Krisis energi dan krisis air Kenaikan harga minyak dunia melemparkan kita pada krisi energi. Dua kebijakan pemerintah yakni kenaikan harga BBM dan pemadaman listrik bergilir, merupakan hadiah yang bertolak belakang dengan keberadaan Indonesia sebagai penghasil minyak serta pemilik berbagai sumber energi alternatif. Kesimpulanya kita memang menjadi bangsa pemboros sumber daya.
Ketidakbecusan mengelola sumur minyak dan tambang lainya menjadikan kita kelimpungan menghadapi kenaikan harga minyak dunia. Tidak kalah penting pula begaimana kita begitu dungu dalam mengelola sumberdaya air. Penggundulan hutan dan bertambahnya lahan kritis menyumbangkan angka penurunan debit air yang mengalir dan dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik pada beberapa turbin tenaga air, seperti yang kita lihat di waduk Jatiluhur dan Cirata yang memanfaatkan air dari sungai Citarum. Selama ini yang didengungkan adalah kelangkaan batu barar berkaitan dengan byar petya listrik PLN. PLN jarang menyampaikan kurangnya debit air yang menyumbang angka penurunan kapasitas listril PLN. Seakan-akan kelangkaan air tidak terlalu dipermasalahkan olah PLN. Hal ini cukup mencurigakan. Namun dari informasi para aktivis lingkungan, kita mendapati bahwa PLN termasuk yang lemah dalam mengapresiasi kerusakan lingkungan di hulu dan daerah aliran sungai, sekalipun di sekitar waduk yang digunakan airnya. Sebagai BUMN yang memanfaatkan debit aliran sungai seyogyanya PLN memberikan perhatian memadai untuk ketersediaan air DAS nya, yakni dengan ikut serta menjaga dan memelihara kawasan DAS yang mulai gundul, melalui CSR (Corporate Social Responsibelity ) misalnya. Kesimpulan kita sementara ini memang PLN perlu disorot dan diaudit. Karena telah gagal memenuhi amanat pokoknya, yakni menyediakan pasokan lisstrik yang memadai bagi warga dan kepentingan pembangunan lainya. Dari lemahnya apresiasi terhadap kelestarian lingkungan untuk kebutuhan dirinya saja kita lihat PLN memang perlu dipertanyakan keberadan dan kiprahnya. Kaka Suminta 085 2222 771 22
