http://www.sinarharapan.co.id/berita/0801/29/sh04.html
Pelajar SD dan SMP Tak Kenal Soeharto Oleh Yuyuk Sugarman SOLO - Senin (28/1) pagi, pukul 08.30 WIB, sinar matahari sudah terasa menyengat kulit. Walau begitu, sejumlah anak sekolah dasar dan pelajar sekolah menengah pertama yang terlihat berjajar di sepanjang Jl Adisucipto, Solo (arah ke Bandara Adi Sumarmo) terlihat ceria saja. Mereka berbaur dengan ribuan warga Solo lainnya. Gaya mereka bermacam-macam, ada yang berdiri tegak, ada pula yang duduk bersila sembari bercanda dengan temannya. Senin pagi itu mereka sengaja dikerahkan oleh para guru untuk ikut menyambut kedatangan jenazah Soeharto yang akan dimakamkan di Astana Giribangun, Matesih, Kabupaten Karanganyar. Bisa dipahami jika para guru mengajak mereka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada penguasa Orde Baru ini, mengingat Soeharto adalah mantan presiden RI kedua yang telah berkuasa selama 32 tahun. Namun, apakah para siswa SD dan SMP itu tahu persis dan tahu secara mendalam sosok Soeharto? Tunggu dulu. Ketika SH menanyakan siapa sosok Soeharto yang kedatangan jenazahnya ditunggu-tunggu dan dijaga oleh ribuan aparat keamanan, jawaban generasi yang lahir di era tahun 1995-an itu ternyata sungguh mengejutkan. "Saya tahu, yang meninggal itu Pak Harto, presiden RI yang kedua," kata salah seorang anak SD Negeri 5 Malangjiwan, Colomadu, Solo, dengan lantang. Selain dikenal sebagai mantan presiden, Soeharto juga dikenal sebagai apa? Sekelompok anak-anak SD ini pun diam seribu bahasa dan hanya saling toleh kepada sesama temannya, seolah mencari tahu jawaban yang pas. Ketika dipancing SH dengan menyebutkan kata Pengemban Su.... "Sumber," jawab Vella Vernando, siswa SD Negeri 5 itu. Kontan saja jawaban ini membuat orang-orang di sekitarnya tertawa. "Eh... sumber semar," terusnya lagi untuk memperbaiki jawaban. Gelak tawa pun meledak lagi. Padahal yang dimaksud SH adalah Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Minimnya pengetahuan tentang sosok Soeharto yang belakangan ini marak diberitakan oleh seluruh media massa di Indonesia, tak hanya berlaku pada anak-anak SD, tapi juga terjadi pada siswa SMP. Hal ini terbukti ketika dilemparkan pertanyaan serupa kepada mereka. "Setahu saya, bekas presiden RI yang kedua juga disebut Bapak Pembangunan. Saya tahu ini dari berita-berita di TV," tutur Sholi Nursindah, siswi kelas I SMP 3 Colomadu ini. Ketika dikejar dengan pertanyaan lain bahwa selain dikenal sebagai mantan presiden, mengapa Soeharto juga disebut sebagai bapak pembangunan, Sholi menjadi kebingungan. Demikian pula dengan teman-temannya yang berada di dekatnya. Mereka jelas tidak tahu jika Soeharto merupakan pemegang jabatan presiden terlama di Indonesia, pemegang mandat Supersemar, atau pun seorang presiden yang mempunyai wakil terbanyak. Lha, terus kenapa mereka berjajar di Jalan Adisucipto pada pagi hari yang menyengat itu? Sholi dengan lugu menjawab untuk melihat iring-iringan. "Juga ingin melihat Pak SBY datang," tutur murid berusia 12 tahun ini. Ia juga mengaku kehadirannya di sini hanya untuk memenuhi perintah gurunya. "Saya nggak tahu, pokoknya disuruh ikut saja," lanjutnya. Kurikulum Sejarah Menanggapi minimnya pengetahuan tentang sosok Soeharto, Prof Dr Suhartono, dosen pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) merasa prihatin. Menurut Suhartono yang dihubungi SH via telepon, Senin (28/1) malam, ini merupakan petaka. Sebagai bangsa besar yang tak mengenal para pemimpin atau mantan pemimpinnya, tentu jadinya tidak karu-karuan. Melihat kenyataan ini, Suhartono merasa perlu untuk menyerukan agar pelajaran sejarah digalakkan lagi. Sebab kalau tidak, bangsa ini akan kehilangan identitas yang pada akhirnya rasa nasionalismenya hilang. "Akhirnya, kita nantinya ora nduweni (tidak merasa memiliki)," kata guru besar yang juga Ketua Prodi Budaya dan Media pada program S2 UGM itu mengingatkan. Menurut Suhartono, minimnya pengetahuan sejarah pada anak-anak karena selama ini banyak pelajaran sejarah yang disunat atau tidak dipakai lagi sebagai bahan ujian. Dengan kata lain, pelajaran sejarah tak lagi menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri namun digabung dengan IPS. Bahkan jam pelajarannya pun dikurangi. Padahal sejarah itu mempelajari masa lampau untuk dasar menapak ke masa depan. Oleh karenanya, Suhartono menyerukan agar segera dipikirkan ulang penggabungan pelajaran sejarah ke dalam IPS. Untuk itu harus ada perubahan kurikulum. Dan untuk mengubah kurikulum tentu harus berurusan atau berkaitan dengan siapa arsitek kurikulum itu. "Pertanyaannya, apakah arsiteknya itu tahu sejarah atau tidak? Saya kira harus segera ada perubahan kurikulum. Kalau tidak, kita bisa kehilangan identitas," tegasnya. Hari semakin siang. Sekitar pukul 10.25, iring-iringan jenazah keluar dari Bandara Adi Sumarmo Solo menjuju Astana Giribangun, Matesih. Dengan kecepatan yang hanya sekitar 30 km per jam dan tanpa sirine, konvoi ini melaju perlahan, untuk memberi kesempatan warga Solo memberikan penghormatan terakhir kepada sang jenderal besar ini. Tampak Siti Hardiyati Rukmana, alias Tutut, putri sulung Soeharto, berkali-kali melambaikan tangan kepada warga Solo yang memadati pinggiran jalan sebagai pertanda ucapan terima kasih atas kesediaan warga Solo memberikan penghormatan terakhir kepada ayahnya. Laju konvoi semakin jauh. Warga yang sengaja menunggu kedatangan jenazah Soeharto membubarkan diri. Demikian pula anak-anak kembali ke sekolahnya masing-masing. Entah apa yang tertanam dalam pikiran mereka setelah melihat prosesi yang luar biasa ini
