Refleksi:  Murah tanpa perlindungan hukum, diperas oleh calo-calo baik resmi 
maupun tidak resmi, tetapi digelar Pahlawan Devisa oleh pemerintah NKRI. Gelar 
ini tentunya paling penting bagi pemerintah Indonesia untuk menyulapi opini 
umum guna menutupi ketidakmampuan menciptakan sektor-sektor ekonomi yang dapat 
mengatasi pengangguran dan mengabsorvasi tenaga kerja yang bertambah tiap tahun.

Harian Analisa
Edisi Jumat, 6 Juni 2008

PRT Indonesia di Malaysia Paling Diminati dan Paling Murah 

Kuala Lumpur, (Analisa) 

Pembantu Indonesia di Malaysia paling diminati tapi juga gajinya paling murah 
sebesar 550 ringgit (Rp1,6 juta) per bulan, dibandingkan dengan pembantu asal 
Vietnam sebesar 750 ringgit (Rp2,1 juta) per bulan dan Pilipina 1.400 ringgit 
(Rp4 juta) per bulan. 

"Pemerintah Pilipina yang menentukan sendiri bahwa gaji pembantunya 1.400 
ringgit dan pemerintah Vietnam juga begitu. Mereka minta gaji pembantunya 750 
ringgit per bulan," kata General Manager Sri Nadin Sdn Bhd Fiona Low, kepada 
pers Indonesia, di Kuala Lumpur, Kamis. 

Ia mengatakan hal itu di sela-sela kunjungan Dubes RI untuk Malaysia Da'i 
Bachtiar ke Sri Nadin, salah satu pemasok PRT di Malaysia. Pemasok PRT ini 
memiliki tempat penampungan dan pelatihan yang boleh dikatakan bagus, mewah, 
dan bersih. 

Sri Nadin memasok PRT di Malaysia dari berbagai negara di antaranya Indonesia, 
Kamboja, Vietnam dan Pilipina, tapi peminat PRT asal Indonesia memang paling 
diminati. Ada sekitar 80 persen permintaan pembantu di Sri Nadin adalah 
pembantu asal Indonesia. 

Menurut dia, agensi di Malaysia tidak bisa apa-apa jika suatu pemerintahan 
menetapkan gaji minimumnya. "Kami terpaksa mengikutilah," tambah dia. 

"Pembantu Indonesia dikenal orang-orang yang ramah, kerjanya ulet dan kuat 
serta komunikasi mudah karena bahasanya sama dengan rakyat Malaysia. Oleh sebab 
itu, permintaannya sangat tinggi di Malaysia," kata Fiona. 

Pasokan pembantu di Sri Nadin ini sebagian besar dari Jawa Timur, sisanya dari 
Jawa Tengah, Lampung, dan NTT. 

Hal itu yang juga disesalkan oleh Presiden MTUC (Malaysian Trade Union 
Congress) Syed Shahir atas sikap pemerintah Indonesia. 

"Pemerintah Pilipina pada Desember 2006 menetapkan gaji pembantunya di Malaysia 
sebesar 1.400 ringgit per bulan. 'Take it or leave it' (mau ambil atau tidak 
terserah). Seharusnya pemerintah Indonesia juga harus tegas dan berani membela 
kepentingan pekerjanya," katanya. 

MTUC sendiri saat ini terus memperjuangkan gaji minimum di Malaysia sebesar 900 
ringgit per bulan. Beberapa kali digelar demontrasi dan unjuk rasa tapi 
tuntutan itu belum dipenuhi. 

"Jika kerajaan Malaysia mau menetapkan upah minimum sebesar 900 ringgit maka 
pekerja asing, termasuk Indonesia, akan ikut menikmatinya," katanya. 

Gaji pembantu Indonesia rata-rata berkisar antara 350 hingga 500 ringgit per 
bulan. Sedangkan menurut data imigrasi Malaysia, tahun 2007, ada 300.621 PRT 
asing bekerja di Malaysia dan 94,8 persen atau 294.115 orang merupakan PRT asal 
Indonesia. (Ant) 

Kirim email ke