Refleksi: Cuba, Korea Utara dan Swedia dilarang prof boxing. Di Swedia larangan ini diberlakukan pada tahun 1970 setelah diadakan penyelidikan dimana ditemukan bahwa prof boxing mempunyai konsekwensi sangat berbahaya bagi kesehatan boxer.
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9804 Jumat, 04 Jan 2008, Kematian Choi, Heri Anggap Resiko BOGOR - Choi Yo-sam menjadi petinju profesional ketiga Korea yang tewas. Heri Amol, petinju dari Sasana Tinju Gema Trisaksi Bogor, sang lawan, menganggapnya sebagai risiko yang biasa bagi seorang petinju. Potret kerasnya dunia adu jotos bayaran. Choi dinyatakan meninggal setelah sempat mengalami koma selama sepekan. Dia mulai tidak sadarkan diri usai mempertahankan gelar terbang versi WBO Intercontinental dengan kemenangan angka atas Heri Amol pada 25 Desember lalu. Kematian itu menyisakan duka mendalam, khususnya bagi keluarga Choi. Mendiang petinju berusia 33 tahun adalah tulang punggung keluarga. Sebelum meninggal, almarhum baru saja membelikan apartemen bagi ibunya, Oh Soon Hui, yang berusia 65 tahun. "Saya turut berduka atas kematiannya (mendiang Choi, Red). Namun, ini adalah risiko petinju. Profesi yang saya dan dia tekuni," kata Heri yang ditemui Jawa Pos di sasananya kemarin. Menurut Heri, tragedi menyedihkan itu tidak meninggalkan trauma. Diapun tidak memiliki niat sedikit pun untuk gantung sarung tinju. Meski, kematian bisa saja menghampirinya di atas ring. Perkenalan Heri dengan adu jotos dimulai pada 2001 silam melalui pamannya, Ferdy Amol. Dia juga pernah berpredikat sebagai petinju profesional Indonesia. Heri yang kian tekun berlatih karena mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya. "Itulah yang membuat semangat saya untuk bertinju tidak akan habis. Bahkan, adik saya Alex Bogi kini telah bergabung dengan sebuah sasana di Jakarta," papar Heri. Sikap senada ditunjukkan sang pelatih, Feras. Kematian Choi dianggap sebagai sebuah sebuah konsekuensi dalam dunia tinju. Sebaliknya, dia menganggap Heri membukukan prestasi tersendiri dalam pertarungan tersebut. "Ini kali pertama petinju Indonesia menjatuhkan dengan telak petinju Korea Selatan di ring," tegasnya. Keberangkatan Heri ke Negeri Ginseng sebenarnya tidak disertai dengan persiapan serius. Partai itu adalah partai dadakan, setelah beberapa rencana pertarungan petinju berjuluk Killer itu dibatalkan. Sebelum menghadapi Choi, Heri naik ring sempat kali sepanjang 2007. Petinju berusia 25 tahun itu selalu menuai kemenangan. Dengan bekal empat kemenangan itu, Heri dijanjikan manajernya, Abdul Mukti, untuk mengikuti kejuaraan tinju profesional pada medio 2007 lalu. Namun, tanpa alasan yang jelas Heri urung unjuk kebolehan. Kejadian itu terjadi berulang-ulang. Kali terakhir adalah November lalu ketika rencana pertarungan nasional Heri dibatalkan. "Pada saat itu saya batal bertanding untuk kali kedua," papar Heri. Nah, pada pekan pertama Desember Abdul Mukti kembali memberikan tawaran kepadanya untuk bertanding dalam kejuaraan non gelar di Korsel. Tanpa pikir panjang Heri langsung menerima tawaran itu karena sudah ngebet bertarung. Secara fisik dan mental Heri dia merasa sangat siap tanding. Heri berangkat ke Korsel tidak disertai kontrak berapa imbalan yang akan dia terima. Dia pun sebelumnya tidak pernah tahu bahwa lawan yang akan dihadapi adalah Choi. Menjelang pertarungan itu, Heri sempat mengalami underweight alias kekurangan berat badan. Dia sejatinya adalah petinju kelas kelas terbang junior (49 kg). Pada saat itu dia harus bertarung di kelas terbang (50,8 kg). "Pokoknya pada saat itu saya habis-habisan untuk menambah berat badan dalam waktu yang tersisa," ungkap putra pasangan Petrus Nesi Amol dan Tresya Meni itu. Menjelang pertarungan yang berbarengan dengan perayaan Natal itu, Heri tak memiliki sedikitpun firasat bakal memukul jatuh lawan. Diapun tidak gentar meski harus melawan petinju tuan rumah. "Di daerah kami, memenangkan pertarungan adalah sebuah gengsi. Saya menyimpan prinsip itu," tegasnya. Heri pun pun bertarung habis-habisan dalam laga itu. Heri yang kalah dalam 11 ronde pertama tak mau kehilangan kesempatan menambah koleksi poin pada ronde ke-12. Pukulan straight kanan ke rahang lawannya menjelang bel berbunyi berhasil merobohkan lawan di atas kanvas. Choi akhirnya dinyatakan sebagai pemenang karena memimpin akumulasi poin pada 11 ronde pertama. Choi langsung diangkat oleh pelatihnya usai memenangkan pertarungan. Pada saat itulah dia ambruk. Dia pun langsung dilarikan ke rumah sakit. Setelah dirawat selama sepekan, dia dinyatakan meninggal. Sementara itu, keluarga Choi kemarin sibuk mengurus pemakaman almarhum. Mereka pun mendapatkan kesibukan tambahan untuk mengurus dokumen kesediaan donor organ Choi. Diantara organ Choi yang akan didonorkan adalah lever, ginjal, dan kornea. "Atas permintaan keluarga, beberapa organ tubuh Choi akan disumbangkan kepada enam orang yang membutuhkan," ujar juru bicara Asan Medical Centre, Rumah Sakit tempat Choi dirawat, seperti dilansir supersport kemarin (3/1). Sang ibu Oh Soon Hui, menyatakan buah hatinya sudah menderita banyak. "Saya berharap dia mendapat tempat yang layak dan penuh kedamaian," tuturnya kepada kantor berita Yonhap.(*/sep
1199390509b
Description: Binary data
