Refleksi: Tuntutan yang sangat wajar!

http://beritasore.com/2008/05/02/mahasiswa-dan-pelajar-tuntut-pendidikan-gratis/

Mahasiswa Dan Pelajar Tuntut Pendidikan Gratis
2 Mei 2008 | 15:30 WIB

Bandung ( Berita ) :  Ratusan pelajar dan mahasiswa se-Bandung Raya 
berunjukrasa di halaman gedung Sate Bandung, Jumat [02/05] siang sekitar pukul 
10.00 WIB. Mereka menuntut pendidikan gratis, transparansi dana pendidikan dan 
pembatalan RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP).

Para pengunjukrasa dari elemen mahasiswa dan pelajar itu terdiri dari KAMMI, 
FKIP Unpas, FPR, dewan Pendidian Rakyat (DPR), FPPI dan Ikatan Pelajar 
Muhammadiyah dan BEM se-Bandung raya.

Pengunjukrasa juga menuntut anggaran pendidikan sekitar 20 persen untuk segera 
direalisasikan, pendidikan dasar gratis agar diwujudkan oleh pemerintah

Dalam  orasinya, perwakilan pengunjukrasa, Reza (Unpas) mengatakan, sudah 
saatnya pemerintah memberlakukan pendidikan gratis bagi rakyat Indonesia dan 
dana pendidikan harus diutamakan serta diprioritaskan bagi terealisasinya 
pendidikan gratis. Pada kesempatan itu, pengunjukrasa juga minta agar mekanisme 
ujinan nasional perlu ditinjau ulang, mengingat UN bukanlah standarisasi mutu 
atau keberhasil pendidian.  

Usai berorasi di halaman gedung Sate, para pengunjukrasa yang dikawal aparat 
kepolisian kemudian melakukan longmarch ke Balaikota Bandung untuk menyuarakan 
aspirasi mereka.

 

Jalan Mundur

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) 
se-Pamekasan, Madura, Jumat, memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 
dengan melakukan aksi jalan mundur.

Menurut koordinator aksi, Khairi Amin, aksi jalan mundur itu sebagai bentuk 
protes atas pelaksanaan pendidikan di Pamekasan yang kualitasnya dinilai 
semakin menurun.  "Kualitas Pendidikan di Pamekasan kian merosot," kata Khairi 
saat berorarsi memimpin aksi demo di halaman monumen Arek Lancor yang berada di 
"jantung" kota Pamekasan.

Dalam aksi tersebut, para mahasiswa membawa kambing yang dikalungi dasi serta 
topi sarjana yang melambangkan para pengelola pendidikan cenderung menjadikan 
pendidikan hanya sebagai ajang bisnis belaka, sehingga kualitasnya terpuruk.

Para mahasiswa juga menyerukan para elemen masyarakat ikut peduli dalam 
meningkatkan prestasi pendidikan, terutama menyambut pascapembangunan jembatan 
Suramadu nanti. Mereka menuntut agar pemerintah merealisasikan anggaran 
pendidikan minimal 20 persen, sebagaimana diamanatkan undang-undang, pendidikan 
gratis untuk rakyat miskin dan meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas 
oknum guru dan pegawai Diknas setempat yang diduga menyelewengkan dana Bantuan 
Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Aksi berakhir setelah Ketua BEM Unira (Universitas Madura), Mohamad Khoiri usai 
membacakan pernyataan sikapnya yang dilakukan sambil mengelingingi tugu 
berlambang celurit itu.

 

28 Persen    

Sementara menyangkut anggaran pendidikan, Kabupaten Pamekasan sudah mampu 
mengalokasikan APBD melebihi dari amanat UU (20 persen) yaitu sebesar 28 
persen. Hal itu dinyatakan oleh Bupati Pamekasan, Kholilurrahman seusai 
memimpin upacara peringatan hari pendidikan di Pendopo Pamekasan. Pasalnya, 
yang menjadi prioritas utama pembangunan di Pamekasan adalah pendidikan. 
"Tuntutan memenuhi ketentuan undang-undang sebagaimana sering disampaikan 
kalangan LSM dan mahasiswa itu, tidak berlaku bagi Kabuaten Pamekasan. Sebab 
saat ini APBD kita untuk pendidikan sudah 28 persen" kata Bupati menegaskan. 

Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang mencapai 25 persen. 
Meski alokasi anggaran untuk pendidikan cukup tinggi, tapi persoalan sarana 
lembaga merupakan hal yang utama.  Hal ini terbukti pada awal tahun 2007 lalu, 
hampir 50 persen gedung lembaga pendidikan, terutama SD, banyak yang rusak. 
Sehingga 70 persen dari alokasi dana tersebut terserap untuk perbaikan sarana 
pendidikan," katanya.

Menurut Kepala Dinas P dan K Pamekasan, Yusuf Suhartono, saat ini lembaga 
pendidikan yang  masih membutuhkan perbaikan tinggal sekitar 20 persen dari 
total jumlah yang ada di Pamekasan. "Yang terparah di wilayah utara Pamekasan," 
kata Yusuf tanpa menyebut jumlah gedung sekolah yang rusak tersebut.

 

Siswa Beri Bunga

Pada perayaan Hari Pendidikan Nasional(Hardiknas) 2 Mei tahun 2008 di Kota 
Ambon dan sekitarnya, Jumat, sejumlah siswa memberikan bunga bagi para guru 
seusai upacara di masing-masing sekolah sebagai ungkapan kasih sayang atas jasa 
mengajar selama menekuni pendidikan.

ANTARA melaporkan, setangkai bunga plastik aneka warna itu diberikan para siswa 
kepada guru-guru itu sambil peluk cium sehingga suasana terlihat haru dan 
sukacita mencerminkan jalinan kasih sayang anak dan orangtua.

Ungkapan saling memaafkan pun disampaikan antara siswa dan guru saat proses 
belajar mengajar berlangsung sehingga ada yang meneteskan airmata karena 
menyadari kekhilafan. Puncak perayaan Hardikas di masing-masing sekolah adalah 
makan bersama yang dibawa para siswa.

Walikota Ambon, Jopi Papilaja menilai strategis "hadiah" siswa kepada guru 
karena perlu membangun kedekatan guna memotivasi kelancaran dan sukses proses 
belajar mengajar. "Siswa tidak perlu takut kepada guru dan menempatkannya 
sebagai oran gtua. Sebaliknya guru menempatkan siswa bagaikan anaknya sendiri 
sehingga terjalin interaksi strategis memacu prestasi pendidikan di Kota Ambon 
yang kini mempersiapkan sejumlah menerapkan standar internasional,"katanya.

Karena itu , menurut Walikota, fasilitas sekolah-sekolah itu dibenahi dan para 
gurunya ditingkatkan kemampuannya sehingga memenuhi ketentuan sekolah standar 
internasional. "Sudah pasti peranan dan perhatian orang tua dibutuhkan dalam 
memotivasi para anak agar belajar giat karena pemerintah maupun guru hanya 
memfasilitasi program pendidikan yang baik,"ujarnya.

 

Gelar 'Sungkem Massal'

Sekitar 9.000 pelajar mulai dari tingkat TK hingga SLTA di Kabupaten Sukoharjo, 
melakukan 'sungkem massal' kepada para guru dalam rangka memperingati Hari 
Pendidikan (Hardiknas) tahun 2008, Jumat.

Dalam kegiatan yang digelar di Alun-alun Sukoharjo ini, ribuan siswa tersebut 
melakukan 'sungkem' (sujud dan meminta maaf) kepada sekitar 288 guru.

Sebelum para siswa melaklukan sungkem , acara ini diawali dengan 'sungkeman' 
yang dilakukan oleh Bupati Sukoharjo, Bambang Riyanto beserta seluruh pejabat 
di lingkungan kabupaten ini, terhadap para mantan gurunya, semasa sekolah 
dahulu.

Setelah para pembesar di Sukoharjo melakukan sungkem terhadap para mantan 
gurunya, dilanjutkan dengan sungkeman yang dilakukan oleh para pelajar.

Dalam sungkeman tersebut, tidak sedikit para siswa yang merasa terharu, hingga 
meneteskan air matanya.

Menurut Ketua Panitia 'Sungkem Massal', Titik Bambang Riyanto, acara ini 
digelar bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2008.

Titik Bambang mengatakan, tujuan digelarnya kegiatan ini ialah sebagai bentuk 
penghargaan dan terima kasih terhadap para guru. "Kegiatan ini sebagai bentuk 
kesaksia, betapa besar jasa para guru ini," katanya. Kegiatan ini juga 
dimeriahkan dengan sejumlah atraksi yang dipertunjukkan oleh para pelajar di 
kabupten ini, seperti tari-tarian, peduan suara dan sebagainya.

Kirim email ke