http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=317509&kat_id=21

     

Selasa, 18 Desember 2007  18:41:00

Maskapai Diimbau tak Pakai Pesawat Eropa

Jakarta-RoL -- Pemerintah secara tidak langsung mengimbau maskapai nasional 
untuk tidak memakai pesawat Eropa, menyusul berlanjutnya pelarangan terbang Uni 
Eropa ke maskapai Indonesia.

"Silakan saja, tapi resikonya biaya yang harus dikeluarkan membengkak karena 
harus diregistrasi di sini," kata Dirjen Perhubungan Udara, Dephub, Budhi M. 
Suyitno kepada pers usai Jumpa Pers akhir tahun di Jakarta, Selasa (18/12).

Menurut Budhi, kebijakan registrasi di Indonesia itu khusus untuk pesawat asal 
Eropa, baik bekas maupun baru karena secara teknis tidak mungkin lagi mengirim 
inspektur ke Eropa untuk memverifikasi pesawatnya.

"Bagaimana mungkin, saat dicek dan dites di Eropa, tapi ketika register PK 
sudah didapat, Eropa kemudian melarangnya masuk ke sana," katanya.

Budhi juga mengatakan, resiko biaya yang harus ditanggung adalah tambahan 
sekitar 200 ribu dolar AS per pesawat karena mereka harus siapkan segalanya 
mulai dari pilot hingga teknisi penerbangan.

Dirjen juga mengaku sudah berkirim surat mengenai hal itu kepada maskapai 
Indonesia. "Ada juga yang nanya sendiri, yakni Mandala Airlines," katanya.

Data Departemen Perhubungan menyebutkan, sejumlah maskapai nasional berencana 
memesan pesawat produk Eropa seperti Airbus atau ATR, yakni Mandala Airlines 
dan Batavia Air. 

Oleh karena itu, tegasnya, jika tetap ada yang memaksa, maka kerugian akan 
ditanggung sendiri. Namun, kerugian itu bisa dihindari mengingat sebagian besar 
hanya menyewa sehingga dapat dibatalkan.

Soal larangan terbang Eropa, Budhi menegaskan bahwa kebijakan itu tidak jelas. 
"Isunya bergeser terus," ujarnya. 

Awalnya larangan terbang dengan isu surat tidak lancar. 
Kemudian bergeser pada isu menyalahkan regulator penerbangan dan terakhir isu 
hasil temuan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional  (ICAO).

Padahal, katanya, upaya peningkatan keselamatan penerbangan terus dilakukan, 
tanpa atau tidak dengan masyarakat Eropa.

Selain itu, lobi untuk mencabut larangan terbang pun tetap dijalankan. "Kalau 
mau audit lagi ya kita terima dengan tangan terbuka," katanya.

Datang lagi
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan, tim audit penerbangan 
Eropa akan datang lagi ke Indonesia pada 20 Januari mendatang.

Agendanya adalah menyamakan persepsi soal standar keselamatan  penerbangan 
antara Eropa dan Indonesia. "Saya sudah telepon mereka,"  katanya.

Ia juga mengatakan dalam rangka memadukan persepsi standar keselamatan itu, 
regulator nasional juga akan memeriksa maskapai Eropa yakni Luthfansa dan KLM.  
"Untuk pelajari apa bedanya dengan Garuda Indonesia," ujar Jusman.

Kirim email ke