http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.24.00471990&channel=2&mn=158&idx=158
Indonesia di Luar Negara Senin, 24 Maret 2008 | 00:47 WIB Satjipto Rahardjo Indonesia di luar negara itu sungguh ada, tetapi belum dilihat sebagai suatu komunitas disting (distinct) yang utuh, apalagi dibicarakan. Sorotan kepadanya masih dilakukan lepas-lepas sehingga sosoknya yang utuh tidak tampil. Indonesia di luar negara adalah kehidupan nyata yang tidak pernah memasang label negara di depan namanya. Ia ada dan bergerak dalam ranah ekonomi, hukum, dan lainnya. Sejak kelahiran negara modern pada abad ke-18, ia tumbuh menjadi suatu institusi raksasa yang mengisap dan menggusur komunitas sosial yang ada. Bahkan, komunitas sosial-politik yang sudah ada sebelum kelahiran negara modern dibabat habis oleh "monster" baru bernama negara. Diciptakanlah konsep kedaulatan negara yang memberi legitimasi terhadap bangunan hegemonial itu. Atas nama kedaulatan negara tidak ada toleransi terhadap kehadiran komunitas sosial politik lain dalam wilayah negara. Semua harus mendapat izin dari negara untuk diakui keberadaannya dalam wilayah negara. Selanjutnya, perjalanan negara menunjukkan, kemampuan untuk merobohkan komunitas dan kehidupan sosial yang ada tidak dibarengi kemampuan untuk mengelola kehidupan dalam negara itu dengan baik. Eksistensi negara yang dengan rakus mengangkangi kehidupan menjadi ibarat rumah yang "besar pasak daripada tiang". Hegemoni negara modern tidak dibarengi kapasitas dan kapabilitas untuk mengelola kehidupan di dalamnya. Kekuatan berbagai komunitas yang tergusur oleh negara muncul kembali mengisi dan menggantikan ketidak-kompetensian negara mengelola kehidupan. Negara tidak berdaya menolaknya karena tidak mampu. Masyarakat sendiri membutuhkan kehadiran komunitas-komunitas di luar negara itu. Inilah hakikat kehadiran komunitas di luar negara yang kita bicarakan ini. "Negara di luar negara" adalah realitas. Di seluruh dunia, dalam kadar berbeda-beda, fenomena itu terjadi dan Indonesia ikut me- nampilkannya. Di Indonesia juga ada Indonesia lain di luar negara Indonesia. Indonesia alternatif. Kini, dalam suasana krisis, tampilan dan kinerja Indonesia alternatif di luar negara itu terasa kian meluas karena kedodoran dalam mengelola kehidupan bangsa. Tesis weak state, strong sociey jadi kenyataan. Saat suatu negara lemah, masih ada kekuatan sosial, ekonomi, dan hukum di masyarakat yang mampu menopang negara bersangkutan sehingga tidak betul-betul ambruk. Serba informal Tampilan "negara alternatif" itu berbeda-beda pada tiap bangsa. Ada yang berformat kecil, ada juga yang berformat besar. Peru, sebagaimana diteliti Fernando de Soto, menampilkan fenomena negara di luar negara dengan masif. Hambatan dan kesulitan sektor informal Peru untuk masuk dunia legal (baca: negara) amat besar sehingga sektor itu harus mencari jalan sendiri agar dapat bertahan. Ini yang mengilhami De Soto berbicara tentang The Other Path. Disebabkan berbagai hambatan birokrasi negara, muncul di Peru "pemukiman informal", "transportasi informal", "pasar informal", dan lainnya. Di Indonesia juga ada banyak kekuatan di luar negara. Di tengah citra buruk pengadilan, muncul dan digelar pengadilan versi rakyat di Desa Keboromo, Jawa Tengah. Saat rakyat desa itu mengetahui sejumlah pamong desa korupsi dengan menilep hasil penjualan tanah desa untuk pelebaran jalan, rakyat membawa mereka ke meja hijau kreasi rakyat. Sidang berlangsung sembilan jam, menunjukkan serius pengadilan. Para pamong pun menyerah dan bersedia mengembalikan uang korupsi ke kas desa. Sidang berlangsung tanpa hukum acara, tanpa hukum pidana, tanpa jaksa penuntut hukum, tanpa hakim negara, di luar gedung pengadilan, tetapi berhasil baik. Yang cantik adalah rakyat menyerahkan para "terdakwa" untuk diproses menurut hukum negara. Di tengah citra buruk pengadilan dan institut hukum, "pengadilan di luar pengadilan negara" di Keboromo itu merupakan air penghapus dahaga. Aktivitas publik di luar institut-institut negara tidak boleh diperlakukan sekadar aksesori institut negara. Kehadirannya merupakan prestasi serius di tengah kemerosotan prestasi institut-institut negara formal. Indonesia tak boleh hanya diisi potret aktivitas dan prestasi institut negara, tetapi juga dinamika kehidupan di luar negara. Ketika ekonomi negara lumpuh, saat pemerintahan tertatih-tatih, muncul Indonesia di luar negara, seperti Sragen, Tarakan, Jembrana, Gorontalo. Indonesia di luar negara adalah the greening of Indonesia, Indonesia harapan. Satjipto Rahardjo Guru Besar Sosiologi Hukum Universitas Diponego
