http://hariansib.com/2008/01/14/virus-tumv-pada-tanaman-sawi-menyebar-di-indonesia/

Jan 14
Virus TUMV Pada Tanaman Sawi Menyebar Di Indonesia
Jakarta (SIB)
Hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) mengungkapkan, virus Turnip 
Mosaic (TUMV) pada tanaman sawi yang dinyatakan Departemen Pertanian belum ada 
di Indonesia ternyata telah menyebar di sejumlah wilayah Indonesia.


Pakar virus tanaman dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB, 
Sri Hendrastuti Hidayat PhD, di Bogor, Senin mengatakan, berdasarkan Kepmentan 
No.38 tahun 2006 TUMV digolongkan dalam organisme pengganggu tanaman karantina 
(OPTK) golongan A1 yang berarti belum pernah dilaporkan keberadaannya di 
Indonesia. "Namun dari hasil survey yang kami lakukan, inveksi virus Turnip 
Mosaic terjadi di beberapa daerah pertanian sayuran di Indonesia," katanya.


Virus tersebut ditemukan pada tanaman ciaisim dan pakchoi, sejenis tanaman sawi 
di beberapa wilayah seperti di Lampung, Bengkulu, Pontianak, Balikpapan, 
Samarinda, Poso dan Donggala dengan persentase infeksi hingga 83 persen. 
Sebelumnya, virus yang mengakibatkan kerusakan daun dan mengganggu pertumbuhan 
tanaman tersebut juga ditemukan telah menyebar di wilayah Jawa Barat, Jawa 
Tengah, Jawa Timur dan Bali pada sekitar 2004.


Oleh karena itu, tambahnya, Departemen Pertanian seharusnya melakukan revisi 
terhadap Kepmentan no 38/2006 dan tidak lagi memasukkan TuMV dalam OPTK 
golongan A1 namun diturunkan menjadi A2 atau dikeluarkan dari daftar OPTK 
karena sudah ditemukan menyebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.


Sementara itu Wakil Sekjen Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo), Afrizal 
Gindow menyatakan, kebijakan Deptan yang memasukkan virus Turnip Mosaic dalam 
golongan OPTK A1 berdampak pada terhentinya impor benih caisim, sejenis sawi, 
sejak 2006.


"Proses pemasukan benih golongan kubis-kubisan (Brasica) dari luar negeri untuk 
kebutuhan benih di Indonesia saat ini menemui kendala terkait status OPTK 
TUMV," katanya.
Selama ini untuk kebutuhan benih sawi jenis caisim di dalam negeri yang 
mencapai 100 ton per tahun masih mengandalkan impor karena komoditas tersebut 
tidak bisa diproduksi di Indonesia yang beriklim tropis.Afrizal yang juga 
Direktur Penjualan dan Pemasaran PT East West Seed Indonesia itu mengatakan, 
terhentinya impor benih sawi tidak hanya merugikan produsen namun juga 
berdampak pada petani.


Jika setiap hektar pertanaman sawi caisim memerlukan benih sekitar 0,5 
kilogram, lanjutnya, maka sedikitnya 200 ribu pembudidaya tanaman tersebut 
tidak bisa lagi mengembangkan usahanya kalau setiap petani mengusahakan 1 
hektar. "Dengan dikeluarkannya virus TUMV dari golongan OPTK A1 pemasukan benih 
sawi dari luar tidak lagi terkendala," katanya sembari menambahkan pasar benih 
sawi di Indonesia mencapai Rp30 miliar per tahun.


Menurut dia, impor benih golongan kubis-kubisan termasuk sawi caisim dari 
Jepang, China dan Selandia Baru yang merupakan negara produsen benih tanaman 
tersebut.
Namun semenjak ditemukan serangan TUMV setelah negara-negara tersebut 
dinyatakan tidak aman oleh Deptan maka impor hanya bisa dilakukan dari negara 
bagian Idaho Amerika Serikat.
Afrizal menyatakan, jika impor hanya dari AS tidak akan mampu memenuhi 
kebutuhan dalam negeri karena produksi di negara tersebut juga terbatas. (Ant

Kirim email ke