http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008032214150318

Minggu, 23 Maret 2008


Jalan Rusak, Perekonomian Tersendat 


      JALAN rusak diyakini menjadi biang dari ketidaklancaran distribusi 
barang, komoditas bahkan manusia sendiri. Kerugian tidak hanya waktu tempuh, 
tetapi juga menjalar kepada persoalan perekonomian secara umum.

      Pengamat ekonomi Unila, Asrian Hendi Caya, membenarkan jika kerusakan 
jalan memiliki efek domino yang luas. Tidak hanya pada kenyamanan penggunan 
jalan dan kerugian waktu tempuh, tapi juga berdampak pada terhambatnya kegiatan 
perekonomian.

      "Bisa dibayangkan kerusakan jalan telah menghambat pasokan aneka 
komoditas pertanian dan pangan dari sentra-sentra pertanian di Lampung. 
Akibatnya harga aneka komoditas naik dengan bilangan persentase yang tinggi. 
Ujung-ujungnya, masyarakat menjerit karena harus mengeluarkan biaya ekstra. 
Singkat kata, diakui atau tidak, roda perekonomian bisa tersendat lantaran 
kondisi infrastruktur yang buruk," kata Asrian, yang dihubungi, Jumat (21-3).

      Tidak heran, kata Asrian, bila Lampung yang identik sebagai sentra 
pertanian, perkebunan, perikanan, dan sedikit energi, selama puluhan tahun 
sulit memberantas kemiskinan. Meski kaya dengan sumber daya alam, beberapa 
kabupaten di provinsi ini masih bertengger dalam daftar daerah tertinggal 
lantaran tidak memiliki infrastruktur jalan yang memadai. Selama puluhan tahun 
pula, kekayaan alam di daerah-daerah ini sulit dipasarkan keluar lantaran 
minimnya sarana transportasi.

      Berbagai komoditas pertanian, kata Asrian, idealnya menggerakkan ekonomi 
kerakyatan. Namun, infrastruktur yang buruk membuat komoditas pertanian sulit 
dipasarkan ke luar daerah. "Terlalu besar cost (biaya) yang harus dikeluarkan 
petani sehingga sentra-sentra pertanian berubah menjadi daerah-daerah 
terisolasi," kata Asrian.

      Beberapa warga yang tinggal di kawasan perkebunan di Tulangbawang juga 
membenarkan hal tersebut. Mereka mengaku kesulitan menjual hasil bumi mereka 
lantaran kondisi jalan yang rusak parah.

      Surip, warga Kampung Tanjungmas Makmur, yang merupakan sentra padi untuk 
Kabupaten Tulangbawang, mengatakan masyarakat di sana kesulitan mengeluarkan 
hasil bumi. "Dengan kondisi ini (jalan rusak, red), kami jadi susah menjual 
gabah. Belum lagi ditambah panen yang gagal tahun ini," kata Surip (Lampung 
Post, edisi 17 Maret 2008).

      Tidak hanya mengganggu roda perekonomian, kerusakan jalan juga 
meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas. Tidak terhitung sudah berapa jumlah 
korban dan jiwa yang melayang dalam kecelakaan lalu lintas akibat kondisi jalan 
yang berlubang.

      Dirman, misalnya. Warga Rajabasa itu terpaksa mendapat perawatan intensif 
di rumah sakit lantaran terjatuh dari sepeda motor saat berusaha menghindari 
jalan berlubang di Jalan Soekarno-Hatta.

      Kerusakan jalan yang cukup parah di Kecamatan Ketapang--Sragi, Lamsel, 
juga kerap menyebabkan terjadi kecelakaan lalu lintas dan membuat mobil kecil, 
seperti sedan dan pikap patah as.

      "Hampir setiap hari terjadi kecelakaan. Apalagi kalau musim hujan, jalan 
yang rusak itu tergenang air sehingga pengguna jalan kesulitan melintas. 
Pasalnya, kedalaman kerusakan jalan hingga 1 meter," kata Saryani, warga Desa 
Legundi, Kecamatan Ketapang. Dia mengaku kendaraan yang ditumpangi pernah patah 
as di jalan yang rusak itu, Minggu (9-3). n ITA/
     

<<bening.gif>>

Kirim email ke