KOMPAS
Rabu, 19 Desember 2007 

 
Kurban, Natal, dan Kerukunan 


M Zainuddin 

Pada bulan Desember ini, umat Islam dan Kristiani sama-sama memiliki momentum 
baik untuk merenung dan introspeksi bagi terbentuknya manusia saleh. Umat Islam 
merayakan hari raya kurban atau Idul Adha dan umat Kristiani merayakan Natal. 

Ibadah kurban tidak sekadar ibadah simbolik dengan mengorbankan ternak. Ibadah 
kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim merupakan upaya memerangi egoisme. 

Hikmah yang bisa dipetik dari Idul Kurban adalah bagaimana mengaitkan ajaran 
tauhid dengan dimensi kepedulian sosial. Para nabi merupakan tokoh yang menjadi 
uswah kepedulian dan perubahan sosial. 

Kesediaan orang mukmin menyembelih kurban seperti dicontohkan Nabi Ibrahim 
merupakan wujud pengamalan iman untuk lebih mendekatkan diri (taqarrub) kepada 
Allah SWT. 

Selain itu, seluruh tugas sosial setiap Muslim dalam bermasyarakat, berbangsa, 
dan bernegara merupakan tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan secara 
individual ataupun kolektif. 

Adapun bagi umat Kristiani, Natal merupakan ibadah gerejawi yang terkait karya 
penyelamatan Yesus Kristus, termasuk hari raya Jumat Agung, Paskah, Kenaikan 
Tuhan Yesus, dan Pantekosta. 

Bagaimana umat beragama merefleksikan momentum hari raya dalam kehidupan 
sehari-hari dengan introspeksi, memperbaiki hubungan harmonis, dan memperbaiki 
citra religiusitasnya? 

Uskup Agung Dom H Camara dalam Spiral Kekerasan menyerukan agar semua umat 
beragama bersatu dan membuka kembali kitab suci masing-masing untuk menemukan 
ajaran kemanusiaan universal guna melawan ketidakadilan. 

Aktivis Muslim, Asghar Ali Engineer (1993:29, 80), mengimbau perlunya 
memperjuangkan problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia dengan 
menata kembali kehidupan sosial yang adil dan egaliter. Karena itu, orang 
beriman sejati adalah mereka yang menegakkan keadilan dan memperjuangkan 
kelompok tertindas (al-mustadh'afin). Untuk menuju kedamaian dan keutuhan umat, 
keadilan harus terus diperjuangkan. 

Peran agama 

Secara umum, peran agama dalam kehidupan manusia dapat dilihat dari dua aspek. 

Pertama, aspek konatif, terkait kemampuan agama dalam menyediakan sarana kepada 
masyarakat dan anggotanya untuk membantu menyelesaikan berbagai masalah 
kehidupan. 

Kedua, aspek kognitif, terkait peran agama dalam menetapkan kerangka makna yang 
dipakai manusia dalam menafsirkan secara moral berbagai kesukaran dan 
keberhasilan pribadi, termasuk sejarah masyarakat di masa silam dan di masa 
kini. 

Pemahaman atas peran agama seperti ini bisa ditemukan dalam berbagai sumber 
suci agama-agama semit. Dalam Islam, Al Quran tidak hanya mewajibkan umatnya 
melakukan ibadah ritual-seremonial yang memberi kelegaan emosional dan 
spiritual, tetapi juga membuka ruang penafsiran intelektual guna membantu 
manusia mendapatkan makna atas pengalaman hidupnya. 

Peran seperti ini tampak dalam hampir setiap ibadah ritual yang selalu 
mengandung pesan moral. Bahkan begitu pentingnya pesan moral ini, "harga" suatu 
ibadah dalam Islam dinilai dari sejauh mana pesan moralnya bisa dijalankan oleh 
manusianya. Jika suatu ibadah tidak bisa meningkatkan moral seseorang, 
ibadahnya dianggap tidak ada maknanya. Karena itu, ketika seseorang melakukan 
hal-hal yang terlarang secara fikih dalam ibadah, maka tebusannya adalah 
menjalankan pesan moral itu sendiri. 

Aspek kognitif peran agama seperti itu juga bisa dijumpai dalam agama Kristen. 
Narasi tentang Ayub dalam Kitab Suci, misalnya-atau Nabi Ayyub dalam Al 
Quran-merupakan simbol persoalan kemanusiaan yang mengandung ajaran moral yang 
sangat dalam. Kesungguhan Ayub menjalankan kewajiban sosial dan keagamaan tidak 
serta-merta menjadikannya bahagia, sebaliknya menyebabkan dia memperoleh cobaan 
penderitaan. 

Namun, kesungguhan Ayub dalam menghayati nilai-nilai sakral yang ada dalam 
perintah-perintah Tuhan bukan hanya menyebabkan dia bertahan atas penderitaan 
itu, tetapi juga membantunya menemukan makna dari seluruh pengalaman hidupnya. 
Karena itu, ketika Ayub minta keterangan kepada Tu han tentang apa yang 
terjadi, bukan keadaan dirinya yang diutamakan, tetapi nasib buruk yang menimpa 
seluruh umatnya yang dikedepankan (EK Nottingham, 1995:108-109). 

Pesan agama yang terpantul dari kisah Ayub itu adalah ketidaksamaan nasib 
untung dan malang manusia tidak dapat dijelaskan menurut ukuran baik buruk 
manusiawi. Hal itu harus dilihat dari penilaian-penilaian Tuhan di dalamnya. Di 
situlah terletak (salah satu) fungsi penting agama, yaitu "memberi makna moral 
dalam berbagai pengalaman kemanusiaan". Makna moral di sini paralel dengan apa 
yang dikatakan Paul B Horton dan Chester L Hunt (1993:304), semua agama besar 
menekankan kebajikan seperti kejujuran dan cinta sesama. Kebajikan ini amat 
penting bagi keteraturan perilaku dan agama membantu manusia memandang serius 
kebajikan. 

Perbedaan pemahaman 

Persoalan makna agama seperti tergambar pada ajaran Islam dan Kristen itu 
merupakan persoalan makna agama dalam pengalaman individual. Secara esensial, 
masalah yang sama bisa juga ditemukan pada masyarakat secara keseluruhan. 
Berbagai persoalan seperti ketidakadilan sosial, kesenjangan ekonomi, dan 
persoalan kekuasaan merupakan rahasia umum dalam kehidupan manusia. 

Fenomena semacam ini secara sosiologis bisa mendorong timbulnya aneka 
penafsiran moral terhadap tertib sosial (yang ada). Pada situasi dan kondisi 
tertentu tidak jarang dapat menimbulkan konflik-konflik sosial, jika 
interpretasi yang dilakukan oleh tiap anggota masyarakat tidak mencapai titik 
temu. 

Atas dasar pemahaman seperti itu, masalah makna agama dalam pengalaman 
masyarakat menjadi lebih unik dan rumit dibanding pengalaman individu. Jika 
suatu masyarakat mampu memahami peran agama dalam membantu menafsirkan secara 
moral pengalaman hidupnya, agama akan hadir sebagaimana fungsinya. Sebaliknya, 
jika mereka salah melakukan interpretasi itu, agama bisa menjadi lahan subur 
bagi perkembangan konflik di tengah masyarakat. 

Konflik atau intoleransi sosial yang diakibatkan oleh salah penafsiran terhadap 
ajaran agama sedikitnya ada dua bentuk. 

Pertama, konflik intern agama atau yang lazim disebut konflik antar-mazhab. 
Konflik semacam ini biasanya bermuara dari perbedaan pemahaman terhadap ajaran 
agama di antara sesama pemeluk suatu agama. 

Kedua, konflik antar-agama atau disebut juga konflik antarumat beragama. Dalam 
konflik seperti ini, karena skalanya bisa lebih luas dari yang pertama, 
faktor-faktor lain pun memiliki peran besar. Misalnya, faktor ekonomi, politik, 
mekanisme dakwah, dan struktur sosial. 

Oleh karena itu, dalam momentum hari raya bagi dua agama besar ini, amat tepat 
untuk dilakukan kerja sosial, membangun komitmen bersama bagi terwujudnya 
kehidupan berbangsa dan bernegara secara adil dan demokratis, penuh 
keharmonisan dan kedamaian. 

M Zainuddin Dosen UIN Malang, Aktivis Dialog Antarumat Beragam

Kirim email ke