http://www.suarapembaruan.com/News/2008/01/04/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Megawati dan Mata Capung Oleh Susaningtyas NH Kertopati Baru-baru ini, sebuah koran Ibukota mengutip potongan kalimat protes Megawati Soekarnoputri atas persyaratan bahwa calon presiden mendatang harus lulus S-1. "Makanya saya heran kalau mau jadi presiden mesti pakai sarjana dulu. Ih..., ini negara maunya mundur atau maju, karena yang menjadikan seseorang pemimpin tidak sepenuhnya sarjana." Kalimat meradang itu pantas dan sah-sah saja diutarakan Megawati atau siapa saja capres yang merasa dirinya tengah dalam kondisi 'tak diuntungkan' oleh pembatasan tersebut. Persyaratan dengan beragam pembatasan jika secara murni ditujukan untuk sebuah hasil yang lebih baik, pasti mendapatkan dukungan publik. Tetapi, tentu saja pengajuan persyaratan tersebut menjadi sarat pro-kontra apabila dirasa mengandung unsur politisasi, sehingga ada pihak yang merasa tereliminasi. Rakyat memilih seorang presiden tentu bukan seperti halnya para pemirsa televisi memilih siapa penyanyi terbaik dalam Indonesian Idol, misalnya. Yang satu ini cukup dengan menggunakan jasa layanan SMS terbanyak saja dalam menentukan pemenangnya. Presiden diharapkan memiliki kelebihan kemampuan dibanding orang lain. Bukan saja rakyat berharap seseorang yang dipilih menjadi presiden itu lebih cerdas, pandai, sehat, tapi juga lebih arif bijaksana. Kearifan inilah mungkin yang lebih sulit diwujudkan dalam diri seseorang, presiden sekalipun. Untuk memiliki kearifan, seseorang tak semata-mata dapat memperolehnya dari sekolah atau bahkan matangnya usia. Kearifan sedikit banyak didapat dari berbagai pengalaman hidup seseorang dalam menghadapi masalah, sehingga melalui nalar, rasa, dan akal dapat memperoleh temuan-temuan yang membuahkan sikap dan jalan pemikiran. Akan halnya Megawati dalam berolah pikir tentu tak akan lepas dari life history-nya. Sejarah panjang dirinya sebagai putri Proklamator yang juga presiden pertama Indonesia telah mewarnai alam pikir serta sikap mentalnya, baik yang disukai maupun yang dibenci khalayak. Megawati yang memiliki panggilan sayang dari ayahnya Adies ini memang bukan seorang dewi yang tanpa dosa dan kesalahan. Megawati juga manusia yang punya perasaan senang, kecewa, curiga, cemburu, dan tentu saja cinta dan sayang, seperti, halnya manusia pada umumnya. Bagaimana konsep diri sosok Megawati bukan dia sendiri yang menentukan, tetapi juga oleh orang lain di sekelilingnya. Semua juga tak dapat lepas dengan beragam kepentingan yang berada di sekitar Megawati. Segala sesuatunya inilah yang kemudian secara langsung atau tidak membentuk tinggi rendahnya kadar kearifan Megawati, baik sebagai manusia biasa maupun sebagai manusia pemimpin. Arif Bijaksana Dahulu dengan berbagai macam cara Megawati mengalami upaya penjegalan. Indonesia seolah-olah "menolak" kehadirannya sebagai pemimpin bangsa. Semua ini bukanlah bentuk diskriminasi secara sewenang-wenang, tetapi dominasi, sebagaimana dikatakan pakar feminis Mackinnon dan Frye bahwa subordinasi kaum wanita secara fundamental bukan merupakan masalah pembedaan irasional atas dasar jenis kelamin, melainkan tentang supremasi laki-laki, yang dengan ini perbedaan gender menjadi relevan untuk distribusi keuntungan, untuk ketidakberuntungan wanita secara sistematis. Maunya kita jangan sibuk memetakan figur Presiden mendatang dengan urusan kesarjanaan belaka, tetapi hendaknya lebih memfokuskan pada bagaimana bangsa dan negara ini berhasil mendapatkan pemimpin yang arif bijaksana terlepas dirinya sarjana atau bukan. Jadi, jika saja, misalnya, Megawati tak terpilih lagi maka itu tidak karena dirinya bukan sarjana melainkan karena dinilai oleh rakyat kurang memiliki kearifan yang dapat menyejahterakan rakyat. Sebaliknya, bila Megawati terpilih sebagai presiden lagi, mau tak mau kita harus akui bahwa kemenangannya itu menandai kepercayaan rakyat yang masih tinggi bahwa Megawati memiliki kearifan di atas rata-rata capres yang lain. Tetapi, masalahnya kemudian, bagaimana kita menentukan parameter kearifan tersebut, sehingga kita memiliki ukuran yang tepat dan pas dalam menentukan seseorang itu arif dan bijaksana atau tidak? Bahkan ada beberapa pihak yang masih memandang bahwa kearifan adalah suatu hal yang abstrak. Ini tentu bukan saja tugas para ahli, birokrat, dan yang merasa dirinya sebagai kaum intelektual, tetapi juga kepada rakyat harus diberikan kesempatan turut menilai para capres, sesuai nuraninya. Seyogyanya kemenangan seseorang menjadi pemimpin negara bukan hasil rekayasa industri periklanan atau tekhnologi informatika belaka, melainkan merupakan pilihan rakyat, hasil buah pikir manusia sebagai rakyat yang berhak memilih presidennya sesuai kata hati dan nalarnya. Juga bukan melalui paksaan dan intimidasi dalam kontrol politik pihak tertentu. Mengamati seorang Megawati mungkin kita juga harus belajar pada bagaimana dirinya memandang dunia. Keunikan Selama ini bila mengamati sesuatu, Megawati tampaknya seperti sedang memperhatikan mata capung (dragon fly eyes) yang secara fisik bersap-sap dan berlapis-lapis. Setiap lapis mata capung mempunyai keunikan dan hal yang membedakan dari lapisan atau sap yang lain. Bila kita wujudkan ke dalam kehidupan manusia sering fenomena mata capung itu kita alami, bahwa sesuatu yang kita lihat dari luar belum tentu sama pada lapis pikir dan rasa selanjutnya pada diri seseorang. Kendatipun demikian, Megawati bisa saja salah menginterpretasikan serta menyimpulkan suatu masalah dengan metode pikir seperti di atas, tetapi paling tidak dirinya bukan orang yang begitu saja mengasumsikan inti permasalahan sebagai apa adanya, seperti yang terlihat hanya di permukaan. Apakah dengan begitu kita bisa katakan Megawati tergolong orang yang arif bijaksana? Jawabnya, terserah saja bagaimana khalayak menilainya. Yang jelas presiden mendatang, Megawati lagi atau bukan, Indonesia sedang merindukan hadirnya seorang presiden sebagai pemimpin bangsa yang punya hati nurani sarat dengan kearifan. Menjadi presiden di negara yang memiliki multi-problem, seperti Indonesia, memang tak boleh main-main, seperti apa yang disampaikan Soekarno pada 30 September 1960 dalam pidato berjudul Membangun Dunia Kembali, to Build The World A New bahwa "bukan pion-pion di atas papan catur yang tuan hadapi. Yang tuan-tuan hadapi adalah manusia, impian-impian manusia, cita-cita manusia dan hari depan manusia". Jadi siapapun yang kelak menjadi presiden semoga bukan lagi seseorang yang hanya bermodal penampilan, kharisma, uang, dan popularitas belaka (walaupun ini penting untuk menarik suara terbanyak), melainkan seseorang yang tak kenal lelah berempati pada amanat penderitaan rakyat dengan arif bijaksana. Tentu saja untuk memiliki kearifan yang mumpuni kita harus juga memiliki nalar, kepandaian, dan pengetahuan dalam koridor kerangka berpikir yang cerdas. Penulis adalah mahasiswa doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, mantan anggota DPR/MPR (periode 1999-2004) Last modified: 4/1/08
