Harian Analisa
Senin, 5 Mei 2008

Tajukrencana 
Miskinnya Bantuan Arab untuk Palestina
 

MENTERI Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengeluarkan kritik tajam tapi tepat 
terhadap negara-negara Arab terkait dengan konflik Palestina. Menurut Rice, 
negara-negara Arab tak memberikan bantuan sepantasnya kepada Palestina. 

Kritik Rice ini, yang ia sampaikan jelang konferensi Timur Tengah di London 
awal pekan ini, merujuk pada jumlah bantuan dana yang sejauh ini dikucurkan 
negara-negara Arab untuk Palestina. Sebagai pihak yang seharusnya 'senasib dan 
sepenanggungan' dengan rakyat Palestina, negara-negara Arab hanya menempati 
urutan ke dua di kelompok pemberi bantuan untuk Palestina. Negara-negara Arab 
menjanjikan bantuan 215 juta dolar, jauh di bawah jumlah bantuan dari kelompok 
negara-negara Barat yang mencapai 500 juta dolar. 

Yang menjadi persoalan lagi, janji pemberian bantuan dari negara-negara Arab 
itu pun tidak ditepati. Sejauh ini, dari 215 juta dolar yang dijanjikan, hanya 
sekitar 35 juta dolar yang telah direalisasikan. Dengan kondisi ini, maka wajar 
bila Rice mengatakan: mengingat besarnya pendapatan negara-negara Arab, yang 
kini semakin melambung seiring dengan melambungnya harga minyak, sangat tidak 
pantas bagi mereka memberikan bantuan sekecil itu. 

Dari segi politis, pernyataan Rice ini merupakan bagian dari kekecewaan besar 
AS atas negara-negara Arab sekutunya dalam menangani masalah-masalah Timur 
Tengah. AS gerah bahwa pihaknya selalu berada di front paling depan, baik dari 
segi politik, ekonomi maupun militer, dalam menengahi persoalan Timur Tengah. 
Persoalan Irak, Afghanistan serta Palestina, yang terus berlarut-larut, telah 
menyedot energi yang sangat besar AS hampir di segala segi. 

AS 'geram' melihat negara-negara Arab yang seakan-akan lepas tangan dalam upaya 
menyelesaikan konflik. Bahkan secara diam-diam negara-negara Arab malah memberi 
andil dalam mengacaukan upaya-upaya perdamaian yang dilakukan AS. Pernyataan 
Menlu Rice ini merupakan pernyataan resmi pertama pejabat AS yang secara terus 
terang menyuarakan kekecewaan atas minimnya konstribusi perdamaian dari 
negara-negara Arab. Pernyataan Rice ini pun seirama dengan pernyataan yang 
sering dikemukakan anggota Kongres dan Senat AS yang mengeluhkan tak 
seimbangnya langkah AS dengan langkah negara-negara Arab dalam mengatasi 
persoalan di kawasan mereka sendiri. 

Tapi terlepas dari unsur politis dari pernyataannya, kritik Rice ini pantas 
untuk direnungkan oleh negara-negara Arab. Sejauh ini upaya-upaya yang 
dilakukan negara-negara Arab untuk Palestina memang seadanya. Mereka tak cuma 
seadanya dalam memberikan bantuan ekonomi tapi juga bantuan dari segi politik. 
Sangat mengheran bahwa negara-negara super kaya seperti Qatar dan Kuwait, 
sejauh ini tak mengucurkan sepersen pun bantuan dana yang mereka telah 
janjikan. Ini jelas merupakan bukti bahwa mereka 'tak peduli' atas masalah 
Palestina. 

Dari segi politis, kondisinya lebih parah lagi. Negara-negara Arab tak pernah 
punya suara dan langkah yang bulat dalam menyelesaikan krisis Palestina. Mereka 
sibuk dengan urusan dan kepentingan masing-masing, sehingga mengabaikan krisis 
Palestina yang sebenarnya merupakan tanggung jawab mereka. 

Negara-negara Arab seakan tak menyadari bahwa mudahnya Israel menundukkan 
Palestina bukan karena kehebatan negara Yahudi itu, tapi lebih karena kebodohan 
negara Arab yang terpecah-pecah itu dalam memberikan bantuan untuk Palestina. 
Semangat Pan-Arab yang dulu menakutkan musuh-musuh mereka kita tak ada lagi, 
dan ini jutsru terjadi di saat banyak negara-neagara Arab berkelimpahan uang 
karena hanya minyak yang terus meroket.

Kirim email ke