http://www.gatra.com/artikel.php?id=110860

ASI
Bila ASI Tercemar Pestisida


Peristiwa itu terpatri kuat di benak Ni Luh Kartini. Kala masih duduk di bangku 
sekolah dasar pada 1971, Luh Kartini senang pergi ke persawahan di Singaraja, 
Bali. Usia seperti itu adalah usia bermain. Bahkan ia tak cepat lelah 
berlari-larian bersama rekan-rekan sekolahnya.

Setelah kecapaian dan haus, ia meneguk air yang ada di pematang sawah. Airnya 
kala itu terlihat jernih. Namun, yang terjadi, ia pingsan. "Saya beruntung 
tidak meninggal," ujarnya kepada Wayan Bakori dari Gatra. Setelah tersadar ia 
tak tahu kenapa bisa pingsan setelah meminum air. Yang jelas, sejak saat itu, 
ia kapok meneguk air mentah dari pematang.

Ketika beranjak dewasa, Ni Luh Kartini baru paham bahwa air yang dia minum kala 
itu mengandung pestisida. Dampak meminum air pematang itu pun terasa hingga 
kini. Itu dia rasakan tatkala memberikan air susu kepada tiga anaknya. Terutama 
pada anak yang paling bungsu. Anak ketiga yang terlahir November 1995 itu tak 
normal dibandingkan dengan kedua kakaknya.

Saat bayi, anak nomor tiga itu kerap sesak napas. Ia juga mengalami tumbuh 
kembang yang berbeda dengan anak-anak sebaya. Selain hiperaktif, juga sulit 
berkonsentrasi. Setiap kali diterangkan atau diajak bicara, kalau tidak karena 
kemauannya sendiri, ia tak bisa menangkap pembicaraan orang lain.

Ni Luh Kartini sempat membawa anaknya ke dokter. "Dia masih beruntung, tidak 
masuk dalam kategori autis," katanya lega. Sejak itu pula ia menjauhkan 
anak-anaknya dari makanan siap saji dan rentan tercemar pestisida.

Wanita 45 tahun ini yakin penyebabnya adalah pestisida. Sewaktu mengandung anak 
ketiga, ia sengaja memeriksakan sebagian air susunya untuk dites di 
laboratorium. Ternyata ada polutan (residu pestisida) di air susunya, meski 
tidak sampai 20%.

Pengalaman pribadi itu lantas dipresentasikan di Pusat Pendidikan Lingkungan 
Hidup Denpasar kala ia sudah menjadi peneliti pada 1998, atau setahun setelah 
ia meraih gelar doktor pertanian di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Pada saat presentasi, ada seorang wanita warga negara Jerman yang hadir dalam 
seminar tersebut. Ia minta dites darah dan ASI. Kebetulan ia sedang menyusui. 
Dari hasil penelitian diketahui adanya kandungan pestisida pada ASI. Wanita itu 
pun kalut dan memilih kembali ke negaranya segera. Sampai sekarang Luh Kartini 
belum mendengar kalau wanita tadi kembali ke Bali.

Kerisauan akan bahaya pestisida tehadap ASI dikumandangkan lagi pada saat 
rembuk publik di Wantilan DPRD Bali, Denpasar. Rembuk itu digelar bersamaan 
dengan Konferensi PBB Mengenai Perubahan Iklim yang digelar di Nusa Dua, awal 
hingga pertengahan bulan ini. Ahli mikrobiologi pertanian Universitas Udayana, 
Denpasar, ini menengarai beberapa ASI di seluruh dunia sudah tercemar pestisida.

Ini karena si ibu mengonsumsi produk pertanian yang tidak ramah lingkungan. 
Seorang ibu akan memberikan 20% racun kepada anaknya lewat ASI. "Bisa kita 
bayangkan kalau kondisi itu terus berlanjut," ujar dosen tetap di fakultas 
pertanian universitas tersebut. Maka ia meminta sistem pertanian yang ramah 
lingkungan dan bebas pestisida harus diprioritaskan.

Di dunia, laporan adanya pencemaran pestisida di dalam ASI sudah banyak. Pada 
1990-an, misalnya, ditemukan 83% sampel ASI tercemar dieldrin. Lalu 61% ASI 
mengandung pestisida heptochlor epoxide.

Sebenarnya untuk melihat adanya pencemaran polutan relatif gampang. Bisa 
dilakukan pengetesan terhadap tanah. Tanah yang sudah terkontaminasi pestisida 
dalam kurun 15 tahun masih menyimpan kandungan pestisida sebanyak 40%. Kalau 
tanah tersebut lalu ditumbuhi tanaman-tanaman yang dikonsumsi manusia, maka 
polutan akan terhisap pada tanaman tersebut dan dimakan oleh manusia. "Untuk 
menetralisir tanah yang telah terkena racun, perlu waktu hampir satu generasi 
umur manusia," katanya.

Efek negatif pestisida terhadap kesehatan sudah dibuktikan dalam banyak 
penelitian. Dalam jangka pendek barangkali bisa dilihat dari kasus kematian 27 
anak sekolah di Filipina pada 2005. Mereka diduga bermain dengan pestisida yang 
dikira tepung terigu. Itu efek cepat.

Bahaya lain akan tampak dalam jangka panjang. Ibu yang mengonsumsi makanan yang 
tercemar pestisida, bila si ibu memberikan ASI kepada anaknya, maka tubuh si 
anak akan mengandung pestisida. Lalu anaknya itu akan menularkan lagi pestisida 
lewat makanan atau ASI dan seterusnya. Kandungan pestisida akan berkurang dan 
hilang. Namun apabila si anak tetap mengonsumsi makanan berbahaya, selamanya 
pestisida tak akan lenyap secara turun-temurun.

Bahaya pestisida bisa beragam. Misalnya asetat dari golongan insektisida sering 
ditemui pada cabe besar, seledri, buncis, dan kapas. Bila tertelan, dalam 
jangka panjang akan menimbulkan mutasi genetik, kanker, dan keracunan pada 
alat-alat reproduksi manusia. Lalu klorden yang sebagian dijumpai pada kentang 
bisa menyebabkan kanker, cacat lahir, keracunan alat reproduksi, dan mutasi 
genetik. Beberapa bahan polutan lain bila masuk ke tubuh ibu yang mengandung 
dan menyusui akan mempengaruhi perkembangan perilaku pada bayi, gangguan 
hormonal, dan kanker.

Lalu mengapa zat-zat beracun itu bisa terdapat pada ASI? Itu bisa terjadi 
karena zat-zat pestisida seperti DDT dan klordan akan tersimpan di lemak tubuh 
dalam jangka waktu lama. Lemak tubuh yang dapat akan berpindah pada saat 
menyusui. Pada saat itulah polutan ikut terbawa lemak tubuh mudah larut ke 
payudara. Ia akan tergerus ke luar saat ASI yang berisi plasma darah diisap 
oleh bayi. Tapi bisa pula keluar saat ibu mengandung. Lemak tubuh yang gampang 
terbawa melalui plasenta ke tubuh janin.

Saat masuk ke tubuh janin atau bayi, racun tersebut langsung masuk organ otak. 
Di otak inilah, zat toksik itu mengganggu perkembangan otak. Pada masa 
pertumbuhan otak menjadi penting. Tapi karena di otak terdapat zat beracun, 
pertumbuhan otak beserta organ-organ tubuh lainnya terganggu.

Sebenarnya tak hanya ASI yang tercemar. Pada produk-produk susu lain, seperti 
susu sapi, pun sudah tampak pencermaran. Pada 1960-an sudah ditemukan 3/4 susu 
sapi yang dipasarkan ternyata mengandung DDT di Amerika Serikat. Sepuluh tahun 
kemudian ada kandungan residu dieldrin pada susu sapi dan klordan.

Bambang Tridjaja, dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas 
Indonesia, mengakui bahwa ASI kini sudah dipandang sebagai salah satu zat yang 
dimonitor kandungan zat polutannya. Namun ia menegaskan, masalah ini hendaknya 
jangan hanya dilihat dari luasnya pencemaran, melainkan juga pada level atau 
kadar pencemaran zat-zat tersebut. Apakah level tersebut sudah dapat 
dikategorikan sebagai level toksik atau tidak. "Ini perlu diperjelas agar tidak 
menimbulkan kepanikan pada ibu-ibu yang sedang menyusui," ujarnya.

Sebab, masih kata Bambang, pencemaran tidak hanya terjadi melalui ASI, dapat 
juga dari makanan yang mengandung toksik dan dikonsumsi dalam jangka waktu 
lama. Zat ini berbahaya, karena tak bisa dicerna secara sempurna oleh tubuh. 
Sehingga menimbulkan racun.

Tingginya zat toksik dalam tubuh juga dapat menyebabkan kelainan reproduksi. 
Misalnya, kelainan bentuk alat genital, penurunan tingkat fertilitas, dan 
mutasi genetis. Penelitian pada hewan menunjukkan kelainan tersebut. Dan 
kemungkinan besar terjadi juga pada manusia.

Hal kongkret yang terjadi adalah ada kenaikan tingkat angka kasus hipospadia 
(kelainan pada lubang kencing) di dunia. "Ditengarai akibat meningkatnya zat 
polutan sewaktu kecil," ujar Bambang.

Aries Kelana dan Elmy Diah Larasati
[Kesehatan, Gatra Nomor 7 Beredar Kamis, 27 Desember 2007

<<83.jpg>>

Kirim email ke