Selingkuh

Keinginan itu muncul lagi―walau sudah kucoba untuk menguburnya dalam-dalam.
Tapi, ia rupanya tak mudah menyerah, kali ini. Tiba-tiba saja ia datang
mengahmpiri benakku. Begitu lama ia menari di pikiranku. Memaksa aku agar
menuruti keinginannya. Ia begitu lincah bergerak, setiap aku mau
menghindarinya―mencoba untuk sembunyi tak pernah lepas dari sergapannya.
Meneteskan secuil mimpi

yang indah―lepas di awan, terbang di hamparan langit biru.

Dari mana sebaiknya kumulai jalinan yang rumit kita ini? Darimu, dariku,
dariNya? Atau, dari hati paling dalam: hatimu, hatiku, hatiNya? Ah,
entahlah. Lama kurenung sepenuh pertimbangan, tetapi sejujurnya, aku belum
menemukan arah yang pasti. Tetapi, sudahlah. Begini saja lebih baik. Kita
bersepakat dalam perasaan yang penuh teka-teki. Bukankah hubungan tak
selamanya harus terbuka? Jadi, karena kau masih menyimpan perasaanmu,
sementara Dia tentu saja tahu, bagaimana bila kumulai dari awal pertemuan
kita? Aku tahu, pasti kau tertawa, dan Dia bergumam, "Ah, ada-ada saja."

"Raisa, aku tak dapat menolak permintaan takdir, aku tak sanggup membantah.
Apalah kekuatanku yang hanya seorang insan yang lemah. Setelah kecambuk di
dalam dada Tapi akhirnya ini jualah yang aku alami." Masih kuingat kata demi
kata yang tertulis berat di surat itu. Biarkan. Biarkan matahari tersenyum
di balik dedaunan. Biarkan burung-burung berkepakan di reranting hijau.
Biarkan alam raya ikut tertawa bersama kita. Bukankah keindahan pertanda
kemesraan menyulam hubungan kita?

"Kau memang bodoh!" Sebuah suara mendengung tiba-tiba, tajam mengejekku.
Suara siapakah? Mungkinkah suara malaikat? Atau, suara Tuhan yang menegur
ku?

Bukan. Aku tahu itu bukan suaraNya. Pasti bukan Dia yang menegur dengan
keras di tengah siang. Sebab, siapa pun percaya, suaraNya lebih lembut dari
dentingan harpa, lebih merdu dari lagu burung-burung menyambut pagi.Duh.
Benarkah aku bodoh? "Kau memang bodoh! suara itu kembali mendesing di
telingaku. Nyaring dan menusuk jantung. Demi keinginan semu, kau membuang
hal terbaik yang telah kau terima."

Aku terpana. Lama mereka-reka makna kebodohan yang ditujukan kepadaku. Dan,
aku menghempas resah, menyadari kebodohanku. Ah, entah mengapa, aku malah
grogi saat berbincang dengannya. Ya, di depanmu, saat itu, aku jadi kurang
konsentrasi. Rasanya aku ingin memukuli kepalaku sembari bermunajat meminta
ampun pada mu Ya Allah: "Astagfuirullah! subhanallah! Allahu akbar!
Berhentilah untuk memikirkan keindahan tubuh perempuan yang bukan milikmu!
Berhentilah bermimpi!

harus kusingkirkan jauh keinginan itu, sejauh aku bisa. Malah, aku harus
terus bangun dasar-dasar kokoh pernikahanku yang suci. Tentu aku tak ingin
buah-buah pernikahanku membusuk oleh nafsu tololku. O, mengapa aku jadi
begini? Haruskah aku selemah ini? Maka, kuserukan agar Dia mengerbangkan
tangan, membungkusku dalam kuasaNya.

"Untuk apa kau ditolong?" tiba- tiba suara itu kembali menegurku.

"Agar aku tidak tersesat ya Robku!" balasku pada suara itu

"sadarlah! Bukankah selama ini kau tersesat?"

"Ya, Kau adalah Insan tersesat di lorong kekelaman."

Bahkan, kau senantiasa bangga atas kesesatan itu, dan menari-nari dalam
lumpur kesesatan yang menenggelamkanmu.

"Aku tahu... dan aku tidak bisa terlepas, semakin menikmatinya"

"Lalu, mengapa kau bersujud setiap malam, dan bercucur air mata meminta
pertolonganku?"

"Karena Hamba ingin kembali. Tak kuasa hamba keluar dari lubang lumpur jika
sang Maha kuasa tak menolong," jawabku serak. "Tanpa Dia, aku akan semakin
tersesat. Itu sebabnya, kumohon dengan sangat, Dia mengulurkan tangan,"
lanjutku mulai terisak-isak. Tanpa kusadari airmataku mengalir mencari
muara.

Kulihat seperti Tuhan pun tersenyum. O, dalam senyum-NYa, kulihat paras
istriku. Dan, kau tertawa. O, dalam tawamu, kudengar keluargaku.
Alhamdulilah, betapa gembira aku, sesuatu yang nyaris hilang oleh
ketololanku keluargaku adalah anugerah tak terhingga.

Rumah tanggaku adalah jejak langkahku menuju hari esok yang lebih baik.
Keluargaku adalah ikatan suci kehidupanku. Lalu, mengapa harus kutepis basuh
keindahan? Mengapa harus kunodai selendang putih dengan gelitik
berselingkuh? O, dosa , terkutuklah aku!

*******************

"Bolehkah kita Bertemu Mas?" tanyamu Raisa sesaat sebelum aku berlalu
bersama waktu .


Aku terdiam. Di dalam hati aku bilang, tidak. Tetapi, edan, kepalaku
mengangguk. Boleh. "Silakan," tanggapku.

Seminggu kemudian, kala hujan gerimis menghias jendela senja, kuterima SMS
darimu: "Mas, aku ingin menjadi sahabatmu. tidak keberatankan mas."  Pesan
singkat itu ternyata memperpanjang hubungan kau dan aku. Sehingga hatiku
jadi geleng-geleng kepala. Maka, godaan kembali menggelitikku. Bisikan iblis
kembali menyeruak dada. Ya Allah dimanakah engkau, bantulah aku mengatasi
permasalahan ini

Tetapi, entah kenapa aku semakin larut dalam lautan kelabu. Jurnalis?
Cita-cita Aneh apa itu? Mengapa kau tidak memilih menjadi diplomat, bankir,
atau sekretaris? Parasmu cantik.

Kulitmu kuning langsat, mulus selembut sutra. Rambutmu panjang, agak pirang.
Matamu bulat cemerlang. Apa lagi yang kurang? Mengapa tidak menjadi model
saja? Malah,meski aku belum tahu bakatmu, aku yakin, kau dapat menjadi artis
sinetron, dan bakal sejajar dengan bintang-bintang lainnya yang berpendaran
di langit jingga.

Tanpa kusadari, aku kembali terayun-ayun di ujung tali kebimbangan. Haruskah
kujawab? Atau, kudiamkan saja? Ah, aku memutuskan untuk tidak merespons,
tetapi konyolnya, tanganku malah meraih HP dan membalas via SMS.

Sejak itu, aku dan kau terus saling berbalas kabar, mencoba tak peduli atas
kegelisahanNya. Astaga! Jika istriku tahu, wah, bisa berabe. Aku bisa
dinilai kurang ajar, lelaki brengsek, suami tak bermoral, makhluk hidung
belang. Ah, untunglah istriku tak pernah mengutak-katik HP-ku. Tak pernah
bercuriga.

Selalu percaya. Dan, kian sempurna kebejatanku karena tega menepis segala
kepercayaan istriku untuk godaan selingkuh yang tak jelas. Tetapi, oh,
lihat, kita tak bisa lari dari tatapanNya. Sejauh kita pergi, lari,
sembunyi, Dia senantiasa mengawasi.

"Raisa….." ratapku memanggil nama gadis manis ini yang telah memudar
nafas-nafas cinta di dadaku yang kian sesak

"Raisa, walau bagaimanapun caranya, keputusan itu tak akan dapat dirubah.
Sebaiknya Aku harus pergi. Meninggalkan impian kita, melewati batas waktu
janji yang aku berikan padamu "
Kutarik nafas dalam-dalam. Pikiran melayang hinggap dilembaran kisah yang
termulai

Hasrat itu terus-menerus datang, walau aku tak mengharapkan kehadirannya.
Apa boleh buat

kedatangannya tak dapat kutolak. Barangkali, aku terlalu sentimen terhadap
hal yang satu ini. Ya,

barangkali. Apa harus kuhindari saja? Tak pernah bisa. Bayangannya selalu
menghantui, tak

berhenti. Ia ada di setiap langkahku, bergerak di sekujur tubuhku. Membuat
aku jadi amnesia.

Barangkali harus kuacuhkan saja apabila ia datang-- kudiamkan agar ia jadi
bosan sendiri. Tapi,

itulah masalahnya. Setiap ia berada dekat denganku ada-ada saja yang
dikerjakannya. Membuat aku

jadi bingung sendiri. Memaksaku untuk menyapanya. Ber-say Hello ria. Gombal
sih. Habis bagaimana

lagi.?

Tahukah kau makna hubungan kita ini? Benarkah aku dan kau berselingkuh?
Hubungan saling bertukar informasi dan pendapat tergolong selingkuh?
Dapatkah kau jelaskan padaku? Sebab, aku tak tahu. Sama sekali tak kupahami.
Demikian aku berusaha berkelit, seperti penyamun. Lihat, Iblis tertawa
parau. Burung-burung tertawa, kupu-kupu tertawa  mengejek tingkahlaku ku.

**********************************

Di langit, malam tak berbintang. Lampu temaram memoles wajahmu. Angin
mengusap dedaunan, memberiku keberanian. Aku menatapmu dalam-dalam. Aku
nikmati bolamata raisa yang segar, ingin memetik bibirmu yang ranum.
Sementara ular mulai liar, menggerogotiku. Beberapa pekan lalu ular itu
menyusup ke dalam jantungku, dan bersarang. Beberapa hari lalu, ular itu
menggeliat, gelisah. Kini ular itu meronta ingin memangsa. Oh, di manakah
Dia? Mengapa Dia masih diam? Mengapa Dia tidak segera datang menjamah,
memutus jalinan busuk ini?

Kau tersenyum teramat sulit kuartikan. Matamu bekerjapan mengalahkan
kecantikan kerlap-kerlip lampu. Aku terpana. Semakin mabuk anggur jingga.
Aku memang tak tahu menahu hubungan seperti ini, hubungan dua jenis yang
berbeda. Yang aku tahu jika rasa itu ada, ya memang sudah kodratnya
demikian, dan aku memang tidak begitu peduli dengan hubungan seperti itu,
aku tidak peduli, walaupun terkadang ingin merasakannya.

Apakah aku mengetahui segala tentang seorang wanita ini? Tidak juga. Tapi
kuanggap ia adalah

wanita yang tidak biasa, yang bersinar-sinar dalam aura magisnya tiap kali
berkelebat dari

pandanganku. Ah, sebenarnya tidak secara harafiah demikian.

waktu itu jam berputar lambat sekali, seolah tak bergerak. Detik-detik yang
berupa jarum

ketika kupandangi terlihat diam. Apa aku sudah gila sekarang ? Gila melihat
kenyataan hidup bahwa

dunia tak pernah menyisakan satu ruang pun untuk orang seperti aku ? Dan,
nyatanya keinginan

semakin kuat dan deras. Bertempur menghadapi hasrat hati. Berjudi
sedikit-sedikit terhadap keinginan ini. Apa ini hanya  jadi arena taruhan
diri? Sehingga diwajibkan untuk ku agar terus melakoni sandiwara yang kita
perani.

"Betapa senang hatiku, Mas. perasahabatan ini, kini aku yakin akan rasa kita
ini" ceria, saat kita kembali bertemu di rumah kosmu Raisa, tempat pertemuan
yang kerap kita sepakati. Dan, aku tak ingat, ini pertemuan yang ke berapa.
Pertemuan dengan alasan kamu butuh seorang sahabat yang terus kita
lanjutkan, entah sampai kapan. Terima kasih, ya, Mas," bisikmu.

Aku tersenyum juga tak kumengerti maknanya. Sebab, jalinan ini mulai
kunikmati. Bahkan, aku mulai berani memunggungiNya, dan sering pura-pura
tidak tahu kehadiranNya dalam keperihan. Padahal aku tahu, ke langit pun
kita terbang, dengan sayap-sayap fajar kita melayang, Dia pasti tahu. Ah.
Betapa terluka hatiNya atas kekejian yang kulakukan. Beberapa kali Dia
menangis getir berbaur gelegar petir. Sementara aku tetap berharap kau juga
tidak memedulikanNya. Biarkan saja Dia terseret gelombang nestapa. Dan kita
merajut jalinan teka-teki ini dalam keringat biru kelabu.


*********************

Dan Senja kala itu, ketika ku teringat dirinya yang ranum dan menawan hati,
entah dari mana sebuah buku jatuh dari sebuah almari tempatku duduk, dan
sebuah halaman terbuka menuliskan sesuatu nasihat. Abu Umamah bercerita,
bahwa Nabi saw. pernah didatangi seorang pemuda dan berkata, "Ya Rasulullah,
ijinkan saya melakukan zina." Mendengar perkataan pemuda itu, para sahabat
berang dan memarahinya sambil memaki-maki karena dianggap tidak sopan.
"Cukup! Bawalah pemuda itu mendekatkepadaku," lerai Nabi saw. Kemudian
pemuda itu dibawa mendekat kepada beliau.


"Wahai pemuda," sapa Nabi saw. lemah lembut, "Apakah kamu suka kalau
perbuatan zina itu dilakukan

orang lain terhadap ibumu?"

"Tidak, ya Rasulullah. Demi Allah yang menjadikan aku sebagai tebusan anda,
saya tidak ingin itu

terjadi," jawabnya. "Begitu juga kebanyakan manusia, tidak menyukai atau
menginginkan perbuatan

zina itu dilakukan terhadap ibu mereka," ujar Nabi.

"Apakah kamu senang zina itu dilakukan terhadap putri-putrimu kelak?" tanya
beliau selanjutnya.

"Sama sekali aku tidak menginginkan hal itu terjadi, ya Rasulullah. Demi
Allah, bermimpi pun saya

tidak ingin."

"Begitu pula kebanyakan manusia, mereka tidak senang kalau sampai perbuatan
zina itu terjadi pada

putri-putrinya. Apakah kamu senang kalau zina itu dilakukan terhadap
saudari-saudarimu?" tanya

beliau.

"Tidak, ya Rasulullah. Demi Allah saya tidak senang."

"Begitu juga dengan orang lain, sama dengan anda, tidak senang kalau zina
itu dilakukan terhadap

saudari-saudarinya. Apakah kamu ingin itu terjadi pada bibi-bibimu?"

"Tidak, ya Rasulullah. Demi Allah tidak," tandasnya.

"Kebanyakan manusia juga tidak ingin itu terjadi pada bibi-bibinya."

Nabi saw. kemudian meletakkan tangan beliau pada tubuh pemuda itu dan
mendo'akannya: "Ya Allah,

ampunilah dosa pemuda ini, bersihkanlah hatinya, dan peliharalah
kemaluannya."

Dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, aku bolak-balik memandang buku
tersebut Aku bukan hanya tidak sanggup berpikir. Mungkin Allah telah memberi
petunjuk atas jalanku yang salah. Tapi tubuhkku tenggelam dalam kekakuan
yang bisu.

Depok 24 Maret 2008


-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

Kirim email ke