http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008052801092417

      Rabu, 28 Mei 2008 
     
      BURAS 
     
     
     
Bicaralah pada Tembok Bisu! 

       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      "UCOK, maaf ya, kuperhatikan ayahmu sering bicara pada tembok!" bisik 
Ujang. "Tembok, bilang ke Ama Ni Tagor..., begitu ia ucapkan tadi!"

      "Sebetulnya dia itu bicara pada inang bao, istri dari adik emakku! Dalam 
adat kami seorang suami tidak boleh bicara langsung pada inang bao!" jelas 
Ucok. "Jadi jangan kira ayahku kurang waras!"

      "Bukan mengira begitu, tapi berpikir mungkin ayahmu mau ikut demonstrasi 
menolak kenaikan harga BBM!" sambut Ujang. "Karena demo dan segala bentuk aksi 
menolak kenaikan harga BBM yang tensinya terus meningkat di seantero negeri, 
seperti bicara pada tembok kekuasaan yang bisu! Apa pun diteriakkan atau 
dilakukan para pemrotes, kekuasaan membisu tidak peduli, jalan terus dengan 
keputusannya!"

      "Itu bedanya tembok dalam komunikasi adat dan komunikasi politik!" tukas 
Ucok. "Pada komunikasi adat, tembok efektif sebagai medium dialog! Sedang dalam 
komunikasi politik, kekuasaan yang menjadi tembok membisu, menafikan segala 
bentuk keluhan dan protes, justru mematikan dialog! Protes yang disampaikan 
dengan teriakan demonstran itu sesungguhnya ekspresi untuk menyatakan bahwa 
penguasa sudah tidak mampu membaca suasana batin rakyatnya! Jika penguasa masih 
peka, bisa membaca suasana batin rakyat, pasti orang tidak perlu demo 
menyampaikan isi hatinya dengan berteriak-teriak!"

      "Kalau begitu percuma demo karena pasti tidak ditanggapi dan tidak bakal 
mengubah kebijakan?" timpal Ujang.

      "Sebaliknya!" tegas Ucok. "Makin tebal tembok kekuasaan, makin tidak bisa 
ditembus teriakan-teriakan demonstran, akan makin keras lagi teriakan protes! 
Sebab, dalam keadaan seperti itu, bukan teriakannya langsung yang sampai ke 
balik tembok kekuasaan, melainkan gemanya! Dan gema, hanya terjadi dengan suara 
yang cukup keras, makin keras teriakan makin keras pula gemanya! Dengan cara 
apa pun gema itu harus menjangkau balik tembok kekuasaan karena tanpa itu tidak 
ada komunikasi politik!"

      "Kenapa komunikasi politik jadi sepenting itu?" tanya Ujang.

      "Sebab, ketika the ruler putus komunikasi dengan the ruled, kekuasaan 
berubah jadi encapsulated authoritarian--kekuasaan yang terjebak dalam kapsul 
kemauannya saja!" tegas Ucok. "Jadi, makin tebal tembok kekuasaan menutup diri 
dari protes dan kritik, makin diperlukan usaha untuk menembusnya dengan 
komunikasi politik guna melepaskan kekuasaan dari jebakan terkurung dalam 
kapsul tersebut!"

      "Berarti demo dan aksi-aksi setelah keputusan tidak mungkin diubah, bukan 
lagi sekadar menyangkut substansi isu kenaikan harga BBM! Tapi, jauh lebih 
penting lagi, untuk menolong kekuasaan agar terlepas dari jebakan yang telah 
mengurungnya dalam kapsul ketakpedulian itu!" timpal Ujang. "Cuma bagaimana mau 
membantu membebaskan dari jebakan kapsul itu, kalau tembok kekuasaan makin 
tebal saja! Teriakan ramai-ramai saja tidak terdengar, apalagi suara hati 
rakyat!" 
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke