======================================  
  THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER
  [ Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia" ]  
  =======================================
  [Ec_Q]
   
   
  BANK KAUM MISKIN
   
  Belajar dari : 
  Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
  Memerangi Kemiskinan
   
  Oleh : Muhammad Yunus
  Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
  Bersama Alan Jolis
   
  06. Bencana Kelaparan
   
  TAHUN 1974 Bangladesh jatuh ke dalam cengkeraman bencana kelaparan.
   
  Universitas tempat saya mengajar dan menjabat sebagai dekan Fakultas Ekonomi 
berada di ujung paling tenggara Bangladesh. Awalnya kami tidak terlalu menaruh 
perhatian pada berita-berita koran mengenai kematian dan kelaparan yang terjadi 
di desa-desa terpencil wilayah utara. Tetapi kemudian orang-orang 
sekurus-kering tengkorak mulai bermunculan di stasiun kereta api dan terminal 
bis ibukota Dhaka. Dengan cepat kedatangan mereka meluap bak air bah. Orang 
lapar ada di mana-mana. Seringkali mereka duduk begitu diam sampai sulit bagi 
kita untuk membedakan apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Mereka 
semuanya kelihatan mirip: bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak. Orang tua terlihat 
seperti anak-anak, dan anak-anak terlihat seperti sudah tua.
   
  Pemerintah membuka dapur-dapur umum darurat. Tapi setiap dapur umum baru 
langsung kehabisan beras. Wartawan-wartawan surat kabar mencoba mengingatkan 
masyarakat tentang luasnya bencana kelaparan ini. Lembaga-lembaga riset 
mengumpulkan statistik tentang sumber dan penyebab migrasi penduduk ke 
perkotaan. Organisasi-organisasi keagamaan memobilisir kelompok-kelompok warga 
untuk mengangkati mayat-mayat dari jalanan dan menguburkannya dengan ritual 
selayaknya. Tetapi segera saja kegiatan sederhana mengumpulkan mayat ini 
berubah menjadi tugas berat yang membuat kelompok-kelompok ini kewalahan 
menanganinya.
   
  Orang-orang lapar itu tidak meneriakkan slogan apapun. Mereka tidak menuntut 
apapun dari kami, penduduk kota yang berkecukupan pangan ini. Mereka hanya 
terbaring dengan begitu sunyi di pintu-pintu rumah kami dan menunggu mati.
   
  Ada banyak cara untuk mati, tapi bagaimanapun, mati akibat kelaparan adalah 
yang paling tidak bisa diterima. Kematian yang berjalan dengan lamban. Detik 
demi detik, jarak antara hidup dan mati menjadi susut dan kian susut, sampai 
keduanya menjadi begitu rapat dan kita tidak bisa lagi membedakannya. Ibarat 
tidur, mati akibat kelaparan berlangsung begitu senyap, tanpa bisa dihindari, 
orang, yang melaluinya pun bahkan tidak bisa merasakannya. Dan semua ini 
gara-gara tidak adanya sekepal nasi pada saat makan. Di dunia yang berlimpah 
ini seorang bayi mungil yang belum memahami sengsara dunia dibiarkan menangis 
dan menangis sampai akhirnya tertidur tanpa susu yang dibutuhkan untuk hidup. 
Esoknya, bayi mungil itu mungkin tidak memiliki kekuatan untuk melanjutkan 
hidupnya.
   
  Saya biasa merasakan gelora dalam menguliahi mahasiswa-mahasiswa saya 
mengenai teori-teori ekonomi elegan yang dianggap bisa mengatasi segala macam 
persoalan kemasyarakatan. Tetapi di tahun 1974 itu, saya mulai muak dengan apa 
yang saya ajarkan. Apa hebatnya teori-teori rumit itu manakala orang-orang 
tengah sekarat kelaparan di trotoar dan emperan seberang ruang kuliah tempat 
saya mengajar? Kuliah-kuliah saya menjadi seperti film-film Amerika di mana 
orang baik selalu menang. Tetapi begitu saya keluar dari kenyamanan ruang 
kelas, saya dihadapkan pada realitas yang berlangsung di jalanan kota. Di sini 
orang-orang baik dihajar dan terhempas tanpa ampun. Kehidupan sehari-hari 
semakin memburuk, dan yang miskin jadi bertambah miskin.
   
  Tak sedikit pun teon-teoni ekonomi yang saya ajarkan mencerminkan kehidupan 
yang tengah berlangsung di sekitar saya. Bagaimana saya bisa terus mengajarkan 
kisah bohong-bohongan ini ke pada mahasiswa saya atas nama ilmu ekonomi? Saya 
ingin kabur dari kehidupan akademis. Saya perlu melarikan diri dari teori-teori 
ini dan buku-buku mengajar saya, dan menemukan kehidupan ekonomi riil dari diri 
seorang miskin.
   
  Saya beruntung karena letak desa Jobra kebetulan dekat dengan kampus. Tahun 
1958, Marsekal Muda Ayub Khan, yang kemudian menjadi Presiden Pakistan, 
mengambil alih kekuasaan dalam sebuah kudeta militer. Karena takut terhadap 
pembangkangan mahasiswa, dia memutuskan agar setiap universitas baru dibangun 
jauh dari pusat kota. Ketakutannya terhadap agitasi politik membuat Chittagong 
University yang baru, tempat saya mengajar, di bangun di wilayah perbukitan di 
distrik Chittagong, bersebelahan dengan desa Jobra.
   
  Dekatnya desa Jobra menjadikannya sebuah pilihan sempurna bagi mata kuliah 
saya yang baru. Saya memutuskan menjadi mahasiswa lagi, dan warga Jobralah yang 
akan menjadi dosen-dosen saya. Saya bersumpah akan belajar sebanyak mungkin 
tentang desa. Universitas-universitas yang ada sekarang menciptakan kesenjangan 
hebat antara mahasiswanya dengan kenyataan hidup sehari-hari di Bangladesh. 
Alih-alih belajar dari buku seperti yang biasa dilakukan, saya ingin mengajari 
mahasiswa saya cara memahami kehidupan seorang miskin. Saat Anda menggenggam 
dunia di tangan Anda dan mengamatinya dari atas laksana burung, Anda cenderung 
menjadi arogan. Anda tidak menyadari bahwa segala sesuatunya menjadi buram jika 
dipandang dari jarak yang sangat jauh. Sebaliknya, saya memilih “pandangan mata 
cacing.” Saya harap bila saya mempelajari kemiskinan dari jarak dekat, saya 
akan memahaminya dengan lebih tajam.
   
  Perjalanan berulang kali ke pedesaan di sekitar kampus Chittagong University 
membuahkan temuan-temuan yang penting dalam mendirikan Grameen Bank. Kaum 
miskin mengajarkan saya ilmu ekonomi yang sepenuhnya baru. Saya mempelajari 
masalah-masalah yang mereka hadapi dari perspektif mereka sendiri. Saya 
menjajal banyak hal. Ada yang berjalan, ada yang tidak. Salah satu yang 
berjalan baik adalah menawari sedikit pinjaman kepada masyarakat untuk 
membangun usaha mandiri. Pinjaman ini menyediakan titik awal bagi industri 
rumah tangga dan kegiatan-kegiatan lain untuk meningkatkan pendapatan yang 
memanfaatkan keterampilan yang sudah dimiliki oleh masyarakat peminjam itu 
sendiri.
   
  Saya tidak pernah membayangkan bahwa program kredit mikro ini akan menjadi 
basis bagi “bank untuk kaum miskin” berskala nasional yang melayani 2,5 juta 
orang. Saya juga tidak pernah membayangkan bahwa program ini akan diadaptasi di 
lebih dan 100 negara di 5 benua. Saya hanya mencoba menghapus perasaan bersalah 
saya dan memuaskan hasrat saya untuk bisa bermanfaat bagi beberapa orang yang 
tengah kelaparan. Tapi ternyata ini tidak berhenti hanya pada beberapa orang. 
Mereka yang pernah meminjam dan berhasil tidak membiarkan program ini hanya 
untuk beberapa orang saja. Dan setelah sekian waktu, saya pun juga tidak akan 
membiarkannya...!
   
   
  [ bersambung ]
   
   
   
  The Flag
  Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
  ERDBEBEN Alarm


    
  SONETA INDONESIA <www.soneta.org>

  Retno Kintoko Hp. 0818-942644
  Aminta Plaza Lt. 10
  Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
  Ph. 62 21-7511402-3 
   


       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke