Republika
Minggu, 23 Maret 2008

Membela Rakyat 
Oleh : KH Didin Hafidhuddin 



Fenomena gizi buruk dan penyakit busung lapar semakin hari semakin 
memprihatinkan. Belum lama ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan 
negeri ini, yaitu meninggalnya seorang ibu hamil bersama puterinya yang berusia 
lima tahun akibat tidak makan (kelaparan) selama tiga hari di sebuah kota di 
wilayah timur Indonesia. Sedangkan puteranya yang lain, dirawat secara intensif 
di sebuah rumah sakit di kota tersebut, dan beruntung dapat diselamatkan. 

Demikian pula dengan kasus gizi buruk yang melanda wilayah-wilayah lain di 
Tanah Air. Bahaya yang mengancam masa depan bangsa sangat jelas terlihat akibat 
gizi buruk yang menimpa anak-anak bangsa. Bagaimanapun, mereka adalah harapan 
kita di masa depan. Begitu pula dengan keadaan sosial masyarakat Indonesia yang 
dirasakan semakin hari semakin berat. Daya beli masyarakat sebagai contoh, 
semakin lama semakin mengalami penurunan. 

Berdasarkan kajian Tim Indonesia Bangkit, upah riil petani pada 2007 mengalami 
penurunan sekitar 0,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian pula 
dengan upah riil buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan tukang potong 
rambut, mengalami penurunan masing-masing sebesar dua persen, 0,5 persen, dan 
2,5 persen. 

Masih dalam periode yang sama, upah riil buruh industri mengalami penurunan 
sebesar 1,2 persen. Menurunnya upah riil kelompok rakyat kecil tersebut 
mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi tahun lalu sesungguhnya 
lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat menengah ke atas (Beik dan 
Hakiem, 2008). 

Sementara itu, harga minyak goreng juga terus melambung. Di kota-kota besar 
nampak terlihat dengan jelas masyarakat antre untuk mendapatkan minyak goreng 
curah. Sebuah kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah negeri 
yang subur, tempat berbagai tanaman dapat tumbuh dengan baik, namun ternyata 
mengalami fenomena banyaknya orang yang kelaparan, kurang gizi, harga-harga 
barang kebutuhan pokok yang terus merambat naik, dan angka pengangguran serta 
kemiskinan yang juga tinggi. 

Kita khawatir negeri ini seperti yang digambarkan oleh Allah SWT dalam QS 16 : 
112, Allah berfirman : "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) 
sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya 
melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari 
nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan 
dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat."

Sesungguhnya pemerintah telah berusaha untuk keluar dari situasi ini. Sejumlah 
kebijakan telah dilaksanakan oleh pemerintah, seperti bantuan langsung tunai, 
bantuan tunai bersyarat hingga program raskin (beras untuk orang miskin). 
Termasuk pula kebijakan untuk mengembangkan UKM. Namun demikian, seringkali 
kebijakan-kebijakan tersebut tidak efektif di lapangan karena tidak amanahnya 
sebagian pejabat dan aparat yang bertanggung jawab dalam proses eksekusinya. 

Akibatnya seringkali terjadi, rakyat yang seharusnya menerima bantuan namun 
ternyata tidak menerima karena kesalahan dalam pendataan. Untuk itu diperlukan 
adanya proses perbaikan yang kontinyu ke depan. Tiga Pilar Solusi Di tengah 
beratnya situasi yang dihadapi, optimisme harus senantiasa tumbuh dalam diri 
setiap warga negara. Kembali pada Alquran dan sunnah merupakan sebuah kebutuhan 
dan keharusan. 

Ada tiga langkah solusi yang dapat dilaksanakan sebagaimana yang dinyatakan 
dalam QS 106 : 3-4. Allah SWT berfirman : "Maka hendaklah mereka menyembah 
Tuhan pemilik rumah ini (Ka'bah) (3). Yang telah memberi makanan kepada mereka 
untuk menghilangkan lapar, dan mengamankan mereka dari ketakutan (4)."

Pertama, pemerintah dan rakyat harus lebih meningkatkan kualitas keimanan, 
keyakinan dan ibadah kepada Allah SWT. Hal tersebut merupakan prasyarat mutlak 
untuk mendatangkan pertolongan Allah. Agar negeri ini mampu menghasilkan 
kualitas manusia yang demikian, maka pengembangan sektor pendidikan menjadi 
sebuah keniscayaan. 

Ia merupakan pilar yang sangat penting di dalam menumbuhkan karakter bangsa 
yang berkualitas. Pendidikan yang dimaksud juga bukan sekadar transfer of 
knowledge. Melainkan lebih pada perubahan sikap dan karakter, dari sifat malas 
menjadi memiliki etos kerja yang kuat, dari pesimis menghadapi masa depan 
menjadi optimis, dan lain-lain. 

Untuk itu, dibutuhkan adanya contoh dan teladan dari para pemimpin, termasuk 
para ulama dan pendidik. Salah satu sebab keberhasilan Rasulullah SAW dalam 
membangun masyarakat Madinah pada saat itu, karena beliau memimpin dengan 
memberikan contoh. Sehingga masyarakat melihat apa yang dilakukannya. Dan bukan 
semata-mata apa yang dikatakannya.

Bukti perbuatan nyata lebih memberikan pengaruh yang signifikan dibandingkan 
dengan retorika semata. Hal lain yang juga sangat penting dalam konteks ini 
adalah alokasi anggaran untuk pendidikan dalam APBN yang secara konsisten harus 
memenuhi 20 persen dari total anggaran. Kedua, membebaskan masyarakat dari 
kelaparan, melalui pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi dengan cara memanfaatkan 
sumber daya alam lokal yang tersedia secara optimal (local-based resources). 

Keberpihakan terhadap petani dan nelayan perlu menjadi agenda nasional, karena 
merekalah ujung tombak yang sangat mempengaruhi produksi pangan nasional. Peran 
BULOG dalam membela petani harus dioptimalkan. Demikian pula dengan penyediaan 
modal kerja bagi petani dan nelayan harus menjadi skala prioritas utama. Dalam 
hal ini, pemerintah dapat pula memanfaatkan instrumen sukuk sebagai gerbang 
investasi yang kini juga dimanfaatkan oleh negara-negara lain.

Ketiga, memberikan rasa aman kepada masyarakat baik secara fisik maupun mental, 
melalui optimalisasi peran aparat di dalam memberikan perlindungan kepada 
masyarakat. Kita berharap peran aparat sebagai pelayan masyarakat dapat terus 
menerus ditingkatkan. Misalnya, melihat secara langsung kondisi masyarakat 
merupakan sebuah keniscayaan. 

Ada baiknya pernyataan Umar bin Kaththab ketika menjadi khalifah dijadikan 
sebagai renungan. Beliau menyatakan "Pada masa pemerintahanku, jangankan 
manusia, binatang pun tidak boleh ada yang mati kelaparan". Wallahu'alam bi 
ash-shawab.

Kirim email ke