Refleksi: Dengan bangga lagi sibuk dibicarakan hari kebangkitan nasional, maka 
tentunya  harga BBM pun bangkit naik mengikut trend menjulang ke langit. 
Mengapa bisa harga BBM naik padahal katanya negeri penghasil minyak dan gas 
alam. Produksinya tidak mencukupi kebutuhan ataukah hasil pengolahan minyak dan 
gas serta pendapatnnya  menghilang tidak berbekas kemana perginya karena 
disulap penguasa negara dan konco-konco mereka? Pertanyaan pahit, ialah apa 
kebanggaan kebangkitan hari nasional bagi rakyat mayoritas bila kian hari hari 
bertambah miskin dan hasil serta harta kekayaan alam yang berlimpah-limpah yang 
seharusnya dapat dipergunakan untuk memenuhi kehidupan memada kian hari hari 
kian menghilang?

Suara Merdeka

15/05/2008 16:46 wib - Ekonomi Aktual


Kwik: Solusi Terbaik Tak Naikkan Harga BBM



Yogyakarta, CyberNews. Pemerintah tidak perlu menaikkan harga bahan bakar 
minyak sebagai solusi terbaik untuk mengatasi beratnya beban Anggaran 
Pendapatan dan Belanja Negara, kata pengamat ekonomi Kwik Kian Gie. Saat ini 
yang terpenting yakni memikirkan rakyat yang mulai kelaparan, katanya kepada 
wartawan setelah menjadi pembicara pada Sarasehan Kebangsaan memperingati 100 
Tahun Kebangkitan Nasional di Yogyakarta, Kamis (15/5).

"Apabila pemerintah tidak jadi menaikkan harga BBM, ini merupakan salah satu 
solusi erbaik untuk mengatasi kemiskinan," kata mantan kepala Bappenas ini. 
Menurut dia, logikanya minyak mentah yang ada di perut bumi Indonesia adalah 
milik seluruh rakyat di negeri ini. "Sehingga, semestinya bisa dinikmati 
seluruh rakyat dengan harga murah," katanya.

Kata Kwik, untuk menyedot minyak mentah dari perut bumi dan kemudian diolah 
menjadi premium hingga sampai ke pompa bensin memang memerlukan biaya tinggi. 
"Tetapi semua itu masih memberikan keuntungan bagi negara," katanya.

Mengenai Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM, ia 
menilai kebijakan itu akan sulit dilaksanakan terutama saat melakukan pendataan 
calon penerima BLT, dan bahkan bisa tidak tepat sasaran. "Saya memperkirakan 
pendataan calon penerima BLT akan kacau, dan hasil pendataan acak-acakkan. Saya 
pernah mengalami kegagalan dalam menangani program tersebut," katanya.

Ketika ditanya tentang rencana pemerintah menjual BUMN yaitu PT Krakatau Steel, 
Kwik mengatakan kebijakan itu merupakan keputusan yang hanya didasari ideologi 
semata. Kata dia, dulu pemerintah memang berencana menggabungkan antara PT 
Krakatau Steel, Pindad, PTDI dan PT Pulp untuk mendanai pengadaan senjata 
militer Indonesia.

"Rencana penjualan sejumlah BUMN waktu itu bukan karena pemerintah kekurangan 
dana, tetapi karena kepentingan ideologi. Pada saat itu ada yang beranggapan 
dan mengatakan pemerintah tidak boleh memiliki perusahaan, karena dampaknya 
kurang baik," katanya. 

Kirim email ke