Refleksi: Bagaimana aset bangsa bisa dikuasai orang asing, kalau penguasa 
negera mulai dari bidang terendah sampai puncak tertinggi setinggi langit 
berada dalam tangan orang Indonesia "asli"?. Mengapa mereka tidak menjaga 
supaya tidak diambil alih oleh modal kapitalis raksasa nan asing?  Bukankah 
mereka yang menduduki badan legislatif dan eksekutif negara adalah pilihan 
rakyat?  Bukan saja sekali orang-orang yang sama dipilih, tetapi berulang kali 
untuk  terus menerus berkuasa, jadi jelas rakyat harus periksa diri sendiri 
tentang kealpaan dan kelihafan yang mereka lakukan dengan akibat menyusahkan 
diri sendiri.  Tentunya kalau apa yang mereka alami adalah akibat kealpaan dan 
kehilafan. 


http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=345774

Jumat, 20 Juni 2008,


Jangan Selalu Salahkan Rakyat


SURABAYA - Kedaulatan bangsa Indonesia yang selama ini digaungkan kini dinilai 
tidak lagi berbekas. Tinggal semboyan. Sebab, sebagian besar aset bangsa telah 
dikuasai orang asing. 

Penilaian itu kemarin (19/6) kembali dilontarkan mantan Ketua MPR M. Amien Rais 
dalam bedah buku Mari Selamatkan Indonesia dengan Mengutamakan Rakyat di Gedung 
Darmo Trade Center Lt V. Hadir sebagai pembicara, selain Amien, Mayjen TNI 
Saurip Kadi (mantan Aster KSAD) dan Liem Siok Lan (penulis buku Mengutamakan 
Rakyat, Wawancara Mayor Jenderal TNI Saurip Kadi).

Dalam diskusi yang diselenggarakan atas hasil kerja sama Persatuan Wartawan 
Indonesia (PWI) Jatim, INTI Jatim, Siddhi, dan toko buku Togamas itu, Amien 
kembali mengungkap hal-hal yang dinilainya makin bobrok di negeri ini. Menurut 
dia, Indonesia tidak lagi memiliki kedaulatan. Apa saja milik bangsa ini sudah 
dikuasai orang lain. "Apanya yang berdaulat?" katanya.

Pria kelahiran 1944 itu mencontohkan, 56 persen perbankan nasional dikuasai 
orang asing. Juga perusahaan telekomunikasi, satelit palapa, dan masih banyak 
lagi. Yang lebih parah, 44 BUMN kini dalam proses penjualan ke luar negeri. 
Bahkan, 49 persen dunia pendidikan dalam negeri diliteralisasi bangsa asing.

Menurut Amin, keterpurukan itu disebabkan oleh sikap pemerintah yang tidak 
tegas. Mantan ketua MPR itu mengatakan, sebenarnya pemerintah bisa mengatasi 
masalah itu jika memiliki kemauan. 

Dia mencontohkan sikap tegas Korea dan Malaysia yang langsung menolak 
kedatangan IMF ke negara tersebut. "Indonesia butuh lima tahun untuk bisa 
mengusirnya," kata pria lulusan Universitas Chicago itu.

Semua masyarakat mendambakan Indonesia menjadi bangsa yang mandiri, berdaulat, 
dan menggunakan SDM sendiri dalam berbagai bidang. "Bukan seperti sekarang yang 
hanya menjadi jongos," ucapnya.

Karena itulah, dia menuangkan buah pikirannya dalam buku yang berjudul Agenda 
Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia. Di akhir acara, Amien menyentil 
kepemimpinan SBY-Kalla. "Susilo Bambang Yudhoyono lan Jusuf Kalla sampun dumugi 
kemawon (kepemimpinannya disudahi, Red)," ucapnya. Menurut dia, bangsa ini 
selanjutnya akan dipimpin anak bangsa yang akan mengambil alih kekuasaan," 
katanya.

Sementara itu, Saurip Kadi mengatakan bahwa kerusakan bangsa ini sebenarnya 
terletak pada tingkat elite, bukan masyarakat secara umum. Sebab, mereka adalah 
pekerja ulet, bermental tangguh yang mampu membedakan mana yang benar dan 
salah. "Karena itulah, jangan selalu salahkan rakyat," ucapnya.(eko

Kirim email ke