus Rokok 
Tonny D Widiastono 


Tidak perlu kaget jika kelak tidak ada lagi orang yang mau menjadi guru. 
Alasannya, upah buruh bangunan lebih baik dibandingkan dengan gaji guru 
honorer. 

"Ancaman" ini tidak mengada-ada. Para guru honorer di Tasikmalaya, Jawa Barat, 
yang sudah mengabdikan diri pada dunia pendidikan, hanya "digaji" Rp 50.000-Rp 
100.000 per bulan, setara dengan 6-12 bungkus rokok. Nasib hidup di bawah upah 
minimum regional ataupun upah minimum provinsi ini juga dialami guru honorer di 
tempat lain. 

Keadaan ini memaksa para guru honorer hidup serba kekurangan. Jangankan ada 
biaya untuk menyekolahkan anak, untuk makan sehari-hari pun sering sulit 
dipenuhi. 

Kondisi yang menyedihkan ini akan kian memprihatinkan jika memerhatikan kondisi 
bangunan sekolah yang rusak. Data Departemen Pendidikan Nasional tahun 
2005-2006 menunjukkan, ada 301.370 ruang SD/sederajat rusak ringan dan 255.421 
rusak berat; untuk SMP, 28.830 rusak ringan, 9.847 rusak berat; dan untuk SMA, 
10.827 rusak ringan, 3.535 rusak berat. 

Putus sekolah 

Hidup dalam kemiskinan tak hanya dialami guru honorer. Banyak siswa juga hidup 
serba kekurangan, membuat banyak siswa SD dihadapkan pada kenyataan harus putus 
sekolah. 

Keadaan ini bukannya tidak diketahui pemerintah. Berbagai program dilakukan, di 
antaranya bantuan operasional sekolah guna membantu anak-anak miskin agar tidak 
putus sekolah. 

Hasil studi staf Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas, Abbas Ghozali dan 
kawan-kawan, tahun 2003 di 15 provinsi menyebutkan, meski sekolah sudah 
"digratiskan", kenyataannya masih ada sejumlah komponen yang harus dibayar 
orangtua. 

Orangtua siswa SD/MI ratarata masih harus mengeluarkan Rp 1,535 juta per tahun, 
yaitu untuk buku dan alat tulis (Rp 223.000), pakaian dan perlengkapan sekolah 
(Rp 323.000), transportasi (Rp 273.000), karyawisata (Rp 49.000), uang saku (Rp 
433.000), dan iuran sekolah (Rp 234.000). 

Untuk SMP/madrasah tsanawiyah, harus dikeluarkan biaya Rp 1,896 juta/siswa, 
yaitu untuk beli buku dan alat tulis (Rp 224.000), pakaian dan perlengkapan 
sekolah (Rp 333.000), transportasi (Rp 308.000), karyawisata (Rp 61.000), uang 
saku (Rp 571.000), dan iuran sekolah (Rp 399.000). 

Besarnya biaya itu belum termasuk akomodasi, konsumsi, dan kesehatan, serta 
forgone earning, yaitu potensi penghasilan yang tidak jadi diterima karena anak 
bersekolah dan tidak bekerja. 

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan orangtua dikhawatirkan ikut memperbesar 
angka putus sekolah dan mengganggu penuntasan program wajib belajar pendidikan 
dasar sembilan tahun 2008. Program ini merupakan pengulangan program serupa 
yang dicanangkan 1984. 

Jika pemerintah ingin menuntaskan program wajib belajar dengan menyediakan 
beasiswa, diperlukan dana Rp 11,479 triliun. Biaya itu untuk memenuhi 
pengeluaran yang harus ditanggung orangtua siswa miskin yang diperkirakan 
berjumlah 4.610.000 (18 persen dari 25.636.000 anak SD/MI), dan 2.319.000 siswa 
SMP (18 persen dari 12.887.000 siswa). 

Peringkat Indonesia 

Hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan membuat banyak guru tidak bisa 
"mengembangkan diri" sehingga proses belajar-mengajar tidak berjalan maksimal. 
Maka, tidak mengherankan apabila profil pendidikan masyarakat Indonesia pun 
belum menggembirakan. 

Data menunjukkan, dari seluruh penduduk Indonesia, jumlah penduduk yang 
tidak/belum tamat SD 63.855.491 (35,29 persen). Jumlah penduduk tamat SD 
61.917.997 (34,22 persen); tamat SMP 24.545.352 (13,57 persen); tamat SMA 
25.302.149 (13,98 persen). Adapun yang lulus program diploma 1,32 persen dan 
lulus S-1 1,80 persen. 

Lemahnya angka partisipasi sekolah ini diperparah kualitas pendidikan (tinggi) 
yang ikut melorot. Dalam Top 400 Universities: World Universities Rankings 2007 
(www.topuniversities.com), perguruan tinggi terkemuka Indonesia ada di urutan 
bawah. Universitas Gadjah Mada di peringkat ke-360 (tahun 2006 urutan ke-270), 
Institut Teknologi Bandung peringkat ke-369 (tahun 2006 urutan ke-258), dan 
Universitas Indonesia peringkat ke-395 (tahun 2006 urutan ke-250). 

Rendahnya angka partisipasi maupun kualitas membuat indeks pendidikan Indonesia 
turun peringkat. Badan PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan 
Kebudayaan (UNESCO) menempatkan pendidikan Indonesia turun dari peringkat ke-58 
menjadi ke-62 dari 130 negara. Malaysia di peringkat ke-56 dan Brunei 
Darussalam di peringkat ke-43. 

Berbagai faktor 

Rendahnya pembangunan pendidikan Indonesia jelas memengaruhi kualitas manusia 
Indonesia. Hal ini sering dijadikan pegangan untuk melihat Indeks Pembangunan 
Manusia (HDI) Indonesia amat rendah. Padahal, pengukuran HDI didasarkan tiga 
indikator: panjang usia; pendidikan, dan standar hidup. 

Laporan UNDP 2007/2008 menyebutkan, pembangunan kesehatan di Indonesia 
menunjukkan kemajuan. Umur harapan hidup meningkat, angka kematian bayi dan 
kematian ibu menurun. Namun, berbagai keberhasilan itu dikhawatirkan akan 
mengalami guncangan karena penurunan anggaran pembangunan kesehatan dan 
pendidikan, serta mundurnya pelaksanaan program keluarga berencana akibat 
desentralisasi dan otonomi daerah. 

UNDP juga mengingatkan, pemanasan global yang berdampak terhadap kekeringan, 
banjir, dan badai bisa mengganggu penyediaan pangan dan memengaruhi gizi serta 
menyebarnya penyakit menular. 

Lalu, di mana Indonesia? Negeri yang belum lepas dari krisis dan pembangunan 
manusianya pas-pasan ini dikhawatirkan akan tergelincir pada kondisi buruk itu. 
Apalagi, kekeringan, banjir, dan badai sering terjadi di sejumlah wilayah 
negeri ini. 

Meski demikian, perbaikan kesehatan dan standar hidup tak akan berjalan 
sempurna apabila pendidikan tidak ditangani serius. Pendidikan adalah kunci 
untuk memperbaiki pembangunan manusia Indonesia.

Kirim email ke