Refleksi: Selama ini mengimpor beras dan gula, berarti kekurangan pangan bukan lagi kemungkinan, tetapi suatu hal biasa.
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.24.01382533&channel=2&mn=162&idx=162 Pertanian Besar, Kemungkinan Kekurangan Pangan Senin, 24 Maret 2008 | 01:38 WIB Brebes, Kompas - Gara- gara produksi padi di sejumlah daerah di Indonesia menurun dan harga beras dunia mahal, kemungkinan terjadi kekurangan pangan di dalam negeri, besar. Produksi padi nasional tidak memadai, sementara impor sulit dilakukan. Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah harus memberi perhatian serius serta menambah alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN untuk peningkatan produksi pertanian. Anggota Komisi IV DPR, Marjono, mengatakan hal itu saat panen padi di Desa Glonggong, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (22/3). Panen dilakukan bersama dengan Kelompok Berkah Tani. Kurang berhasil Menurut Marjono, produksi padi nasional saat ini menurun dan tidak memenuhi target yang ditetapkan. Hal itu terjadi karena bencana di sejumlah daerah. Selain itu karena kurang berhasilnya Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN), seperti pengadaan benih. Pada bulan Februari, program pengadaan benih seharusnya sudah selesai dilakukan. Akan tetapi, hingga saat ini hanya sekitar 60 persen hingga 70 persen yang dapat diselesaikan. Padahal, musim tanam sudah berlalu. Menurut dia, selain penurunan produksi, harga beras dunia saat ini juga tinggi, melebihi harga di dalam negeri. Beberapa negara yang surplus beras, seperti China, enggan menjual beras mereka ke pasar dunia. Akibatnya, impor beras sulit dilakukan. Padahal kebutuhan beras di Indonesia, dengan jumlah penduduk 200 juta, sangat besar. Kondisi itu membuat kemungkinan terjadinya kekurangan pangan di Indonesia menjadi lebih besar. (wie
