http://www.tribun-timur.com/view.php?id=61805&jenis=Nasional
Selasa, 29-01-2008 Habibie Sedih Dicuekin Soeharto... Konflik Antara Soeharto dan Muridnya JAKARTA kian tegang! Tekanan mahasiswa agar Soeharto lengser kian liar. Di saat yang sama elite-elite politik terus bergerilya. Misi mereka seragam. Merapatkan barisan, mendorong perubahan, dan ini berarti lengserkan Soeharto. Sehari menjelang pengunduruan diri Soeharto, Wapres Habibie meminta ajudannya, Kolonel (Mar) Djuhana, menghubungi Soeharto. Namun, Pak Harto punya pikiran lain. Dia menolak keinginan murid kesayangan yang dia kenal saat bertugas di Pare-pare, saat Habibie masih berusia 15 tahun, di tahun 1950-an. Melalui Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyid, Pak Harto hanya menyampaikan, 21 Mei 1998, dia akan menyerahkan otoritasnya ke Habibie. Itu membuat Habibie terkejut. Dia ngotot bertemu Soeharto. Ajudan Soeharto menyanggupi dan berjanji mempertemukan sebelum ke Istana Presiden. Saat tamu pulang, Habibie memantau perkembangan Jakarta dari internet. Tiba-tiba Kol Djuhana melaporkan Panglima ABRI Jend Wiranto minta waktu bertemu. Mengaku ingin istirahat Habibie menolak. Pukul 06.45, Wiranto datang lagi. Hingga pukul 07.25 Wiranto melaporkan keadaan Jakarta dan inpres yang diteken Presiden Soeharto untuk bertindak demi keamanan dan stabilitas negara. Inpres ini semacam Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Habibie juga menegaskan agar tetap mengamankan keluarga Soeharto. Tapi Habibie gelisah. Dia masih ingin mendengarkan penjelasan dari Soeharto, Tapi Pak Harto tetap bersikeras menolak bertemu Habibie.Habibie tak berkecil hati. Dia masih punya harapan. Sebelum pernyataan pengunduran diri, Habibie berharap Soeharto mengabulkan permohonannya. Pukul 08.00 Habibie sudah di Istana. Tapi ajudan presiden hanya mempersilakan ketua dan anggota Mahkamah Agung ke ruang Jepara. Kepada ajudan, Habibie kembali menanyakan dia datang lebih dulu dan sudah janjian bertemu Soeharto. Tapi Soeharto kukuh menolak Habibie. "Betapa sedih dan perih perasaan saya ketika itu. Saya melangkah ke ruang upacara mendampingi Presiden Soeharto, manusia yang saya sangat hormati, cintai, dan kagumi yang ternyata menganggap saya seperti tidak ada.Saya melangkah sambil memanjatkan doa dan memohon agar Allah SWT memberi kekuatan, kesabaran, dan petunjuk untuk mengambil jalan yang benar," tuturnya. Satu dekade berlalu keinginan Habibie tetap sikap penolakan Soeharto. Beberapa kali, Habibie ingin bertemu Soeharto. Momen Lebaran dan hari ulang tahun Soeharto selalu jadi harapannya. Hingga akhirnya, tanggal 15 Januari 2008, saat Soeharto kritis di RSPP Habibie ajukan niat baik. Tapi Soeharto tetap diam dalam sakitnya. "Dengan Bismillahirrahmanirrahim, pergilah pulang. Kau harus bezuk Pak Harto!" kata Fannie Habibie, adik kandung Habibie, menyemangati kakaknya untuk sekedar menyapa Soeharto saat masih Habibie masih di Jerman. "Bagaimana kalau saya ditolak lagi?" jawab BJ Habibie. "Tidak apa, Rud. Jika memang kau ditolak lagi, terimalah dengan lapang dada. Yang penting, pergilah. Aku sebagai adik mendukung kau pulang untuk menemui Pak Harto dalam kondisi yang seperti ini," ujar Fannie, seper Dan hingga Soeharto menghembuskan nafas terakhirnya, Minggu (27/1) lalu, harapan Habibie tetaplah penolakan Soeharto. Dari Jerman, Rudy, sapaan Habibie, hanya mengutus anaknya, Thareq dan Kamal ke Cendana, tempat Soeharto disemayamkan. Ada peristiwa menarik? SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233 email: [EMAIL PROTECTED] Hotline SMS untuk berlangganan Tribun Timur edisi cetak: 081.625.2266. Telepon: 0411 (8115555) (Persda Network/ahmad subechi/zil)
