Jabir Ibnu Hayyan Peletak Dasar Kimia Modern  April 28th, 2008 | by admin |     
      Tak salah bila dunia mendapuknya sebagai bapak kimia modern. Ahli kimia 
Muslim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan 
panggilan Geber itu memang sangat fenomenal. Betapa tidak, 10 abad sebelum ahli 
kimia Barat bernama John Dalton (1766-1844) mencetuskan teori molekul kimia, 
Jabir Ibnu Hayyan (721M - 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.
 Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu 
ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan. Dedikasinya dalam 
pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan 
yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man (manusia yang 
mencerahkan).
 Tanpa kontribusinya, boleh jadi ilmu kimia tak berkembang pesat seperti saat 
ini. Ilmu pengetahuan modern sungguh telah berutang budi kepada Jabir yang 
dikenal sebagai seorang sufi itu. Jabir telah menorehkan sederet karyanya dalam 
200 kitab. Sebanyak 80 kitab yang ditulisnya itu mengkaji dan mengupas 
seluk-beluk ilmu kimia. Sebuah pencapaian yang terbilang amat prestisius.
  Itulah sebabnya, ahli sejarah Barat, Philip K Hitti dalam History of the 
Arabs berujar, ‘’Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa 
Arab juga memberikan sumbangan yang begitu besar di bidang kimia.’‘ Penyataan 
Hitti itu merupakan sebuah pengakuan Barat terhadap pencapaian yang telah 
ditorehkan umat Islam di era keemasan.
 Sejatinya, ilmuwan kebanggaan umat Islam itu bernama lengkap Abu Musa Jabir 
Ibnu Hayyan. Asal-usul kesukuan Jabir memang tak terungkap secara jelas. Satu 
versi menyebutkan, Jabir adalah seorang Arab. Namun, versi lain menyebutkan 
ahli kimia kesohor itu adalah orang Persia. Kebanyakan literatur menulis bahwa 
Jabir terlahir di Tus, Khurasan, Iran pada 721 M.
 Saat terlahir, wilayah Iran berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah. Sang ayah 
bernama Hayyan Al-Azdi, seorang ahli farmasi berasal dari suku Arab Azd. Pada 
era kekuasaan Daulah Umayyah, sang ayah hijrah dari Yaman ke Kufah, salah satu 
kota pusat gerakan Syiah di Irak. Sang ayah merupakan pendukung Abbasiyah yang 
turut serta menggulingkan Dinasti Umayyah.
 Ketika melakukan pemberontakan, Hayyan tertangkap di Khurasan dan dihukum 
mati. Sepeninggal sang ayah, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman. Jabir 
kecil pun mulai mempelajari Alquran, matematika, serta ilmu lainnya dari 
seorang ilmuwan bernama Harbi Al-Himyari.
 Setelah Abbasiyah menggulingkan kekuasaan Umayyah, Jabir memutuskan untuk 
kembali ke Kufah. Di kota Syiah itulah, Jabir belajar dan merintis karier. 
Ketertarikannya pada bidang kimia, boleh jadi lantaran profesi sang ayah 
sebagai peracik obat. Jabir pun memutuskan untuk terjun di bidang kimia.
 Jabir yang tumbuh besar di pusat peradaban Islam klasik itu menimba ilmu dari 
seorang imam termasyhur bernama Imam Ja’far Shadiq. Selain itu, ia juga sempat 
belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid. Jabir memulai kariernya di bidang 
kedokteran setelah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah 
berada dibawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid.
 Sejak saat itulah, Jabir bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah 
laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Dalam karirnya, ia pernah bekerja 
di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Salah satu ciri khasnya, ia 
mendasari eksperimen-eksperimen yang dilakukannya secara kuantitatif. Selain 
itu, instrumen yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari 
logam, tumbuhan, dan hewani.
 ‘’Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan 
saya menelitinya hingga sebenar mungkin, dan saya mencari kesalahan yang 
mungkin masih terpendam.’‘ Kalimat itu kerap dituliskan Jabir saat mengakhiri 
uraian suatu eksperimen yang telah dilakukannya.
 Setelah sempat berkarier di Damaskus, Jabir pun dikabarkan kembali ke Kufah. 
Dua abad pasca-berpulangnya Jabir, dalam sebuah penggalian jalan telah 
ditemukan bekas laboratorium tempat sang ilmuwan berkarya. Dari tempat itu 
ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona serta sebatang 
emas yang cukup berat.
 Begitu banyak sumbangan yang telah dihasilkan Jabir bagi pengembangan kimia. 
Berkat jasa Jabirlah, ilmu pengetahuan modern bisa mengenal asam klorida, asam 
nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi, dan tehnik kristalisasi. 
Jabir pulalah yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam 
klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.
 Keberhasilan penting lainnya yang dicapai Jabir adalah kemampuannya 
mengaplikasikan pengetahuan mengenai kimia ke dalam proses pembuatan besi dan 
logam lainnya, serta pencegahan karat. Ternyata, Jabir jugalah yang kali 
pertama mengaplikasikan penggunaan mangandioksida pada pembuatan gelas kaca.
 Adalah Jabir pula yang pertama kali mencatat tentang pemanasan anggur akan 
menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan 
bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.
 Selain itu, Jabir pun berhasil menyempurnakan proses dasar sublimasi, 
penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, 
pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang 
dihasilkannya itu merupakan teknik-teknik kimia modern.
 Tak heran, bila sosok dan pemikiran Jabir begitu berpengaruh bagi para ahli 
kimia Muslim lainnya seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). 
Tak cuma itu, buku-buku yang ditulisnya juga begitu besar pengaruhnya terhadap 
pengembangan ilmu kimia di Eropa. Jabir tutup usia pada tahun 815 M di Kufah.
 Adikarya Sang Ilmuwan Besar
 Dedikasi dan prestasi yang dicapai Jabir Ibnu Hayyan dalam bidang kimia 
terekam dengan baik lewat buku-buku yang ditulisnya. Tak kurang dari 200 buku 
berhasil ditulisnya.  Sebanyak 80 judul buku di antaranya mengupas hasil-hasil 
eksperimen kimia yang dilakukannya. Buku-buku itu sungguh amat berpengaruh 
hingga sekarang.
 Sebanyak 112 buku karya Jabir secara khusus ditulis untuk dipersembahkan 
kepada Barmakid sang guru yang juga pembantu atau wazir Khalifah Harun Ar- 
Rasyid. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Pada abad pertengahan, 
orang-orang Barat mulai menerjemahkan karya-karya Jabir itu ke dalam bahasa 
Latin (Tabula Smaragdina).Buku-buku itu lalu menjadi rujukan pada ahli kimia di 
Eropa.
 Selain itu, sebanyak 70 buku karya Jabir lainnya juga  dialihbahasakan ke 
dalam bahasa Latin pada abad pertengahan. Dari ke-70 kitab berpengaruh itu, 
salah satu yang terkenal adalah Kitab Al-Zuhra yang diterjemakan menjadi Book 
of Venus, serta Kitab Al-Ahjar yang dialihbahasakan menjadi Book of Stones.
 Sebanyak 10 buku yang ditulis Jabir lainnya adalah kitab pembetulan yang 
berisi penjelasan mengenai ahli kimia Yunani seperti Pythagoras, Socrates, 
Plato dan Aristoteles. Sisanya, kitab yang ditulis Jabir merupakan buku-buku 
keseimbangan. Dalam buku kelompok ini, Jabir melahirkan teori yang begitu 
terkenal, yakni ‘teori keseimbangan alam.’
 Risalat-risalat karya Jabir yang secara khusus membedah ilmu kimia antara 
lain’ Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab’een. Kitab penting itu juga telah 
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad pertengahan. Kitab Al-Kimya menjadi 
sangat populer di Barat setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris oleh orang 
Inggris Robert of Chester pada 1144 M.
 Al-Kimya versi alih bahasa berjudul ‘The Book of Composition of Alchemy’. 
Sedangkan, Kitab Al-Sab’een diterjemahkan oleh Gerard of Cremona. Beberapa 
karya Jabir lainnya juga dialihbahasakan oleh Berthelot ke dalam bahasa Inggris 
antara lain; ‘Book of Kingdom’, ‘Book of the Balances’, serta ‘Book of Eastern 
Mercur.’
 Buku karya Jabir lainnya juga mendapat perhatian dari ilmuwan Inggris bernama 
Richard Russel. Pada abad ke-17 M, Russel menerjemahkan buku yang ditulis Jabir 
ke dalam bahasa Ingris berjudul ‘Sum of Perfection’.
 Dalam buku itu, Russel memperkenalkan Jabir dengan nama Geber seorang pange  
ran Arab terkenal yang juga seorang filsuf. ‘Sum of Perfection’ selama beberapa 
abad begitu populer dan berpengaruh. Buku itu telah mendorong terjadinya 
evolusi kimia modern. Begitu berpengaruhnya buku-buku karya Jabir di Eropa dan 
Barat umumnya telah dibuktikan dengan munculnya beberapa istilah teknis yang 
ditemukan dalam kamus kimia Barat dan menjadi kosa kata ilmia yang sebelumnya 
digunakan Jabir seperti istilah ‘alkali.’  heri ruslan
 ***Harian Republika

       
---------------------------------
 Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist.   Download sekarang juga.

Kirim email ke