Refleksi: Agaknya  Indonesia tidak  berbicara atau menyinggung  tentang Sahara 
Barat yang dijajah Maroko, alasannya dapat dimegerti.

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/14/time/115700/idnews/939295/idkanal/10

 14/05/2008 11:57 WIB

 
Indonesia Godok Proses Dekolonisasi 16 Wilayah di Dunia
Ema Nur ArifahAndrian Fauzi - detikcom

 Bandung - Indonesia sebagai Ketua Komite 24 PBB atau Komite Dekolonisasi 
sedang menggodok proses dekolonisasi 16 wilayah yang berada dalam otoritas 
empat negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Selandia Baru.

Hal itu sedang digodok oleh Komite Khusus Dekolonisasi PBB dalam Pacific 
Regional Seminar On Decolonization yang diselenggarakan di Bandung dari tanggal 
14-16 Mei 2008. Seminar ini diikuti oleh 60 peserta dari delegasi negara 
anggota komite, staf sekertariat PBB, NGO, perwakilan negara anggota PBB, dan 
juga perwakilan dari negara yang belum berpemerintahan.

Dalam pidato pembukaannya, Wakil Tetap RI di PBB, Marty Natalegawa mengatakan 
sejak awal 2008, Indonesia diberikan tanggung jawab oleh PBB sebagai Ketua 
Komite 24 atau Komite Dekolonisasi.

Saat ini yang sedang digodok di Komite 24 adalah dekolonisasi 16 wilayah yang 
berada dalam otoritas empat negara. Kesulitan yang dihadapi dalam dekolonisasi, 
kata Marty, karena ke 16 wilayah tersebut variatif dan terdiri dari pulau-pulau 
kecil dari daerah Pasifik sampai Karibia.

"Tokelau contohnya, berada di bawah otoritas Selandira Baru. Mereka diberi 
pilihan mau merdeka atau berintegrasi dengan negara lain melalui referendum. 
Tapi mereka memilih tidak merdeka, karena merasa masa depan mereka tidak lebih 
baik seperti sekarang ini," kata Marty mencontohkan.

Seminar yang diselenggarakan di Hotel Savoy Homann, Bandung ini akan 
menghasilkan rekomendasi yang kemudian akan dikirimkan ke markas besar PBB di 
New York untuk diajukan kembali dalam majelis umum PBB.

Rekomendasi yang diharapkan dari penyelenggaraan seminar ini antara lain 
komunikasi antara negara-negara yang belum mempuyai pemerintahan sendiri, baik 
dengan negara administrating power atau dengan komite, adanya informasi yang 
bisa disampaikan kepada negara yang belum punya pemerintahan sendiri bahwa ada 
hak dan kewajiban bagi negara tersebut, dan rekomendasi yang terakhir adalah 
misi komite jadi lebih pragmatis. ( ema / asy ) 


Kirim email ke