http://www.sinarharapan.co.id/berita/0805/31/opi03.html
Pemimpin yang Berani dan Bijaksana" Oleh Pdt Mangapul Sagala Dengan nada jengkel seseorang bertanya: "Apakah tidak ada cara lain bagi pemerintah Yudhoyono- Jusuf Kalla untuk mengatasi kondisi keuangan yang terus merosot selain dari pada menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak)?" Barangkali, pertanyaan tersebut di atas mewakili jutaan pertanyaan rakyat di seantero nusantara segera setelah pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM. Mari kita hitung bersama, sejak Yudhoyono-Kalla memerintah republik ini, berapa kali pemerintah sudah menaikkan harga BBM? Bagaimana kita memahami persentasi kenaikan yang sedemikian tinggi, sejak "kejutan" kenaikan harga BBM sebesar 126 persen pada tahun 2005, yang dilanjutkan dengan kenaikan 30 persen tahun ini? Memang, kenaikan BBM sangat fantastis. Dalam kurun waktu hanya tiga tahun, kenaikan harga BBM mencapai 156 persen! Pada sebuah harian ibu kota, juru bicara presiden, Andi Mallarangeng mengatakan bahwa pemerintah siap berdialog terhadap penentang kenaikan harga BBM. Dialog apa gerangan yang mau dia berikan? Barangkali, Andi mau meyakinkan rakyat bahwa itulah satu-satunya cara terbaik bagi pemerintah. Lalu, barangkali Andi mau meyakinkan rakyat betapa beruntungnya mereka dengan program BLT (Bantuan Langsung Tunai) pemerintah tersebut. Jika itu yang mau dilakukannya, maka jelas Andi keliru. Mengapa? Mengenai BLT, berbagai kalangan telah menyatakan penolakannya. Alasannya jelas. Pertama, sebagaimana ditegaskan oleh peneliti dari LIPI, Masyhuri Imron, hal itu menjadikan rakyat seperti pengemis, yang memohon belas kasihan dari pemerintah. Masyhuri selanjutnya mengingatkan bahwa program seperti itu sudah pernah dijalankan pada tahun 2005 dan terbukti tidak memiliki dampak positif apa-apa. Dan lagi, jika BLT bermaksud meringankan beban rakyat, tindakan itu gagal. Dalam kenyataannya, rakyat semakin menderita, sebab seiring dengan kenaikan harga BBM, harga-harga kebutuhan pokok dan transportasi pun terus meningkat antara 15-40 persen. Itulah sebabnya, para pengamat ekonomi seperti Ichsanuddin Noorsy dari Universitas Gajah Mada sangat menyayangkan keputusan menaikkan harga BBM. Menurut kajian LIPI, kenaikan harga BBM akan menaikkan angka kemiskinan menjadi 21,92 persen atau menjadi 41,7 juta jiwa. Keberanian yang Benar Kembali kepada pertanyaan tersebut di atas, apakah menaikkan harga BBM adalah satu-satunya cara terbaik? Jawabnya, tentu saja tidak. Menurut saya, menaikkan harga BBM bukanlah keberanian sejati. Tindakan tersebut justru mencerminkan ketakutan pemerintahan Yudhoyono melakukan hal-hal lain yang seharusnya dilakukan. Karena itu, mari bicara tentang BLT yang lain. Sebenarnya, sebagaimana saya tulis pada edisi yang lalu, jika pemerintah mau dan berani, banyak terobosan dapat dilakukan demi kebahagiaan rakyat. Pertama, pemerintah harus Berani Lakukan Terobosan (BLT) dalam hal pemerintahan yang bersih. Itulah juga yang menjadi janji Presiden Yudhoyono ketika berkampanye: perang melawan korupsi. Tapi bagaimana kenyataannya? Baru-baru ini sebuah media melaporkan bahwa Kepala Biro Adwil DKI resmi ditahan karena korupsi. Orang tersebut dinilai bersalah dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lemari arsip (filing cabinet) yang merugikan negara 4,6 miliar rupiah atau Rp.4.600.000.000! Itu baru tingkat Kepala Biro. Bagaimana dengan tingkat di atasnya? Bagaimana dengan korupsi di tingkat Gubernur dan Menteri? Barangkali pembaca pernah melihat sebuah buku yang membahas sepuluh orang terkaya di Indonesia. Dua di antara mereka adalah orang "besar" yang sedang memerintah di republik ini. Yang lainnya adalah Sukanto Tanoto, yaitu pengusaha kelas kakap dari Medan. Menurut buku tersebut, harta mereka yang berjumlah triliuan rupiah tersebut diindikasi diperoleh dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan hukum. Mereka juga terlibat dalam kredit macet serta tidak beres dalam hal pembayaran pajak. Sekiranya, pemerintahan Yudhoyono berani menggiring orang-orang tersebut ke pengadilan, berapa banyak harta negara yang dapat dikembalikan? Kedua, pemerintah harus Berani Lakukan Terobosan (BLT) dalam hal penghematan. Hal ini juga telah menjadi seruan dan sorotan berbagai pihak. Tetapi dalam kenyataannya, apa yang terjadi? Ketika rakyat dipaksa untuk berhemat listrik, kita dapat menyaksikan pemborosan tenaga listrik di kantor-kantor pemerintah yang terus menyala dari pagi sampai larut malam. Ketika para nelayan dan supir angkutan umum dipaksa untuk berhenti karena tidak mampu membeli BBM, berapa banyak pejabat memboroskan BBM dengan kendaraan-kendaraan dinas mewah dengan silinder (cc) tinggi seperti Mercy, Volvo, BMW, Camry dan sejenisnya yang memiliki. Berapa banyak mobil dinas yang dipakai oleh pejabat dan anggota keluarganya menggunakan BBM berharga tinggi atas biaya negara? Banyak hal lain lagi yang memerlukan penghematan, seperti perjalanan dinas, studi banding yang tidak terlalu perlu, upacara-upacara yang bersifat ceremonial kantor dan kenegaraan yang menelan biaya besar, dstnya. Sekiranya pemerintahan Yudhoyono melakukan penghematan di segala bidang, banyak harta negara yang dapat diselamatkan. Kiranya Allah mengaruniakan kepada kita pemimpin seperti Yusuf yang asli, yang begitu mengasihi rakyatnya dan mampu melepaskan mereka dari berbagai macam krisis, tanpa menjadikan mereka seperti pengemis (Kejadian 41:37-57). Ya Allah, berikanlah kepada negeri ini pemimpin yang berani dan bijaksana dan sungguh-sungguh mencintai rakyat. Amin. Salam hangat. n Penulis adalah alumnus Trinity Theological College, Singapura, sedang melayani di Persekutuan Kristen Antar-Universitas
