Riau Pos
Arah Riset Kesehatan dan Obat
Rabu, 14 Mei 2008
Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakikatnya ditujukan
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban
bangsa. Sejalan dengan paradigma baru di era global yaitu tekno-ekonomi, di
mana teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam
peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Implikasi paradigma ini adalah
terjadinya proses transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada
sumber daya (resource based economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan
pengetahuan (knowledge based economy). Pada era knowledge based economy ini,
kekuatan bangsa diukur dari kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai
faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan
daya saing.
Iptek mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembangunan ekonomi
suatu bangsa. Oleh karena itu pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi
mutlak harus dilaksanakan terutama pada bidang-bidang yang mendasar.
Pembangunan ini diharapkan akan memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan
dan peradaban bangsa sesuai dengan amanat undang-undang. Mengacu pada arahan
pembangunan sebagaimana digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional 2005-2009, bidang-bidang yang sangat mendasar untuk diprioritaskan
dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sampai dengan 2025 adalah bidang pangan,
energi, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, pertahanan dan
keamanan serta kesehatan dan obat.
Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kesehatan dan obat
diharapkan mampu menopang upaya pemenuhan salah satu hak dasar rakyat, yaitu
hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau seperti
diamanatkan dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28. Secara nasional, termasuk
di Riau, masalah yang sedang dihadapi masa kini dalam bidang pengendalian
penyakit dan lingkungan adalah transisi demografi dan transisi epidemiologi,
serta perubahan lingkungan yang akan sangat berpengaruh terhadap derajat
kesehatan masyarakat.
Ketanggapan sistem pelayanan kesehatan terhadap kebutuhan masyarakat
harus adil dan merata dalam pembiayaan kesehatan. Perlu dikembangkan teknologi
penanganan kedaruratan kompleks di bidang kesehatan dan obat, teknologi
pengobatan alternatif dan komplementer. Untuk mendukung upaya peningkatan
pelayanan kesehatan dan meningkatkan kemampuan serta kemandirian teknologi
kesehatan, diperlukan penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.
Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan difokuskan pada tiga
kelompok, yaitu gizi dan makanan, pengendalian penyakit dan penyehatan
lingkungan, dan pengembangan bahan baku obat; ketersediaan obat, perbekalan
farmasi, dan alat kesehatan.
Kekayaan hayati dan kearifan tradisional lokal Riau mempunyai potensi
tinggi untuk industri kesehatan dan obat-obatan. Kekayaan hayati ini terutama
ditopang oleh biodiversitas tinggi dari hutan dan perairan Riau, sebagai bagian
dari wilayah Indonesia yang keragaman hayatinya adalah nomor 2 terbesar di
dunia setelah Brazilia. Kekayaan hayati ini terancam punah, seiring dengan
pembangunan yang menyebabkan berkurangnya luas areal hutan, dan kerusakan
ekosistem yang mengurangi kualitas lingkungan perairan. Kearifan tradisional
lokal Riau juga terancam punah, seiring dengan perubahan budaya dan
berkurangnya dukun tradisional, yang tidak mendokumentasikan pengetahuannya.
Sebelum kekayaan hayati dan kearifan tradisional lokal Riau berkurang atau
hilang, dibutuhkan upaya untuk menggali, melestarikan atau mengembangkannya
terutama untuk bidang perobatan.
Kasus penggunaan bahan berbahaya untuk kesehatan dalam industri
obat-obatan, kosmetik dan makanan yang beredar telah pula terdapat di Riau.
Pemakaian bahan yang berbahaya untuk kesehatan disebabkan antara lain: lemahnya
kebijakan, pengawasan dan penindakan terhadap penggunaan bahan berbahaya;
kurangnya pengetahuan masyarakat; kurang atau belum adanya peralatan/metode
diagnostik/identifikasi bahan yang akurat, mudah dan cepat; kurangnya bahan
obat, kosmetik dan aditif makanan yang aman tetapi relatif murah.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka Dewan Riset Daerah Provinsi Riau
telah menyusun sebuah konsep tentang arah kebijakan dan prioritas riset bidang
kesehatan dan obat di Riau sebagai berikut. Pertama, pengendalian penyakit
yang menjadi masalah kesehatan utama di Provinsi Riau, melalui identifikasi
etiologi penyakit endemik, non-endemik dan genetik di Riau, deteksi dini,
pemeliharaan kesehatan, serta pencegahan dan penyembuhan penyakit. Kedua,
pengembangan obat, bahan baku obat dan bahan additif kosmetik dan makanan yang
aman bagi kesehatan dari bahan alam lokal Riau. Ketiga, peningkatan kualitas
gizi masyarakat Riau dan keempat, pengembangan alat dan kemampuan diagnostik
kedokteran/kesehatan, terutama untuk penyakit-penyakit dengan prevalensi tinggi
di Riau. Berikut ini diuraikan prioritas riset dan pengembangan masing-masing
kelompok prioritas ini.
Pengembangan obat, bahan baku obat dan bahan additif kosmetik dan
makanan. Penelitian dan pengembangan pada kelompok prioritas ini meliputi; a)
Penemuan paket teknologi produksi antibiotika, antikanker, antimalaria,
antifilariasis, immunomodulator, antiinflamasi, pewarna makanan dan kosmetik
dari biota laut, tanah dan hutan Riau (bakteri, fungi, spons, tanaman). b)
Penyusunan peta etnobotanis masyarakat lokal Riau. c) Penapisan dan
pengisolasian bakteri,fungi, spons, tanaman dari alam lokal Riau yang
menghasilkan senyawa bioaktif untuk industri obat, bahan aditif kosmetik dan
makanan. d) Pencarian bahan bioaktif dari bahan alam lokal Riau, baik bahan
alam yang diekstraksi, maupun yang dimodifikasi melalui sintesis atau
biotransformasi. d) Sintesis dan biotransformasi bahan berkhasiat (senyawa
organik kecil, makromolekul ataupun enzim), dengan bahan dasar asal alam/lokal
Riau. e) Uji farmakologis terhadap bahan alam yang berpotensi untuk pengobatan
penyakit utama di Riau. f) Uji klinis terhadap bahan alam yang berpotensi untuk
pengobatan penyakit utama di Riau. g) Pengembangan laboratorium dan SDM untuk
pengembangan obat, bahan baku obat, dan bahan aditif makanan/kosmetik/obat.
Peningkatan kualitas gizi masyarakat Riau. Kegiatan riset yang
direkomendasikan di kelompok prioritas ini antara lain mencakup; a) Penyusunan
peta permasalahan gizi di Riau. b) Penemuan teknologi dan metoda aplikasi
efektif kit diagnostik atau metode uji keamanan makanan, obat dan kosmetik. c)
Pencarian paket teknologi pangan untuk peningkatan gizi masyarakat. d)
Penyusunan peta pola genetik dan gizi yang terkait dengan penyakit degeneratif
/metabolik utama di Riau. e) Penemuan formulasi dan pengembangan makanan untuk
peningkatan gizi dari bahan lokal Riau f) Pengembangan laboratorium dan SDM
untuk uji keamanan makanan, obat dan kosmetik.
Pengembangan alat diagnostik penyakit dengan prevalensi tinggi di Riau.
Beberapa lapangan riset yang direkomendasikan antara lain adalah; a) Penemuan
teknologi kit diagnostik untuk penyakit berprevalensi tinggi di Riau. b)
Pengembangan laboratorium dan SDM peneltian pengembangan alat dan kit
diagnostik ini. Demikianlah tulisan ini dibuat, semoga dapat bermanfaat bagi
pihak yang memerlukannya.***
Prof Dr Ir Irwan Efendi MSc; Sekretaris Dewan Riset Daerah Riau