Refleksi: Pesawat komersial pertama ini berinisial AJR21. Salah satu unsur 
Tiongkok bisa mempunyai industri pesawat komersial ini karena dimiliki selusin 
institut penyelidikan dan pendidikan tinggi dalam bidang aeronautika. Mereka 
malah sanggup membuat pesawat militer generasi ketiga pesawat jenis F16/Mig 29 
yang namanya Jianji 10 atau J10. 

Membandingkan  badan penyelidikan dan pendidikan tinggi di bidang aeronautika 
alias ilmu langitan di Indonesia dan di Tiongkok bisa dikatakan bahwa di 
Indonesia juga terdapat ratusan institusi penyelidikan dan pendidikan di bidang 
 tersebut, cuma saja jurusannya  berbeda dan hasil ciptaannya tidak dapat 
diukur dengan ilmu hitung pengetuan duniawi.


http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/12/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Tiongkok Dirikan Industri Pesawat Komersial


[BEIJING] Pemerintah Tiongkok membangun industri pesawat komersial, yang 
diharapkan suatu hari nanti bisa bersaing dengan perusahaan pembuat pesawat 
seperti Boeing dan Airbus. Perusahaan pesawat Tiongkok kini mulai merancang 
pesawat komersial pertama berkapasitas 150 penumpang, dengan pendanaan US$ 2,7 
miliar dari pemerintah. 

Kantor berita Xinhua melaporkan, Beijing berusaha mengembangkan industri 
pesawat sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada Airbus dan Boeing. 
Diperkirakan kebutuhan maskapai Tiongkok untuk pesawat baru akan meningkat lima 
kali lipat hingga 20 tahun ke depan atau sekitar 2.650 pesawat. 

General Manajer Perusahaan Pesawat Tiongkok, Jin Zhuanglong mengatakan masih 
dibutuhkan bertahun-tahun penelitian, untuk memulai produksi. "Mengacu pada 
sejarah Airbus dan Boeing, pengembangan dan kesuksesan pesawat sipil tidak 
dapat direalisasikan dalam waktu hanya satu atau dua generasi," katanya. 

Analis memperkirakan Tiongkok membutuhkan waktu setidaknya 20 tahun, hingga 
bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam industri penerbangan sipil dan 
sukses hanya jika bisa menarik investasi asing. Saat ini, Komisi Supervisi Aset 
dan Administrasi, di bawah pemerintah, menjadi investor terbesar dengan 30 
persen saham. 

Sebagian saham lainnya dimiliki berbagai perusahaan negara seperti Chalco, 
Baoshan, dan Sinochem. "Mereka akan dapat memajukan keberadaannya dalam waktu 
10 sampai 20 tahun, jika melepaskan ketergantungan dari pendanaan pemerintah 
dan secara bertahap menawarkan sahamnya ke publik," kata Richard Aboulafia, 
pengamat penerbangan dari Grup Teal. [BBC/B-14] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 12/5/08

Kirim email ke