http://www.gatra.com/artikel.php?id=116706
Lita BM Lantunan Korban Petrus Lita Lita Bathi Mulyono alias Lita BM, 25 tahun, mengaku tak menyangka, impiannya bermusik diapresiasi secara positif khalayak ramai, meski album perdananya, Tirai 83, baru diluncurkan. Perhelatan yang digelar di halaman parkir kantor Komnas HAM, Jakarta, itu, dihadiri sejumlah tokoh negeri ini, termasuk mereka yang pernah menjadi korban pelanggaran HAM di era Orde baru. "Saya tidak menyangka, seorang Lita `kecil` bisa berdiri di sini. Karena kalau mengingat yang dulu-dulu, saya merasakan penderitaan yang luar biasa. Dari kecil saya harus terpisah dari ayah saya, karena kebijakan pada saat itu," papar Lita, dengan nada haru. Wanita kelahiran Semarang ini bertutur, ayahnya melarikan diri, lima belas menit setelah Lita terlahir ke dunia ini. Bathi Mulyono, bapak Lita, menjadi buronan aparat yang melakukan operasi penembak misterius alias petrus --sebuah operasi pemulihan keamanan yang dilakukan rezim Orde Baru pada 1982-1984. "Hanya secarik kertas yang ditinggalkannya buat saya, tulisan nama Lita Handayani. Lita itu artinya cahaya, Handayani itu artinya kekuatan," ujarnya. Berstatus anak seorang buronan kala itu, Lita dijauhi teman-teman seusianya. "Banyak sekali stigma yang menempel pada diri saya, seperti bahwa saya anak buronan." Namun, lanjut Lita, life must goes on. Ia pun mengalihkan segala keresahan hati dan rasa rindu ayahnya pada musik. "Saya mengenal dunia menyanyi sejak SD. Saya merasa bakat talenta menyanyi itu berangkat dari situ. Dari `kelas kampung`, kemudian di depan kelas, sampai perhelatan yang tarafnya Piala Gubernur atau Piala Wali Kota," kenang Lita. Sepuluh tahun kemudian, Lita akhirnya bersua dengan Bathi. Namun di balik kepedihan selama kurun waktu tersebut, Lita merasa berhak mengacungi jempol pada sang ayah, yang menurutnya tetap mampu memberikan nafkah pada keluarganya, di persembunyiannya. "Saya sebenarnya tidak bisa menerima itu dengan akal sehat, tapi itulah perjuangan beliau, sehingga saya dan kakak-kakak saya bisa seperti sekarang," tuturnya. Pengalaman-pengalaman pahit tersebut, menurut Lita, dituangkan ke dalam lirik-lirik lagu, yang disuguhkan pada album perdana ini. Hampir seluruh lirik merupakan karya Bathi, yang saat saat pertama bertemu Lita, berbadan kurus, hitam, pucat, dan penuh dengan guratan-guratan keletihan. "Lirik-lirik lagu-lagu itu merupakan perwakilan dari para korban HAM. Yang merasakan bukan hanya saya, semua ini adalah gambaran dan perasaan korban HAM yang ditinggalkan." Tirai 83, kata Lita, merupakan album yang didedikasikan pada para korban penindasan HAM, yang menurutnya menjadi catatan sejarah bagi negeri ini. Sejarah bangsa ini, lanjutnya, harus kembali diungkap. "Mereka harus tahu sejarah yang sebenarnya. Karena saya yakin, kalau sejarah bangsa tidak diakui, itu akan berpretensi untuk terulang kembali," tegasnya. [EL]
<<91.jpg>>
