http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/31/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Hati Lebih Penting dari Uang 

Belajar Moral dari Rakyat Miskin
 

Kasdin Sihotang 

Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi penolakan terhadap kenaikan harga bahan bakar 
minyak (BBM) dan penderitaan rakyat, yang semakin menumpuk akibat kenaikan itu, 
mencuat cerita yang menyentuh sukma rakyat miskin. 

Sebagaimana diberitakan salah satu media cetak nasional, Sadimin (55), warga RT 
04, RW 08, Kelurahan Mlati Baru, Kecamatan Semarang Timur, telah membuat 
kebijakan yang menggugah hati dalam kaitan dengan bantuan langsung tunai (BLT) 
yang diterimanya dari pemerintah. Konon, di desa itu terdapat 32 kepala 
keluarga (KK) yang semuanya tergolong orang miskin. Sayangnya, mereka semuanya 
tidak menerima BLT. Hanya 12 KK yang menerima bantuan dari pemerintah. Dengan 
demikian, yang tidak menerima BLT jauh lebih banyak, lebih dari separuh jumlah 
kepala keluarga. 

Yang menyentuh hati adalah apa yang dilakukan oleh Sadimin beserta 
rekan-rekannya yang menerima BLT terhadap warga miskin lain, yang tidak 
menerima bantuan uang. Dalam musyawarah rukun tetangga (RT), Sadimin beserta 
teman-temannya menyepakati untuk menyisihkan sebagian jatah untuk warga yang 
tidak menerima BLT. Jumlah dana yang mereka sisihkan Rp 25.000 dari dana yang 
diperoleh. Dana sisa inilah yang dibagikan kepada warga miskin yang tidak 
menerima BLT. 

Lebih menarik lagi, semangat kepedulian ini ternyata tidak hanya berhenti di RT 
Sadimin, juga menyebar ke RT lain di kelurahan yang sama. Beberapa ibu penerima 
BLT melakukan hal yang sama. Bahkan, seorang ibu bernama Mariyem (66), janda 
tanpa anak yang menumpang pada tetangganya, sangat ikhlas menyisihkan sebagian 
jatah BLT-nya untuk warga yang tidak menerima bantuan (Kompas, Rabu, 28 Mei 
2008). 

Pesan moral apa yang bisa kita baca dari perbuatan luhur rakyat miskin di atas? 
Menurut hemat penulis, narasi faktual di atas mengandung dua pesan bernas yang 
amat mendasar. Pertama, secara tidak langsung rakyat miskin melalui Sadimin cum 
suis telah memberikan kritik konstruktif mendasar terhadap kebijakan pemerintah 
tentang pembagian BLT. Kritik yang paling mencolok adalah prinsip keadilan dan 
pemerataan yang kurang diindahkan dalam kebijakan pemerintah itu. 

Dalam prinsip keadilan, khususnya keadilan komutatif, sebagaimana ditegaskan 
oleh pemikir Aristóteles, satu tindakan dinilai adil kalau diberlakukan 
prinsip-prinsip yang sama bagi semua orang yang berada dalam situasi yang 
kurang lebih sama. Artinya, tidak ada pembedaan perlakuan terhadap orang-orang 
yang berada dalam keadaan yang serupa. Kalau terjadi pembedaan, berarti terjadi 
perlakuan tidak adil. 

Dalam kasus warga di Kelurahan Mlati Baru, Semarang itu, terdapat 32 KK rakyat 
miskin, tetapi hanya 12 KK yang menerima BLT. Itu berarti, 20 KK mendapat 
perlakuan berbeda, padahal situasi mereka persis sama dengan situasi 12 KK 
penerima BLT. 

Bercermin pada dasar negara, Pancasila, sebagaimana terungkap dalam sila ke-5 
"Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia", pemerintahan sesungguhnya 
telah menyimpang dari sumber etika kebangsaan ini. Padahal, menurut Bung Karno, 
prinsip etis dasar ini justru harus menjadi landasan dalam mengeluarkan 
kebijakan dalam pembangunan bangsa. 


Solidaritas Sejati 

Kedua, narasi faktual di atas sesungguhnya memberikan pelajaran moral berharga 
dari kaum miskin, bagaimana kita membangun solidaritas yang sejati di 
tengah-tengah situasi yang sangat serba sulit dewasa ini. 

Teladan rakyat kaum miskin di Desa Mlati Baru itu menunjukkan bahwa solidaritas 
bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan oleh bangsa ini. Solidaritas itu mudah 
diwujudkan. Namun, harus ada dasarnya, yakni kemauan untuk membuka hati. 

Dengan kemauan mereka telah membuka mata hati masyarakat sekitar. Bagi 
masyarakat miskin hati jauh lebih penting daripada uang. Mata hati adalah 
permata bagi mereka. Mata hati kepedulian kepada sesama yang menderita. Dengan 
hati mereka merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan rekan warganya yang 
tidak bernasib mujur seperti mereka. 

Sadimin dan kawan-kawan juga menunjukkan bahwa kepedulian kepada sesama tidak 
harus diungkapkan dalam perbuatan-perbuatan besar dengan berkoak-koak, dengan 
slogan-slogan yang berspanduk besar, tetapi dengan perbuatan-perbuatan kecil 
dan nyata yang dapat dirasakan oleh orang di sekitar secara langsung. 

Jadi, apa yang diperlihatkan rakyat miskin dari Semarang itu adalah teladan 
moral. Teladan moral dalam hal bagaimana harus menyikapi uang, Mereka telah 
menunjukkan bahwa uang bukanlah penyekat diri dari orang lain. Uang bukanlah 
untuk menyombongkan diri, menjadi pembeda dirinya dari orang lain, apalagi 
dipakai sebagai senjata untuk menguasai orang lain, mewujudkan kepentingan diri 
sendiri. 

Mereka juga telah memberikan teladan moral, bagaimana harus hidup 
bermasyarakat. Sesama masyarakat bukanlah musuh yang harus ditaklukkan, 
melainkan sesama yang hidupnya harus dihargai, nasibnya harus diperhatikan, 
penderitaannya harus diatasi. Apa yang pernah digagas oleh Emmanuel Levinas 
bahwa perjumpaan dengan sesama adalah tanggung jawab terhadap hidup mereka 
telah dipraktikkan oleh rakyat miskin bernama Sadimin dan teman-temannya. 

Berkaca dari narasi faktual rakyat miskin di atas, sesungguhnya bangsa ini bisa 
bangkit dari keterpurukan kalau dikembangkan prinsip-prinsip dasar yang telah 
dipraktikkan di atas dalam hidup berbangsa dan bernegara, yakni solidaritas 
sejati, keadilan sosial yang nyata, serta penghargaan terhadap hidup semua 
orang, khususnya mereka yang menderita (rakyat miskin). 

Pengambil kebijakan harus memulai hal ini, karena tugas mereka adalah menjamin 
semua ini terlaksana. Kalau belum, tidak terlambat belajar dari rakyat miskin 
di Semarang itu. Vox pueri populi, vox Dei. 


Penulis adalah dosen filsafat di Fakultas Ekonomi dan Filsafat Manusia di 
Fakultas Psikologi serta staf inti PPPE Unika Atma Jaya Jakarta 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 31/5/08

<<kasdinjp.gif>>

Kirim email ke