Tempo Edisi. 22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008 Mimpi Jadi Presiden
PEMILIHAN Presiden akan berlangsung sembilan bulan lagi, tapi syukurlah ternyata banyak yang merasa mampu memimpin negeri dengan sejuta masalah ini. Paling tidak sembilan orang sudah menyatakan siap bertanding, suatu jumlah yang bakal membuat perebutan jabatan presiden itu tak sepi kandidat. Banyaknya calon presiden bisa menjadi tanda kehidupan politik yang lebih dinamis. Yang menarik, sejumlah figur baru yang tampil merupakan tokoh yang bukan berasal dari partai politik. Kandidat seperti Soetrisno Bachir dan Wiranto serta Prabowo Subianto, yang sekarang memimpin partai, sesungguhnya belum terlalu lama bergelut dengan organisasi politik itu. Tapi ada kesamaan di antara mereka: menganggap rakyat Indonesia membutuhkan pemimpin baru pada 2009. Dan tentu saja mereka yakin, sejumlah kriteria pemimpin baru Indonesia itu ada dalam diri mereka. Mimpi menjadi presiden bukanlah dosa. Orang-orang besar banyak yang mengawali suksesnya dari sebuah mimpi. Soalnya tinggal "menjual" diri dan gagasan ke seantero negeri. Singkat kata, popularitas perlu didongkrak habis-habisan agar dikenal rakyat. Caranya, meminjam motto organisasi pendukung seorang kandidat, dengan melancarkan jurus kombinasi 3 M: money, media, momentum. Tak perlu kaget mendengar Soetrisno Bachir berani mengucurkan Rp 40 miliar sebulan demi proyek "salam kenal" itu. Pengusaha batik dan batu bara itu, bersama istrinya, nongol hampir tiap saat dalam iklan televisi. Ia perlu terbang ke Wina dan berbicara tentang bola beberapa menit kepada pemirsa stasiun televisi di sini sebelum pertandingan final Piala Eropa belum lama ini. Rizal Mallarangeng, bekas manajer kampanye Soetrisno yang akhirnya memilih turun gelanggang sendiri meninggalkan bosnya itu, memajang baliho besar di sejumlah tempat di Jakarta. Ratna Sarumpaet menjual saham dukungan untuk menggalang dana dan suara. Adapun Kivlan Zen, yang mengaku maju lantaran ketiban wangsit, dan mendapat wisik mengganti nama menjadi Sutiyogo demi mengejar akhiran "go" yang diyakininya bakal menjadi hoki, strateginya agak sulit diamati dengan mata telanjang.. Keampuhan strategi para calon itu kelak akan diuji. Walaupun Soetrisno Bachir merasa sudah dikenal separuh rakyat Indonesia berkat promosi luar biasa gencar, itu belum menjamin ia bakal berjaya. Soetrisno, juga yang lain, butuh dukungan partai, sebab itulah satu-satunya jalan masuk pencalonan presiden. Jalur calon presiden independen masih tertutup sampai sekarang. Masih ada syarat lain, partai yang mendukung perlu meraih jumlah suara tertentu dalam pemilu mendatang-bisa 15 atau 20 persen, akan ditentukan sebelum pemilu legislatif digelar. Artinya, belum ada satu pun calon yang otomatis lenggang-kangkung meraih tiket pencalonan presiden. Partai Amanat Nasional, yang hampir pasti menyokong Soetrisno Bachir, dalam pemilu kemarin hanya menggaet 6,4 persen suara. Partai Hati Nurani Rakyat dan Partai Gerakan Indonesia Raya, yang menjadi "kendaraan" Wiranto dan Prabowo, baru kali ini mengikuti pemilu. Rasanya terlampau sulit kedua partai itu menambang suara melebihi angka batas minimal pencalonan presiden. Ini bukan halangan serius. Di Indonesia, belakangan tumbuh gejala partai menjadi semacam bursa jual-beli. Mereka yang berani membayar mahal akan mendapat imbalan dukungan partai, tak peduli yang bayar itu "orang luar", tak jadi soal kalau harus menyisihkan kader tulen partai yang sudah "berdarah-darah" mendaki karier politik dari bawah. Partai barangkali menikmati "keuntungan" dalam jangka pendek, tapi basis partai akan rusak ditinggalkan konstituen yang kecewa. Sebagai wadah menyebarkan gagasan, partai akan melemah dan sebaliknya sang pemilik uang akan menguat. Dengan bantuan teknologi informasi dan media serta dana besar, sang kandidat lebih efektif mempengaruhi warga ketimbang partai politik. Lama-kelamaan, partai hanya diperlukan sekadar untuk memenuhi syarat formal pencalonan presiden. Barangkali gejala inilah yang disebut para ahli sebagai "personalisasi politik". Pencalonan pejabat publik, yang tadinya merupakan "wilayah kerja" partai, pelan tapi pasti, digantikan kepentingan "person"-terutama yang berduit. Pemilu 2009 merupakan ajang untuk menguji: kepentingan siapa yang akan menang. Tanpa bermaksud meremehkan kesungguhan para calon presiden ini, bolehlah tampilnya para tokoh ini diibaratkan kontes menyanyi Indonesian Idol. Di layar kaca mereka gilang-gemilang, cemelorot, mencorong, tapi kaset lagu yang terbanyak dibeli masyarakat tetaplah milik penyanyi non-kontes yang merayap dari bawah, menjajakan diri dari panggung ke panggung. Politik kita mungkin sudah kehilangan sifat bajiknya, kehilangan virtue, tapi rasanya belum kehilangan akal sehatnya
