HARIAN ANALISA
Edisi Kamis, 17 Januari 2008

Presiden: 
Lakukan Protes jika TKI Diperlakukan Tak Wajar 
Jakarta, (Analisa) 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Departemen Luar Negeri (Deplu) 
melakukan protes melalui nota diplomatik apabila ada perlakuan tidak wajar 
terhadap warga negara Indonesia di luar negeri, khususnya para tenaga kerja 
Indonesia (TKI). 

"Apabila ada hal yang tidak wajar, kita protes, lakukan nota diplomatik," 
katanya dalam jumpa pers usai sidang kabinet di Kantor Departemen Tenaga Kerja 
dan Transmigrasi (Depnakertrans) Jakarta, Rabu. 

Presiden juga meminta Deplu dan Depnakertrans untuk terus berkomunikasi dengan 
keluarga TKI yang mempunyai masalah hukum di tempat kerjanya di luar negeri. 

"Pastikan hak-hak mereka (TKI yang bermasalah di luar negeri-red) diberikan. 
Keadilan harus bisa ditegakkan," katanya. 

Terkait dengan TKI di Arab Saudi bernama Yanti Irianti (35) yang telah dihukum 
mati, Presiden mengaku telah menerima laporannya dari Menakertrans mengenai 
langkah yang sudah dilakukan pemerintah. 

Mengenai keinginan agar jenazahnya dibawa ke Indonesia, menurut Presiden, 
sesuai hukum di Arab Saudi, jenazah bisa diambil untuk dibawa pulang (ke 
Indonesia-Red) jika pihak keluarga ingin membawanya. 

"Kita selalu melakukan langkah perlindungan, pembelaan kepada saudara kita yang 
terlibat masalah hukum di mana mereka bekerja," katanya. 

Presiden mengatakan, dalam kasus Yanti, menurut hukum Arab Saudi, apabila ada 
pemberian maaf dari pihak keluarga atau lembaga tertentu maka hukuman bisa 
diubah, tetapi pemberian maaf ternyata tidak diberikan sampai akhir sehingga 
dijatuhkan hukuman mati. 

Gagal Temui Presiden 

Sebelumnya, Gino, suami Yanti, bersama dua anaknya dan sejumlah pengurus LSM 
"Migrant Care" gagal menemui Presiden Yudhoyono di Kantor Depnakertrans. 

Mereka yang sudah menunggu sejak sidang dimulai sekitar pukul 12.00 WIB, harus 
meninggalkan gedung Depnakertrans sebelum jumpa pers dimulai karena tidak 
mendapat izin dari aparat keamanan. 

Rapat kabinet tersebut diikuti Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah menteri kabinet 
seperti Menko Polhukam Widodo AS, Menko Perekonomian Boediono, Menneg BUMN 
Sofjan Djalil, Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Menhut MS Kaban, Menkop UKM 
Suryadharma Ali, Mendiknas Bambang Sudibyo, Mendagri Mardiyanto. 

Selain itu, Menlu Hassan Wirajuda, Menhub Jusman Sjafii Djamal, Kapolri 
Jenderal (Pol) Sutanto, Menteri PAN Taufik Effendi, Menpera Yusuf Asyari, 
Meneng PDT Lukman Edy, Menakertrans Erman Soeparno, Mensos Bachtiar Chamsyah, 
Menteri PU Djoko Kirmanto, Mentan Anton Apriyantono, dan Mensesneg Hatta 
Radjasa. 

Rapat itu juga dihadiri para pejabat eselon 1 Depnakertrans, Kepala BNP2TKI 
Jumhur Hidayat, Dirut PT Jamsostek Hotbonar Sinaga, Direktur Pelayanan 
Operasional PT Jamsostek Ahmad Anshori, dan sejumlah gubernur. 

Dalam rapat tersebut, Presiden menerima laporan mengenai kinerja Depnakaertrans 
tahun 2007 dan rencana kerja pada 2008. 

Kemudian rapat membahas rumusan langkah-langkah terpadu, bersama, baik pusat 
maupun daerah, yang menyangkut ketenagakerjaan dan transmigrasi.

Kirim email ke