Refleksi: Kalau Indonesia dibilang negara gagal, mungkin sekali ada yang marah, 
yaitu teristimewa Allah, karena dalam preamble konstitusi NKRI ditulis antara 
lain : "negara Indonesia didirikan atas berkat dan rahmat Allah". Orang 
berpikrian kritis nan sehat tentu akan bertanya-tanya: Koq berkatNya begini 
untuk rakyat miskin melarat? Selain itu para petinggi negera bukan saja tukang 
sulap dengan penipuan seolah-olah baru keluar dari lubang batu dan tidak tahu 
bermoral baik bin jujur lagi bengis.

 Harta kekayaan alam dalam konstitusi ditulis dipergunakan sebaik-baiknya untuk 
kesejahtaraan rakyat, tetapi apa nyatanya, harta kekayaan alam makin menipis 
menuju kehabisan, hutan-hutan gundul, sumber minyak dan gas alam dikeringkan 
dan rakyat tetap tidak sejahtera sekalipun sudah 63 tahun disebut merdeka. 
Mungkin saja merdeka yang dimaksudkan hanya untuk kelompak kecil, dan kesusahan 
untuk yang banyak orang. Lalu jalan keluarnya dari berbagai  problematika 
kehidupan dalam kemiskianan dan keterbelakangan ialah tetap mempertahankan 
mereka yang selama  duduk di kursi empuk kekuasaan dan mempertahankan NKRI? 

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/19/Editor/edit01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Negara Gagal dan Kebijakan "Kuda Sado" 
 

Tjahjo Kumolo 

Kebingungan melanda bangsa dan negara kita setelah insiden Monas, Jakarta, 1 
Juni 2008. Sebagian orang menduga itu aksi pengalihan isu oleh elite politik 
agar tekanan terhadap pemerintah karena kenaikan harga BBM bisa diredam. Entah 
apa yang sesungguhnya terjadi, pemerintah tentu harus mampu membuktikan dirinya 
bersih dalam kekerasan seperti ini. Artinya, harus ada penegakan hukum yang 
serius terhadap segala bentuk kekerasan dan pelaku kekerasan yang meresahkan 
seluruh anak bangsa. 

Saya tidak berbicara banyak soal kekerasan itu sendiri, tetapi lebih melihat 
pada fenomena umum bangsa dan negara kita yang sedang di ambang kehancuran. MT 
Zen (2008) pernah mengungkapkan bahwa Indonesia sedang melaju dengan deras ke 
arah "Negara Gagal". Lalu untuk menghindari kiamat sejarah itu, Zen menawarkan 
beberapa solusi. Pertama, Indonesia sudah harus mempunyai pemimpin baru: se- 
orang pemimpin yang tegas, jelas, dan keras, di mana perlu kejam, tetapi adil. 

Kedua, saat ini harus ada sense of emergency and sense of urgency, sehingga 
pemerintah yang mencoba menegakkan benang yang sudah basah ini sudah harus 
memerintah dengan dekrit. Ketiga, membenahi perekonomian nasional. Keempat, 
menghentikan korupsi besar-besaran dari pusat hingga daerah, dari yang 
tertinggi hingga ke yang terendah. Zen justru mengusulkan hukuman mati bagi 
para koruptor seperti halnya usulan banyak kalangan dari dulu. Dan kelima, 
menghentikan pertikaian horizontal antarkelompok dalam masyarakat. 

Saya mau memberikan beberapa penekanan pada apa yang sudah dijelaskan dengan 
cerdas oleh MT Zen. Keadaan bangsa yang kacau-balau di segala bidang harusnya 
menyadarkan pemerintah tentang perlunya tindakan tepat, cepat, darurat, bijak, 
dan adil untuk seluruh rakyat, terutama lapisan miskin. Dengan kata lain, kita 
membutuhkan pemimpin kuat yang tegas, jelas, dan keras. Pemerintahan Susilo 
Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla masih terlalu lamban dan kurang tegas. Dalam 
kebijakan kenaikan harga BBM sekarang saja mereka selalu memakai argumentasi 
pasar global. Jadi, kalau harga minyak di pasar global naik, maka di dalam 
negeri pun minyak harus naik. 

Lebih mengecewakan lagi apa yang dituduhkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla 
(JK) terhadap mahasiswa yang melakukan aksi protes terhadap kebijakan tersebut. 
JK menganggap para mahasiswa mendukung subsidi terhadap orang kaya. Para 
mahasiswa jelas benar karena mereka melihat dampak kelanjutan dari kenaikan 
harga BBM terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat. Kalau subsidi BBM itu 
sendiri memang lebih besar porsinya mengalir ke kelas sosial kaya, tetapi tidak 
boleh dilupakan, kenaikan harga BBM akan mendorong kenaikan harga kebutuhan 
rakyat. 

Pada aspek implikasi ini, kita akan menjumpai banyak sekali penderitaan yang 
bakal dialami rakyat akibat kenaikan harga BBM. Cukup mengherankan pemerintah 
tidak mempu melihat realitas kehidupan rakyat yang sudah sengsara, namun makin 
disengsarakan oleh kebijakan ini. 

Hal berikut yang penting dari gagasan MT Zen adalah soal perlunya pemerintah 
membenahi perekonomian nasional. Kalau pemerintah dari awal sudah menetapkan 
program pengembangan perekonomian nasional, tentu Indonesia sudah bisa bangkit 
dari krisis walau tidak harus secepat tetangga, seperti, Malaysia, Singapura, 
dan Thailand. Tapi, setidak-tidaknya Indonesia sudah bisa mencapai tahapan 
pemulihan. Keadaan yang berkembang justru terbalik, pengangguran dan kemiskinan 
masih tinggi. Dan yang paling ditakutkan, kemiskinan makin bertambah setelah 
kebijakan kenaikan harga BBM. 

Padahal, kalau ada kerangka pengembangan ekonomi nasional yang jelas, 
pemerintah bisa mengambil solusi lain selain menaikkan harga BBM, misalnya, 
menunda pembayaran pinjaman luar negeri, efisiensi impor-ekspor minyak mentah 
Indonesia, dan pengenaan pajak atas kenaikan harga minyak kepada perusahaan 
pemegang konsesi pengeboran. 

Selain itu, seharusnya pemerintah dapat menempuh sebagian dari usaha pemberian 
subsidi kepada yang berhak, serta mengenakan pajak progresif kepada pemilik 
kendaraan pribadi yang lebih dari satu dan menaikkan pajak kendaraan mewah. 
Lalu pemerintah juga harus mengubah RKP 2008 dan evaluasi RKP 2009. 

Model penyelesaian seperti itu masih jauh dari cara berpikir para ekonom yang 
mengelilingi SBY-JK. Dan ini amat disayangkan karena kalau kebijakan ini terus 
dipaksakan DPR sendiri akan terus melakukan penentangan atau resistensi bersama 
seluruh lapisan masyarakat sipil, termasuk mahasiswa, yang mendesak pembatalan 
kebijakan tersebut. 

Apa yang dituduhkan oleh Wapres Jusuf Kalla tidak hanya membuat mahasiswa 
kecewa, tetapi juga bisa menyesatkan publik secara luas. Kelompok masyarakat 
yang menganggap tuduhan itu benar, akan menilai mahasiswa melakukan aksi yang 
tidak adil dan tidak untuk kepentingan rakyat. Padahal, kalau dilihat dengan 
mata terbuka, apa yang diperjuangkan para mahasiswa adalah kepentingan rakyat 
jelata. Mereka mencemaskan nasib rakyat miskin yang akan semakin sengsara 
dengan meningkatnya biaya hidup. 


Kebijakan "Kuda Sado" 

Oleh karena itu, demi kepentingan rakyat dan seluruh bangsa, kebijakan kenaikan 
harga BBM harus dikritisi, didiskusikan kembali dengan DPR, dikaji ulang dampak 
dan risikonya, serta dicari solusi alternatifnya. Itu yang diharapkan, sehingga 
pemerintah tidak dengan gampang mengeluarkan kebijakan "kuda sado" yang dibuat 
atas dasar pola pikir satu arah. 

Pola pikir satu arah selalu menganggap apa yang dipikirkan itu benar. 
Pemerintah sering mengabaikan suara DPR karena merasa diri benar dan mampu 
mengatasi keadaan. Demikian yang terjadi dengan kebijakan kenaikan harga BBM 
sekarang. Padahal, realitas sosial, politik, dan ekonomi tidak dapat dipandang 
hanya dari satu arah. Realitas yang kompleks harus dipandang dari berbagai arah 
agar cara pandang dan kebijakan pemerintah pun tidak kaku, seperti, "kuda 
sado". 

Bahkan kalau pemerintah selalu memaksakan kebijakan satu arah, seperti itu, apa 
yang dibayangkan oleh MT Zen akan terjadi, yakni "Indonesia menjadi negara 
gagal", akan terwujud lebih awal daripada yang kita bayangkan. Kiranya 
kesadaran ini menjadi kekuatan yang menyatukan para fraksi politik di DPR untuk 
bersama-sama menentang rencana pemerintah menaikkan harga BBM. 


Penulis adalah Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR. Tulisan ini pandangan 
pribadi 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 19/6/08 

<<tjahyoku.gif>>

Kirim email ke