Ralat (refleksi dihapus) 

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=190396


 TAHU-TEMPE
Bea Masuk Kedelai Dihapus 

Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan 

Selasa, 15 Januari 2008
JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah menghapus bea masuk (BM) impor kedelai dari 
10 persen menjadi nol persen untuk sementara waktu. Langkah ini ditempuh untuk 
mengatasi keterbatasan pasok kedelai di dalam negeri yang sebanyak 70 persen 
atau 1,3 juta ton per tahun masih diimpor. 

"Rapat tadi memutuskan penghapusan bea masuk impor kedelai, karena memang 
sebagian besar pemenuhan kebutuhan kedelai melalui impor," kata Menteri 
Perdagangan Mari Elka Pangestu usai rapat koordinasi di Kantor Menko 
Perekonomian, Jakarta, Senin (14/1). Hadir dalam rapat ini antara lain Menteri 
Pertanian Anton Apriyantono serta Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali. 

Menurut Mari, pemerintah juga akan mengatasi berbagai hambatan impor kedelai, 
sehingga pasokan di dalam negeri lancar. "Kita menunggu Menkeu (Menteri 
Keuangan Sri Mulyani) pulang (dari kunjungan ke AS) untuk memfinalkan keputusan 
penghapusan bea masuk impor kedelai. Kita harapkan dalam waktu secepatnya dapat 
difinalkan dan diberlakukan," ujarnya. Namun diperkirakan penghapusan sementara 
BM impor kedelai itu diberlakukan 21 Januari 2008 melalui Peraturan Menteri 
Keuangan (PMK). 

Sampai kapan pemberlakuan BM nol persen? Mari mengatakan, tergantung 
perkembangan harga kedelai dunia. Kalau harganya turun, BM akan diterapkan 
lagi. "Pemerintah ingin di antara konsumen dan produsen ada harga yang 
seimbang. Jadi dengan harga yang tinggi saat ini, BM dinolkan. Kalau berubah 
lagi, akan kita evaluasi lagi," tuturnya. 

Pemerintah, lanjut Mari, juga ingin memberi insentif kepada petani penanam 
kedelai dalam upaya meningkatkan produksi dalam negeri. Untuk sementara waktu, 
pemerintah juga tidak akan menetapkan tata niaga kedelai, sehingga 
perdagangannya bersifat bebas. Harga kedelai di pasar internasional saat ini 
mengalami kenaikan cukup tinggi, hingga mencapai 100 persen. "Harga dunia naik 
100 persen dari 300 dolar AS per ton jadi 600 dolar AS per ton," tuturnya. 

Ketua Induk Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Inkopti) Aip Syarifuddin 
mengatakan, pembebasan BM itu harus benar-benar efektif menurunkan harga 
kedelai dan tidak hanya memberi keuntungan kepada pengusaha (importir). "Jangan 
sampai keuntungan pengusaha tambah besar, padahal harga impornya tetap. Itu 
akan tambah rusak, pemerintah rugi, sementara pengusahanya untung," katanya. 

Dia menyebutkan, saat ini importir kedelai terbatas sekali. Dari 4 importir, 
hanya 2 importir yang memiliki stok kedelai. Sehingga pengawasan dari 
pemerintah diperlukan agar harga tidak melambung. "Mau dibilang monopoli juga 
tidak, tapi faktanya pada Januari-Februari 2007 harganya masih di bawah Rp 
3.000 per kilogram. Namun saat ini sudah mencapai lebih dari Rp 7.800 per 
kilogram," ujarnya. 

Menurut Aip, langkah lain yang diperlukan adalah menjaga transparansi harga 
kedelai. Jika di negara asalnya kenaikan hanya 30 persen, maka di Indonesia 
juga tidak berbeda jauh dari angka di negara asal. Selain itu, Perum Bulog juga 
dilibatkan dalam tata niaga kedelai sebagai penyeimbang harga. "Saya minta 
penugasan kepada Bulog sebagai unsur penyeimbang dalam perdagangan komoditas 
kedelai. Kasihan ratusan ribu orang. Jadi Bulog ditugaskan importasi, karena 
selama ini Bulog tidak melakukan tugas itu," katanya. 

Menurut dia, masuknya Bulog dalam masalah kedelai bukan berarti harga kedelai 
ditentukan pemerintah. Harga tetap melalui mekanisme pasar, tapi ada 
penyeimbang. Ini karena penghapusan BM impor kedelai merupakan langkah jangka 
pendek sehingga juga harus ada upaya meningkatkan produksi dalam negeri. 

Seperti diketahui, kemarin (14/1), pengrajin tahu-tempe berunjuk rasa di depan 
Istana Presiden Jakarta. Unjuk rasa dilakukan akibat semakin melambungnya harga 
kacang kedelai impor. Aksi itu menutup ruas Jalan Merdeka Utara hingga sempat 
menimbulkan kemacetan kendaraan yang datang dari arah Gambir dan Jalan Veteran. 

Pengunjuk rasa terus merangsek maju mendekati kompleks istana hingga sebanyak 
dua kompi Brimob Polda Jaya terpaksa dikerahkan, ditambah sebanyak empat kompi 
personel dari Polres Jakpus. Pengunjuk rasa memaksa bertemu Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono, untuk menyampaikan keluhan atas tingginya harga kedelai 
impor dan langkanya pasokan akibat aksi penimbunan oleh pengusaha swasta. 

Ketua Forum Koperasi Pengrajin Tahu-Tempe DKI Jakarta M Sukaryo minta 
pemerintah memperhatikan kondisi pengrajin tahu-tempe di Tanah Air yang semakin 
sulit akibat menghilangnya kacang kedelai dan harganya yang melambung tinggi. 
"Kami minta pemerintah memperhatikan nasib kami. Lima orang perwakilan ditemui 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," katanya. 

Dari istana, produsen tahu-tempe juga berunjuk rasa ke Kantor DPR dan ditemui 
Wakil Ketua Komisi VI DPR Anwar Sanusi serta beberapa anggota Komisi VI DPR 
lainnya. 

Menanggapi aksi para pengrajin tahu-tempe, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
meminta menteri terkait membahas persoalan kenaikan harga kedelai, khususnya 
impor. Apalagi persoalan ini sudah mengakibatkan pengrajin tahu-tempe mengalami 
kesulitan. 

"Presiden sejak dulu pencinta setia tahu dan tempe, dan memerintahkan supaya 
Menteri Perdagangan serta Menteri Pertanian bertemu para pengrajin tahu-tempe," 
kata Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng usai bertemu dengan sejumlah 
wakil pengrajin tahu tempe. 

Menurut Andi, Presiden meminta Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan 
Menteri Pertanian Anton Apriyantono menjelaskan persoalan melonjaknya harga 
kedelai yang menjadi aspirasi para pengunjuk rasa. Dan pada pukul 13.00 
kemarin, Menko Perekonomian Boediono menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah 
menteri membahas persoalan tersebut. 

Sementara itu, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, kenaikan harga 
kedelai baik di pasar internasional maupun dalam negeri diharapkan memotivasi 
petani untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. "Ini memang tidak 
meningkatkan produksi kedelai secara serta-merta. Tapi ini akan mendorong 
produksi, tergantung kemampuan kita," kata Anton. (Andrian

Attachment: news_icon.html?id=190396
Description: Binary data

Kirim email ke