http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/2/op2.htm


Jangan Ganggu Tugas Kenegaraan

MAKIN jelas bagaimana ''dominasi'' partai politik begitu kentara di Indonesia. 
Kita katakan demikian, karena sampai presiden pun harus terjun ke partai 
politik untuk mempersiapkan diri menghadapi pemilu tahun 2009. Pemilu itu baru 
akan dilakukan setahun lagi. Kalau boleh kita katakan untung, untunglah 
presiden secara bijak melakukan kegiatan berpartainya di hari minggu dan hari 
libur. Sebagai manusia, kita cukup prihatin dengan kondisi presiden. Sudah 
seharusnya setelah menjalankan tugas-tugas kenegaraan yang begitu padat dan 
menyita pikiran dan menguras fisik, presiden istirahat di hari Minggu. 
Tujuannya tentu saja agar kesehatan terjamin dan dengan demikian mampu secara 
segar mengelola negara dengan penduduk 230 juta orang ini. Tetapi bagaimana 
lagi, partai di Indonesia masih mengandalkan figur sehingga presiden harus 
ikut-ikutan berpartai-ria.

Kalau kita coba bawa pada khazanah modern, antara partai politik dengan tugas 
kenegaraan itu dipisah. Dari sisi ini presiden sudah melakukan. Tetapi ada yang 
lebih baru lagi, partai politik dan tugas kenegaraan itu sudah diklusterkan, 
ada pemisah yang tegas agar tidak saling mengganggu. Partai politik bertugas 
melahirkan pemimpin negara. Tetapi begitu partai itu berhasil melahirkan 
negarawan, posisinya sudah langsung terpisah. Ibaratnya yang satu sebagai 
pabrik, yang lain adalah output-nya yang telah bebas malang-melintang di 
berbagai pasar. Sangat tidak bagus jika output itu kembali ke pabrik.

Jangan lupa, partai politik mempunyai dinamika persaingan internal tersendiri. 
Kita khawatir presiden akan terjebak pada persaingan tersebut yang membuat 
konsentrasi tugas kenegaraan akan pecah. Sebaliknya juga demikian partai akan 
pecah kalau presiden terlalu dominan dalam menentukan kebijakan partai. Jika 
ini terjadi, suasana negara akan bertambah runyam. Harap juga kita pahami, 
semakin terbukanya akses informasi di Indonesia, efek bombastisnya akan membuat 
masalah kecil akan terkesan besar.

Sebagai kepala negara dari sebuah negara yang belum juga berhasil membangun 
ekonomi dengan baik, apalagi terkena imbas naiknya harga minyak dan naiknya 
harga pangan dunia, tidak boleh sedikit pun presiden terganggu atau diganggu 
oleh kegiatan partai. Urusan negara harus nomor satu, meski pemilu itu 
berlangsung sebulan lagi, apalagi masih setahun di depan.

Jadi, pesan yang harus diberikan kepada partai politik di Indonesia, manajemen 
mereka harus berubah. Sekarang adalah zamannya perubahan. Partai politik harus 
mampu membaca situasi kenegaraan. Artinya bagaimana keadaan Indonesia dan apa 
yang diperlukan saat ini. Partai harus mampu membedakan situasi di Indonesia 
dengan di negara lain. Barangkali di negara luar partai sangat ditentukan oleh 
kedekatan pemimpin politiknya. Semisal di India. Tetapi situasi Indonesia saat 
ini benar-benar memerlukan konsentrasi. Karena itu sebaiknya partai tidak 
mengganggu konsentrasi ''hasil pabrikannya'' yang kini sedang menjalankan tugas 
kenegaraan. Hasil pabrikan partai itu tidak hanya presiden, tetapi juga anggota 
kabinet dan anggota DPR. Biarkan mereka bertugas membuat kebijakan negara dulu 
demi keberhasilan negara bersaing di forum internasional. Partai semestinya 
diurus oleh pejabat-pejabat partai sendiri. 

Cara seperti ini sungguh akan baik bagi masa depan partai politik itu sendiri. 
Di samping meningkatkan kepercayaan diri, partai sudah pasti secara 
perlahan-lahan akan menghilangkan politik figur. Jangan dilupakan, cara seperti 
ini dengan sendirinya juga akan melahirkan kader-kader baru partai yang membuat 
fundamental partai akan semakin kuat. Jadi anggap saja para negarawan tersebut 
adalah sebuah hasil dari pabrikan partai, dan sebagai sebuah pabrik tidak usah 
mengganggu mereka lagi. Biarkan mereka mengurus negara. Partai politik 
berkewajiban memproduksi lagi negarawan baru yang jauh lebih berhasil dari yang 
sudah ada. Dengan cara ini, baik negara maupun partai akan saling menikmati 
keuntungan.

Kirim email ke