Refleksi: Paling kuat untuk membentuk pemerintahan, tetapi  belum  tentu akan 
paling berarti untuk  perubahan mendasar dalam membawa keluar dari malapetaka 
keminskinan dan keterbelakangan yang menimpa masyarakat ke kehidupan memada 
yang sepatutnya bagi rakyat.

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=345776

Jumat, 20 Juni 2008,


Koalisi PDIP-PKS Paling Kuat


Tifatul: Visi Tak Sejalan, Mega Sudah di Atas 50 Tahun
JAKARTA - Meski jarang dipublikasikan, sejumlah partai politik kini mulai 
menghitung kekuatan koalisi pasca Pemilu 2009. Beberapa studi terakhir 
menemukan koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai 
Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi kekuatan paling ideal dalam membangun 
pemerintahan.

Hasil penelitian tersebut dikemukakan Presiden PKS Tifatul Sembiring dalam 
sebuah diskusi publik PKS dan Kepemimpinan Kaum Muda di Jakarta kemarin (19/6). 

Dia memaparkan, PKS menyadari bahwa pada 2009 belum mampu menjadi partai yang 
mendapat suara mayoritas (single majority). "Dan, riset terakhir, PDIP dan PKS 
paling kuat kalau membentuk koalisi," ujar Tifatul.

Sistem pemilu dengan multipartai sederhana seperti yang berlaku di Indonesia 
sekarang ini dinilai tidak mungkin menciptakan single majority. Menurut 
Tifatul, mozaik kebhinekaan kekuatan parpol sangat cair. "Indonesia tak lagi 
'kuning'," katanya. Parta-partai papan atas dan tengah saling berbagi kekuatan 
di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, Tifatul memprediksi, dalam Pemilu 
2009 tidak akan ada partai yang meraih suara di atas 25 persen.

Namun, visi PKS tentang calon presiden ideal di 2009 tak segaris dengan PDIP. 
Tifatul menegaskan, calon presiden ideal harus dari kalangan muda. "Kita butuh 
presiden balita, bawah lima puluh tahun," cetusnya. Pernyataan tersebut berbeda 
dengan keputusan PDIP yang akan kembali mengusung Megawati Soekarnoputri untuk 
bertarung pada Pemilu 2009.

Tifatul mengatakan, permasalahan yang dihadapi Indonesia sangat kompleks. 
Karena itu, seorang calon presiden harus mempunyai pemikiran segar dan matang 
untuk menemukan solusi atas kesulitan bangsa. "Dia harus tahu what dan how-nya. 
Yang pasti, permasalahan ini tidak bisa diatasi dengan iklan di TV, main film, 
dan nyanyi-nyanyi," sindir Tifatul.

Menanggapi pendapat Tifatul, Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) 
PDIP Budiman Sudjatmiko melihat peluang koalisi masih sangat terbuka. Menurut 
dia, sebuah koalisi yang kuat bisa terbangun atas dasar kesamaan visi. Karena 
itu, sebelum membentuk sebuah koalisi, partai politik harus berani membedah 
visi misi masing-masing. "Apakah program partai sesuai dengan ideologi partai," 
tambahnya.

Pengamat politik dari Universitas Paramadhina Yudhi Latief juga sepakat bahwa 
koalisi PDIP-PKS sangat ideal untuk membentuk pemerintahan. "Kalau dua partai 
ini bersekutu, saya rasa, bisa menyelesaikan semuanya," tandasnya. Meski 
ideologi kedua partai tersebut bertolak belakang, lanjut Yudhi, jika ditemukan 
formulasinya, justru bisa saling melengkapi.

Yudhi berpendapat, sebagai bagian dari mozaik sebuah bangsa partai politik 
boleh membawa bendera perjuangan ideologinya. Tapi, ketika sudah masuk pada 
tataran kepentingan bangsa, partai politik harus rela melepaskan ego 
kelompoknya. "PKS boleh membawa suara Islam. Tapi, ketika nanti menjadi 
penguasa, dia harus berbicara permasalahan nasional," katanya. (cak

Kirim email ke