Refleksi: Bukan benteng, tetapi sarang koruptor tentu bisa saja.

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=339482

Sabtu, 03 Mei 2008,



Golkar Bukan Benteng Korupsi


Kalla Larang Kadernya Cari Uang Haram untuk Kampanye 
JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla meminta pimpinan dan kader 
partainya tidak mengumpulkan dana kampanye Pemilu 2009 dari uang haram. 

Menurut Kalla, praktik pengumpulan dana haram seperti mengutip dana dari 
departemen yang dipimpin kader Golkar dan instansi pemerintah lain akan merusak 
citra partai di mata publik. 

"Ini bisa jadi bumerang bagi Golkar," ujar Kalla ketika membuka Rapat 
Konsultasi Partai Golkar di Hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan, kemarin 
(2/5).

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Surya Paloh, 
Wakil Ketua Umum Agung Laksono, Ketua Korbid Pemenangan Pemilu DPP Partai 
Golkar Andi Mattalatta, dan Sekretaris Jenderal Soemarsono. Rapat tersebut 
membahas pencalonan anggota legislatif di DPR, DPRD provinsi, dan DPRD 
kabupaten/kota.

Kalla kembali menegaskan, Partai Golkar bukan benteng korupsi. Karena itu, 
pimpinan dan kader Golkar diminta tidak korupsi. Dia memastikan partainya tidak 
akan melakukan pembelaan bila sudah ada bukti hukum yang kuat. Partai hanya 
akan membela jika ada kader yang teraniaya. Jika bukti mengarah ke praktik KKN 
sangat kuat, kader tersebut tidak akan dibela. "Diserahkan sepenuhnya ke hukum 
yang berlaku," tegasnya.

Kader Golkar yang terbukti bersalah, menurut Kalla, tidak pantas dibela. Sebab, 
jika dilakukan, itu akan memperburuk citra partai. "Kalau tidak salah, ya 
dibela. Tapi, tidak dengan membabi buta. Kalau tidak rasional caranya, itu bisa 
jadi bumerang bagi partai. Makin kita bela makin rusak citra partai," terangnya.

Upaya pembersihan citra Partai Golkar dari praktik KKN, ujar Kalla, sudah 
dimulai DPP Partai Golkar. Buktinya, ketika sejumlah partai memanfaatkan momen 
pilkada untuk mengumpulkan dana kampanye, praktik tersebut tidak dilakukan DPP 
Partai Golkar. "Tidak ada satu sen pun yang diterima DPP dari pilkada," katanya.

Di hadapan ratusan pengurus DPP dan DPD Partai Golkar, Kalla mengatakan bahwa 
kekalahan jago-jago Golkar di pilkada menjadi lampu kuning menjelang Pemilu 
2009. Ibarat mobil, kata dia, Golkar harus masuk bengkel untuk diservis agar 
menang pemilu dengan meraih suara 30 persen.

Golkar, ujar dia, ibarat mobil harus mulai servis, ganti suku cadang, supaya 
jalannya bisa baik. DPD I hingga kecamatan harus mulai evaluasi organisasi. 
"Kalau perlu, pengurus di tingkat daerah, baik tingkat dewan pimpinan daerah I 
sampai kecamatan, yang sudah aus harus diganti," ujarnya.

Semua kader Golkar berkewajiban bekerja sebaik-baiknya agar dalam pemilu yang 
akan datang Golkar memiliki kegiatan untuk memenangi pemilu. Karena itu, 
evaluasi kinerja pengurus harus dijalankan terus-menerus. "Pengurus Golkar yang 
tak aktif harus diganti."

Meski demikian, dia menegaskan, hasil pilkada tidak bisa mencerminkan hasil di 
pemilu legislatif dan pemilu presiden. Keduanya memiliki karakteristik yang 
berbeda. "Ada partai yang menang di pilkada, tapi kalah di pemilu. Ada juga 
yang kalah di pilkada, tapi menang di pemilu. Pilkada itu lebih ke figur, kalau 
pemilu pada partai," katanya

Partainya, lanjut saudagar dari Makassar itu, harus diisi 60 persen orang muda. 
Namun, kriterianya bukan berdasarkan umur, melainkan kesehatan. "Kalau umurnya 
30 tahun, tapi sakit-sakitan, itu bukan muda namanya," ujar Kalla.(noe/m

Kirim email ke