Refleksi: Apakah tidak aneh bila gejolah harga minyak dijadikan alasan 
kemacetan ekonomi bagi negeri penghasil bahan bakar [minyak dan gas alam]? 
Bukankah  seharusnya meriah keuntungan berlipat ganda dengan melonjaknya harga 
minyak dipasar duinia, dan dengan keuntungan dari kenaikan harga minyak dipakai 
membiayai perkembangan dan pertumbuhan ekonomi sebagaimana mestinya? Masalahnya 
akan lain bila sumber migas itu tidak lagi dimiliki dan juga penguasa negara 
adalah kaum kleptokratik alias tukang copet.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=195525

 GEJOLAK HARGA MINYAK
Ekonomi Tangguh Jadi Pertaruhan Pemerintah 

Hendri Saparini, Direktur Pelaksana Econit Advisory Group 

Selasa, 25 Maret 2008
JAKARTA (Suara Karya): Pilihan kebijakan dalam mengantisipasi tekanan gejolak 
harga minyak mentah dan komoditas pangan di pasar dunia menjadi pertaruhan 
pemerintah untuk memastikan bahwa ekonomi nasional tangguh dalam menghadapi 
tekanan harga minyak mentah maupun komoditas pangan di pasar dunia sekarang 
ini. 

Jika kebijakan yang dipilih bersifat konservatif serta minimalis, ekonomi 
nasional mustahil bisa tetap aman dan sehat. 

Untuk itu, langkah pemerintah tidak cukup sebatas mengotak-atik alokasi dana 
dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), khususnya subsidi, karena 
berisiko menaikkan harga berbagai barang dan komoditas pangan yang menjadi 
kebutuhan pokok masyarakat. 

Demikian pendapat Direktur Pelaksana Econit Advisory Group Hendri Saparini, 
kemarin, di Jakarta, saat dimintai komentarnya atas pernyataan Wapres Jusuf 
Kalla yang menyebutkan bahwa gejolak harga minyak dunia tak bakal membuat 
ekonomi nasional kolaps atau bangkrut. Selain Saparini, beberapa anggota DPR 
juga dimintai pendapatnya. 

Menurut Saparini, di saat tekanan harga minyak dan komoditas pangan di pasar 
global terhadap ekonomi nasional tidak bisa diminimalisasi, daya beli 
masyarakat jelas menurun drastis. Karena itu pula, tingkat inflasi pada tahun 
ini kemungkinan lebih tinggi dibanding tahun lalu. 

"Angka inflasi selama tahun ini bisa dua kali lipat dibanding tahun lalu karena 
gejolak harga terjadi sejak awal tahun, sementara pada tahun lalu mulai Mei," 
ujarnya. 

Kondisi kurang menguntungkan itu, menurut Saparini, diperparah oleh iklim usaha 
di dalam negeri yang tak kunjung membaik sehingga lapangan kerja tetap sempit 
dan menyulitkan masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah. Di sisi lain, 
industri manufaktur juga memiliki kendala untuk meningkatkan daya saing akibat 
ekonomi biaya tinggi. 

Faktor itu pula yang membuat pertumbuhan industri manufaktur jauh di bawah 
ekspektasi, karena hanya mencapai 5 persen pada tahun lalu. 

"Tahun ini, angka tersebut diperkirakan masih menurun. Padahal, dulu, 
pertumbuhan industri manufaktur bisa mencapai 7 persen," kata Saparini. 

Menurut dia, kinerja sektor industri terganjal biaya produksi yang terus 
meningkat, sementara pasar semakin kecil akibat penurunan daya beli masyarakat. 
Karena itu, dampak kenaikan harga minyak mentah dan komoditas pangan di pasar 
dunia jelas tak bisa dipandang remeh. "Dampak itu demikian dalam dan luas 
sekali," ujarnya. 

Itu jelas merupakan tantangan bagi pemerintah untuk menjaga kehidupan ekonomi 
nasional tetap sehat serta membuat masyarakat tidak megap-megap terbebani 
dampak pilihan kebijakan terkait gejolak harga minyak mentah dan komoditas 
pangan dunia. 

Saparini mengakui, tantangan itu berat dan sulit. Bahkan nyaris mustahil 
masyarakat tak terbebani dampak gejolak itu. "Terus terang saja, kalau pilihan 
kebijakan pemerintah adalah memangkas subsidi bagi rakyat, itu hanya solusi 
sementara. Kebijakan itu sulit bisa berdampak mengembangkan ekonomi 
masyarakat," katanya. 

Sementara itu, anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Golkar Azwar Chesputera 
mengatakan, Indonesia memang tidak akan sampai mengalami krisis ekonomi, meski 
harga minyak dan komoditas pangan dunia terus bergejolak. Apalagi, berdasarkan 
data di lapangan, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan 
pendapatan per kapita, ekonomi nasional sudah tidak lagi dilanda krisis seperti 
satu dasawarsa lalu. 

"Apa yang disampaikan Wapres Jusuf Kalla (tentang potensi krisis ekonomi) itu 
benar adanya. Walaupun tentu kita belum benar-benar lepas dari krisis, terutama 
bila melihat ketahanan pangan kita yang masih terlihat rentan," katanya. 

Tapi Azwar tidak memungkiri bahwa masyarakat kebanyakan kini menanggung beban 
berat terkait gejolak harga pangan belakangan ini. Karena itu, dia meminta 
pemerintah agar benar-benar mengamankan pasokan dan harga komoditas pangan 
masyarakat. Itu, katanya, harus menjadi perhatian utama pemerintah. "Pasokan 
jangan sampai berkurang. Harga-harga juga mesti bisa tetap relatif terjangkau 
masyarakat kebanyakan," ujarnya. 

Untuk itu, Azwar menyeru agar peran dan fungsi Perum Bulog dikembalikan sebagai 
stabilisator harga kebutuhan pokok masyarakat. "Jangan menyerahkan penuh 
masalah pasokan serta harga kebutuhan pokok masyarakat kepada mekanisme pasar," 
katanya. 

Azwar mengingatkan, sekarang ini pasar dikuasai cukong, sehingga rakyat tak 
berdaya menghadapi kenaikan harga-harga barang dan jasa, termasuk kebutuhan 
pangan. Dia yakin, kalau posisi Bulog dikembalikan sebagai institusi 
stabilisator harga kebutuhan pokok masyarakat, niscaya rakyat tidak menjadi 
bulan-bulanan cukong. 

Sementara itu, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) 
Dradjad Wibowo menilai, pernyataan bahwa Indonesia sudah lepas dari krisis dan 
tahan akan goncangan gejolak ekonomi eksternal, justru tidak mempunyai dasar 
alasan yang jelas. "Kalau ukurannya pendapatan per kapita rakyat Indonesia 
sudah di atas 2.000 dolar AS, itu pendapatan warga Indonesia yang mana? Saat 
ini, pendapatan per kapita rakyat Indonesia sedikit di atas upah minimal 
provinsi (UMP). Namun, tidak sampai 2.000 dolar AS per kapita. Apalagi UMP 
hanya sekitar Rp 950.000," kata Dradjad. 

Jadi, lanjutnya, kalau diukur dengan UMR, jelas pendapatan masyarakat Indonesia 
saat ini berada di kisaran pas-pasan. Apalagi dengan kondisi harga sembako saat 
ini, pendapatan sebesar itu jadi tidak bernilai dan jauh di bawah kebutuhan 
hidup rakyat Indonesia sehari-hari. "Jadi saya nilai, pernyataan Pak Wapres itu 
tidak mendasar. Seharusnya melihat ke bawah agar mengetahui bagaimana kehidupan 
rakyat yang sebenarnya," kata Dradjad Wibowo. (Abdul Choir/Kartoyo D

Attachment: news_icon.html?id=195525
Description: Binary data

Kirim email ke