Refleksi: Kondom atau moral? Kedua-duanya mempunyai fungsi yang interaksi, jadi 
tidak perlu dihebohkan. Nikmatilah! Hehehehe

http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=34046


Pilih kondom atau perbaikan moral
      Tanggal :  13 Dec 2007 
      Sumber :  Harian Terbit 


ORANG bijak berkata, ilmu itu seperti pedang bermata dua. Pintar menggunakannya 
akan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Salah menggunakan, akan menjadi 
alat untuk melukai bahkan membunuh manusia itu sendiri. Ilmu pengetahuan adalah 
nikmat. Tapi bisa berubah menjadi laknat. Tinggal bagaimana manusia menggunakan 
pikiran dan hatinya dalam menentukan langkah dan menimbangnya.

Kondom, adalah buah ilmu pengetahuan manusia. Diciptakan untuk kemaslahatan 
kehidupan manusia itu sendiri, mengatur angka kelahiran agar jumlah anak 
manusia di planet ini tidak tumbuh tanpa terkontrol. 

Kondom, jelas, diciptakan sebagai alat kontrasepsi. Tapi kondom juga bisa 
digunakan sebagai alat pengaman dalam berzina. Karena itulah, barangkali, 
bicara tentang kondom orang selalu hati-hati. Tidak sembarangan. Karena itu 
pulalah ketika muncul ide atau rencana tentang pembagian kondom ke 
sekolah-sekolah, banyak pihak yang meradang.

Pembagian kondom secara bebas - termasuk ke sekolah-sekolah - merupakan bagian 
dari Pekan Kondom nasional (PKN) 2007. 

Kita paham, tujuan utama dari PKN 2007 adalah untuk pencegahan AIDS/HIV, sebuah 
penyakit yang belum ditemukan obatnya. Upaya-upaya pencegahan AIDS/HIV ini 
memang harus gencar dilakukan karena menurut pemberitaan media jumlah para 
penderitanya terus meningkat dan sangat mengkhawatirkan.

Persoalannya adalah cara berkampanye untuk mencegah semakin berkembangnya 
penyakit yang menghilangkan kekebalan tubuh itu. Cara berkampanye secara 
terbuka, bahkan masuk ke sekolah-sekolah - dan konon juga sampai 
membagi-bagikan kondom kepada anak-anak SD - jelas merupakan cara-cara yang 
salah, kebablasan dan tanpa pertimbangan matang.

Dalam kaitan ini, kita garisbawahi pendapat Wakil Ketua MPR AM Fatwa yang 
merasa terusik dengan adanya pembagian kondom ke sekolah-sekolah. Menurut tokoh 
Partai Amanat Nasional itu, pembagian kondom untuk mencegah AIDS/HIV seharusnya 
difokuskan kepada para pekerja seks. Pembagian kondom kepada anak-anak sekolah 
malah hanya akan mengundang adanya free sex di kalangan anak muda.

Hal senada dilontarkan psikolog/psikiatri Prof DR dr.Dadang Hawari yang 
menyebut pembagian kondom ke sekolah-sekolah atau kampus sama saja dengan 
memberi akses bebas dan menjerumuskan para pelajar dan mahasiswa terjangkit 
HIV/AIDS. Apalagi jika ternyata penggunaan kondom juga tidaklah aman.

Kita sependapat dan mendukung sikap AM Fatwa dan Prof Dadang Hawari. Kampanye 
nasional penggunaan kondom melalui Pekan Kondom Nasional dalam pandangan kita 
terkesan lebih berorientasi proyek ketimbang manfaat. 

Dari sisi ilmu pengetahuan, meningkatnya angka penularan HIV maupun penderita 
AIDS, seharusnyalah dihadapi dengan upaya riset yang terus menerus guna 
menemukan obatnya. Sementara dari sisi moral seharusnya dihadapi dengan 
kampanye perbaikan moral di tengah masyarakat yang dilakukan terus menerus dan 
gencar.

Kenyataan yang kita hadapi dewasa ini memang rada aneh. Dekadensi atau rusaknya 
moral masyarakat yang dipengaruhi berbagai aspek perkembangan iptek dan 
infiltrasi budaya asing seolah dibiarkan lepas begitu saja tanpa kendali. Di 
sinilah perlunya pemimpin yang keras dan tegas dalam memperbaiki dan mengawal 
moral masyarakat bangsa. Bila perlu dengan ''pedang terhunus'' sekali pun.

Kirim email ke