RIAU POS
"Kalau Ajal Saya Sampai..."
Senin, 14 Januari 2008
Pak Harto pernah bicara soal, bila kematiannya tiba, ketika masih menjadi
presiden. Wasiat tokoh kelahiran Kemusuk, Argomulyo, Jogjakarta, 21 Juni 1921
itu dipaparkan di Bab 102 halaman 561-567 buku ''Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan
Tindakan Saya''. Berikut nukilan bab berjudul Kalau Ajal Saya Sampai dalam buku
terbitan 1989 itu.
KALAU saatnya tiba saya dipanggil Yang Maha Kuasa, maka mengenai diri
saya selanjutnya sudah saya tetapkan: saya serahkan kepada istri saya.
(Ternyata Bu Tien lebih dulu meninggal pada Ahad, 28 April 1996, red).
Sebetulnya istri saya telah menerima pula ''Bintang Gerilya'' dan
''Bintang RI''. Jadi, dia juga bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Tetapi
sudahlah, ia dengan Yayasan Mangadeg Surakarta sudah merencanakan lain. Ia
dengan Yayasan Mangadeg Surakarta sudah membangun makam keluarga di Mangadeg,
tepatnya di Astana Giribangun. Dan masa, kan saya akan pisah dari istri saya!
Dengan sendirinya saya pun akan minta dimakamkan di Astana Giribangun bersama
keluarga. Kami tidak mau menyusahkan anak cucu kami, jika mereka nanti ingin
berziarah.
Memang saya pun mendengar orang bicara, bahwa belum juga saya mati, saya
sudah membuat kuburan. Padahal yang sebenarnya, kuburan itu kami buat untuk
yang sudah meninggal, antaranya untuk ayah kami (mertua saya). Selain itu,
pikiran saya menyebutkan, ''Apa salahnya, sebab toh akhirnya kita akan
meninggal juga.'' Kalau mulai sekarang kita sudah memikirkannya, itu berarti
kita tidak akan menyulitkan orang lain. Asalkan tidak menggunakan yang
macam-macam, apa jeleknya?
Omongan orang bahwa Astana Giribangun itu dihias dengan emas segala,
omong kosong. Tidak benar! Dilebih-lebihkan. Lihat sajalah sendiri.
Yang benar, bangunan itu berlantaikan batu pualam dari Tulungagung. Tentu
saja kayu-kayunya pilihan, supaya kuat. Pintu-pintu di sana, yang dibuat dari
besi, adalah karya pematung kita yang terkenal G Sidharta. Alhasil, segalanya
buatan bangsa sendiri.
Ibu mertua saya melakukan cangkulan pertama di Gunung Bangun yang
tingginya 666 meter di atas permukaan laut itu, pada hari Rabu Kliwon, 13
Dulkangidah jimakir 1906 atau 27 November 1974. Saya bersama istri sebagai
pengurus Yayasan Mangadeg Surakarta meresmikan Astana Giribangun itu pada hari
Jumat Wage tanggal 26 Rejeb ehe 1908 atau 23 Juli 1976. Kebiasaan di Jawa
mempergunakan candrasangkala. Maka kami terakan di sana sinengkalan: Rasa
Suwung Wenganing Bumi (Rasa Ikhlas Membuka Bumi) waktu ibu melakukan cangkulan
pertama itu, dan Ngesti Suwung Wenganing Bumi (Suasana Hening Membuka Bumi)
waktu kami meresmikan makam keluarga Yayasan Mangadeg itu.
Pada ketiga pintu untuk masuk ke dalam bangunan itu pun ada tulisan yang
mengutip pucung, berisikan pegangan hidup yang sudah diajarkan nenek moyang
kita secara turun-temurun. Yakni, ''hendaknya kita pandai-pandai menerima
omongan orang yang menyakitkan tanpa harus sakit hati'', ''ikhlas kehilangan
tanpa menyesal'', dan ''pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa''.
Tak jauh dari bangunan astana itu, lebih dahulu, pada tanggal 8 Juni
1971, sudah diresmikan monumen ''Tridharma'', ajaran hidup bernegara yang
sangat penting itu. Alhasil suasana di sana sesuai dengan lingkungannya.
Jadi, hendaknya dimaklumi bahwa kami membangun Astana Giribangun itu,
kita-kira 37 km dari Solo, untuk keluarga. Bahkan, tidak hanya untuk keluarga,
pengurus Yayasan Mangadeg pun bisa dimakamkan di sana. Tempat itu sudah
dikapling, dan pengelolaannya diserahkan pada Yayasan Mangadeg.
Kita yang masih hidup wajib memikirkan keluarga yang sudah meninggal,
seperti saya memikirkan ayah saya. Maka kami membangun makam untuk ayah, dan
untuk ibu sekaligus. Di samping itu, saya pikir, baik saja kita berbuat begitu
kalau kita tidak mau menyusahkan orang lain, tidak mau menyulitkan anak cucu
kita. Dan di Jawa, memang biasa kita menyiapkan tempat sebelum meninggal. Kita
menyadari bahwa besok lusa kita toh akan kembali.
Dihitung dari sejak lahirnya ''Supersemar'' sampai 1988, berarti saya
memegang pucuk pimpinan sudah dua puluh dua tahun. Saya merenungkannya kembali.
Selalu, sewaktu tugas apa pun yang diberikan kepada saya, saya mohon
petunjuk kepada Tuhan. Alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak merasa gagal
dalam memegang dan melaksanakan tugas saya.
Kalau ada yang kurang berhasil, maka lantas saya mupus, pasrah.
Artinya, saya berpikir, barangkali memang kemampuan saya cuma sampai di situ.
Saya telah berusaha dan nyatanya, seperti yang saya lihat dan pertimbangkan,
usaha saya itu berhasil sesuai dengan kemampuan saya. Begitulah saya berpikir.
Begitulah penilaian saya. Saya tak pernah merasa gagal. Tetapi, kalau ada orang
yang menilai lain mengenai hasil pekerjaan saya itu, saya serahkan kembali
penilaiannya itu kepada yang bersangkutan.
Demikian perasaan dan pikiran saya sejak masa revolusi. Apa yang
ditugaskan kepada saya, saya kerjakan dengan sebaik-baiknya, sambil memohon
bimbingan dan petunjuk kepada Tuhan.
Mengenai kesalahan, saya berpikir, ''Siapa yang mengukur salah itu? Siapa
yang menyalahkan?"
Sekarang, misalnya, pekerjaan sudah saya laksanakan, berjalan baik dan
berhasil, menurut ukuran saya. Tetapi, kalau ada orang lain yang melihat hasil
pekerjaan saya itu dari segi yang lain, lalu menilai salah atau gagal, maka
saya akan berkata, ''Itu urusan mereka.''
Saya percaya bahwa apa yang saya kerjakan, setelah saya memohon petunjuk
dan bimbingan-Nya, itu adalah hasil bimbingan Tuhan. (Bagian selanjutnya
dihilangkan karena kurang relevan dengan nuansa ''wasiat''. Diteruskan ke
bagian yang berkaitan, red).
Saya pun tahu, saya tidak luput dari kesalahan. Maka, seperti
berulangkali pernah saya katakan, di sini pun saya ulangi lagi, hendaknya orang
lain mengikuti contoh-contoh yang baik yang telah saya berikan kepada nusa dan
bangsa, menjauhi hal-hal yang buruk yang mungkin telah saya lakukan selama saya
memikul tugas saya.
Berkenaan dengan pemindahan kekuasaan, sudah saya tunjukkan jalannya,
yakni dengan cara damai dan menurut konstitusi, yang hendaknya terus berlaku
untuk masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang.
Kalau ditanya apa wasiat saya kalau saya nanti pada waktunya dipanggil
Yang Maha Kuasa? Wasiat saya, sebenarnya bukan wasiat saya sendiri, melainkan
wasiat atau pesan kita bersama. Yakni, agar mereka yang sesudah kita
benar-benar dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara RI berdasarkan
Pancasila .(
<<SOEHARTO_2.jpg>>
