Refelksi:  Selama kesempatan  berpendidikan tidak dapat diperoleh mayoritas 
penduduk, selama itu apa yang dinamakan Hari Pendidikan Nasional tidak 
mempunyai makna apa pun, selain lambang manipulasi pendapat umum..

http://www.bangkapos.com/opini/049cd67956b7e51ec9b5f02af6e3bb60/128/baca/0/1/0/0/2008/Mei/02/0

Memaknai Hari Pendidikan Nasional dalam Perspektif Historis

edisi: Jum'at, 02 Mei 2008 WIB 

Penulis: Oleh: Dra Titing Rustiani (Wakasek SMPN 3 Satu Atap Payung)
ALS ik een Nederlands was (andaikata aku seorang Belanda) adalah kritikan tajam 
yang disampaikan Ki Hajar Dewantara terhadap pemerintah Kolonial Belanda. 
Kritikan yang membawa misi nasional ini berdampak luas pada sejarah pendidikan 
dan politik di Indonesia.

Setiap memperingati Hari Pendidikan Nasional ingatan kita selalu kepada tokoh 
pendidikan Indonesia. Suwardi Suryaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hajar 
Dewantara yang mendedikasikan perjuangannya pada kemajuan pendidikan Indonesia. 
Diawali dari Perguruan Taman Siswa yang didirikan tahun 1922 oleh Ki Hajar 
Dewantara seorang kerabat istana Pakualam dengan tujuan mengembangkan 
pendidikan dan kebudayaan untuk menghadapi dominasi pendidikan dan kebudayaan 
kolonial.

Perguruan Taman Siswa dijadikan alat untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme. 
Melalui Perguruan Taman Siswa dapat dihasilkan golongan elit terdidik yang akan 
berperan dalam pergerakan nasional karena pendidikan nasional merupakan alat 
untuk membuat persemaian golongan nasionalisme.

Di samping Perguruan Taman Siswa bermunculan pula sekolah-sekolah swasta di 
Indonesia. Dengan perkembangannya sekolah swasta membuat semakin subur golongan 
nasionalis di kalangan anak bangsa, hal ini menimbulkan kekhawatiran yang cukup 
tinggi bagi pemerintah kolonial, karena akan mengancam eksistensi pemerintah 
kolonial Belanda di Indonesia, pemerintah kolonial mengeluarkan Undang-undang 
Sekolah Liar (Wilde Schoolen Ordonantie) yang melarang berdirinya 
sekolah-sekolah swasta. Tetapi atas dukungan dari organisasi pergerakan lainnya 
dan gigihnya Ki Hajar Dewantara menentang, Undang-undang tersebut tahun 1933 
akhirnya dicabut.

Perjalanan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jalur pendidikan masih 
panjang. Pasca kemerdekaan NICA kembali masuk menguasai seluruh sisi kehidupan 
bangsa Indonesia. Ketika seluruh wilayah lumpuh dikuasai NICA, Perguruan Taman 
Siswa masih mampu bertahan mencerdaskan anak bangsa yang oleh Dolf Verspoor 
seorang wartawan Belanda disebut sebagai The Last Republican Fortress (Benteng 
Terakhir Republik).

Pasca kemerdekaan Ki Hajar Dewantara yang ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan 
Pengajaran dan Kebudayaan (PPK) pertama di Indonesia berusaha mengembangkan 
pendidikan Indonesia dengan membuka sekolah untuk semua lapisan masyarakat agar 
memperkuat potensi dan meningkatkan kecerdasan masyarakat. Pemerintah membuka 
berbagai sekolah bagi seluruh lapisan masyarakat, baik sekolah umum maupun 
pendidikan luar sekolah, seperti kursus-kursus dan pelatihan dengan menerapkan 
metode pengajaran seperti yang diterapkan di Perguruan Taman Siswa, yaitu 
menekankan pada sistem sekolah kerja, aktivitas dan kreativitas.

 Dengan sistem pendidikan Among (sistem pendidikan kepemimpinan ing ngarso sung 
tuladha, ing madya mangunkarsa, tut wuri handayani / seorang pemimpin, 
pendidikan, apabila ditempatkan didepan harus dapat menjadi contah yang baik 
bagi anak didiknya, apabila berada ditengah-tengah siswa didik harus dapat 
memberikan semangat, dan apabila berada di belakang harus mampu menjadi seorang 
motivator yang baik bagi anak didiknya).

Dengan menerapkan sistem pendidikan kepemimpinan Among Ki Hajar Dewantara 
berusaha mencetak siswa didik menjadi seorang manusia yang cerdas, berbudi 
pekerti luhur, dan mempunyai wawasan kebangsaan yang luas. Selain itu beliau 
juga meletakkan dasar-dasar sistem pendidikan nasional seperti yang digunakan 
saat ini. Sungguh merupakan suatu perjalanan yang panjang dan rumit untuk 
membentuk, mengembangkan dan memperoleh pendidikan di negeri sendiri karna 
seluruh sisi kehidupan bangsa ini dalam kendali bangsa penjajah. Sekarang 
ketika kebebasan, kedaulatan sudah berada di tangan sudah sepantasnyalah kita 
sebagai anak bangsa mengisi dan membangunnya supaya menjadi bangsa yang besar. 
Melalui jalur pendidikan niscaya harapan itu akan dapat diraih, karena 
pendidikan merupakan landasan dasar budi pekerti, dan intelegensi manusia.

Sistem dapat berubah setiap saat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, 
tuntutan zaman tetapi kendati sistem harus tetap memprioritaskan Right man on 
the right job, right man on the right place, right man on the right gun untuk 
memperoleh hasil yang maksimal. Input yang bagus tidak selalu menghasilkan 
output yang bagus pula selama dalam proses tidak ditangani oleh tenaga yang 
berkompeten dalam pengembangan sumber daya manusia.

Suatu sejarah yang ironis apabila pada dekade tujuh puluhan negeri Jiran banyak 
mengimpor dari Indonesia tenaga pendidik untuk mencerdaskan bangsa dan 
mengembangkan pendidikannya, tetapi justru sekarang berkembang menjadi bangsa 
yang lebih maju setingkat dari Indonesia. Sekarang ekspor kita paling banyak 
disektor tenaga kerja wanita sebagai pembantu rumah tangga yang selalu 
dipandang sebelah mata oleh negara penerima. Mungkinkah pendidikan di Indonesia 
akan mampu bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara yang lain yang sekarang 
sedang menggeliat mencoba bangkit dari keterpurukan akibat penjajahan. 
Jawabannya ada di tangan kita semua anak bangsa ini, mau dibawa kemana 
pendidikan kita.

Sikap optimisme harus tetap terpatri di tengah-tengah arus globalisasi. Sah-sah 
saja mencanangkan Indonesia cerdas 2025, Babel cerdas 2010 sebagai kerangka 
acuan dan pemberi motivasi terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Tetapi 
yang harus dicermati implikasi tentang infrastruktur sarana prasarana, anggaran 
pembelanjaan, kualitas tenaga pendidik, dan masih sederet lagi yang mesti 
ditindak lanjuti karena di lapangan terutama di daerah-daerah yang jauh dari 
pusat pemerintahan masih banyak ditemukan sekolah yang roboh, tidak layak untuk 
proses KBM, tenaga pendidik yang bergaji jauh sekali dibawah standar kelayakan. 
Ini potret pendidikan yang ada di sekitar kita yang harus segera dibenahi. 
Indonesia cerdas, Babel cerdas akan tercapai apabila komponen-komponen 
pendukung untuk proses mencerdaskan anak bangsa mulai digarap dari sekarang.

Untuk menjadi bangsa yang besar tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu 
proses yang panjang apalagi Indonesia merupakan negara dengan karakteristik 
beragam. Semoga di Hari Pendidikan Nasional ini masih tetap menggelora jiwa 
kita semangat untuk membangun dan memajukan pendidikan karena pendidikan adalah 
landasan fundamental maju dan mundurnya suatu negara. Dengan proses pendidikan 
yang benar, berbudi pekerti yang luhur, akan dihasilkan insan-insan pembangunan 
yang mempunyai kompetensi tinggi di bidang masing-masing.

Sejarah masa lalu perjalanan pendidikan  di Indonesia hendaklah menjadi cambuk 
membangun pendidikan di masa sekarang. Betapa tokoh-tokoh pendidikan kita 
berusaha sedemikian rupa dengan harapan tetap tegaknya rasa nasionalisme di 
tengah-tengah himpitan penjajah.

Akhirnya, selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional, semoga Tuhan senantiasa 
memberikan kekuatan bagi seluruh bangsa Indonesia dalam memajukan pendidikan, 
mengejar ketertinggalan. Kita optimis akan menjadi bangsa besar yang disegani 
dalam kancah pergaulan Internasional. (*)

Kirim email ke